
POV Eliza
Aku menariknya ke dalam kamar dan memasang wajah emosi, melipat tanganku depan dada dan bersiap memarahinya. Tapi sebelum aku bicara dan mengeluarkan emosiku dia duluan yang megangkat tangannya dan bicara.
"Tunggu-tunggu dulu, jangan marah, aku tidak merencanakan ini oke, kau jangan salah paham. Aku jelas-jelas mengatakan pada Mama kita perlu dua kamar. Aku buktikan padamu ..." Dia mengambil ponsel dari kantong jeansnya dan memperlihatkannya chat nya dengan mamanya padaku.
Aku yang dari tadi sudah ingin menghajarnya tak bisa menerima begitu saja.
"Kau banyak alasan! Sekarang kau tidur di sofa! Aku tak perduli!"
"Fine...aku tidur di luar saja oke, kau tidur disini. Jangan marah oke."
"Kenapa kau harus tidur diluar! Apa yang Ibumu katakan jika aku menyuruh anaknya tidur diluar?!" Aku tambah marah padanya.
"Kau lihat sofa itu, itu cuma satu meter, bagaimana aku bisa melipat diriku disana." Dia menunjuk sofa satu-satunya di ruangan kami.
"Aku tak mau tahu, kau tidur disana. Di lantai dengan selimut. Ini kesalahanmu sendiri." Aku tetap menudingnya dan tak mau mengalah karena dia sendiri yang mengatakan dan menjamin bahwa kami akan tidur di kamar sendiri sendiri.
"Baiklah...baiklah, kau menang. Apapun yang kau inginkan." Dia menyerah berdebat denganku. Dan mundur duduk ke sofa. "Aku tidur disini seperti yang kau inginkan."
Dia tak membantahku dan duduk di sofa tanpa protes lebih jauh. Aku melihat sekeliling kamar, bed itu memang king size. Tapi tetap saja itu hanya satu jangkauan lengan jauhnya. Tidur dengan oven itu terlalu berbahaya, bagaimana jika malam-malam dia teringat sugar babynya dan memutuskan menjadikan aku sugar babynya secara mendadak.
Aku membuka koperku, mengambil celana panjang katun untuk tidur dan kaus lengan panjangku. Dan berjalan ke kamar mandi tidak memperdulikannya.
"Aku ke kamar mandi duluan. Kau belakangan."
"Tentu." Dia tidak protes apapun sekarang karena dia memang salah.
Dari pagi cukup dingin suhu hanya berkisar 8-15°C di sini pada musim dingin, walaupun tak ada salju disini. Walaupun mereka punya pemanas ruangan tentu saja. Di Italia demi penghematan energi, wilayah kota dan komplek gedung residential di zona tertentu harus memperoleh izin dari walikota untuk menyalakan pemanas central.
Aku berpikir apa yang dikatakannya saat makan malam tadi. Dia berani mengatakan padaku untuk mengiyakan aku akan kembali ke sini. Apa maksudnya, atau dia hanya akan mengatakan itu demi menenangkan Ibunya.
Aku tak tahu apa maksudnya dia mengatakan itu. Dan aku tak mau memikirkannya sekarang. Aku hanya ingin fokus ke restoran mensupport keluargaku. Jika dia ingin aku menjadi kekasihnya dia harus mengatakannya dengan bukti sejelas-jelasnya. Lamaran pernikahan! Karena aku tak mau jadi sugar babynya walaupun dia sangat baik. Teman akan tetap teman. Tidak akan ada yang lewat!
Aku keluar kemudian, melihatnya sudah membuka lemari, rupanya ini memang kamarnya. Dia punya baju tidur disini.
"Giliranku, kau sudah selesai?" Dia tetap dengan nadanya yang biasa tampaknya tak terpengaruh aku yang memarahinya tadi.
"Sudah."
Terpaksa malam ini dan dua malam berikutnya harus sekamar dengannya. Tapi kurasa dia tak akan melalukan apapun. Dia cukup tahu diri...
Aku melihatnya keluar sudah dengan baju panjang abu-abu dan celana panjang warna senada. Tubuh atletisnya tercetak disana. Tapi dia tetap kembali ke sofa sementara aku sudah bergelung dalam selimut.
"Iya. Tak apa, ini hanya dua hari. Aku bisa tidur dimana saja. Aku tak akan mengatakan apapun pada Mama." Dia tersenyum kecil padaku.
Aku diam merenungkan. Tampaknya ini memang bukan dia yang merencanakan, tapi dia bersedia menanggung akibatnya.
"Apa yang lain juga akan tinggal sampai Minggu sore?"
"Biasanya iya, mungkin Paman atau Bibi yang lain akan tinggal lebih lama. Tapi anak-anak muda biasanya akan kembali ke tempat pekerjaan mereka di awal pekan."
"Mereka sangat ramah padaku." Aku tersenyum mengingat pertemuan pertamaku dengan keluarga Bova. Nampaknya mereka bukan tipe keluarga yang banyak drama walaupun mereka keluarga berada.
"Ibu sangat menyukaimu..." Dia tersenyum padaku. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun sekarang.
"Itu karena kau tak pernah memberinya pilihan." Dia tahu kebenaran kata-kataku tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
"Ya kurasa kau benar."
Sudah lewat jam 1, aku tahu dia tak bisa tidur di sofa tanggung itu. Setiap orang butuh istirahat yang baik saat liburan. Aku menguap karena mengantuk.
"Tidurlah disini... bed ini cukup besar. Kau tahu apa yang tak boleh dilakukan. Awas jika kau macam-macam."
"Maksudmu aku boleh tidur disampingmu?"
"Aku tak sekejam itu membiarkan kau terlipat di sofa itu." Dia bersedia membiarkanku bertemu Ayah dan merubah jadwal penerbangan kami. Setidaknya kali ini aku mengampuninya.
Dia tersenyum. Dia langsung pindah ke sampingku dengan senyum lebar. Don Juan dengan baju tidurnya, tidak aku tak akan tergoda karena tergoda dengannya berarti masalah. Oven hangat musim dingin ini berbahaya.
"Kenapa kau tersenyum? Tidak berarti kau diizinkan menyentuhku sehelai rambutpun, awas kau melewati garis tengah ini..."
"Kau sangat baik Vanilla, kau aman bersamaku." Aku tak yakin apa arti perkataan "amannya" itu sekarang.
"Kau akan menyesal jika mencoba macam-macam dengan kata aman." Kutaruh satu bantal memisahkan kami. Dia meringis lebar.
"Penakut sekali, jangan sampai kau yang memelukku karena kedinginan nanti."
"Aku tak akan memelukmu. Jangan bermimpi terlalu jauh..." Sampai sekarang dia memang sopan, dia tak berusaha menyentuhku dengan sengaja.
"Selamat malam Vanilla."
"Berhentilah memanggilku Vanilla. Aku bukan kue. Selamat malam." Dia tertawa dan tersenyum bahagia, bertopang kepala melihatku. Astaga Don Juan ini memang terlalu tampan jika dilihat dari dekat.
Aku membalikkan badan, tak berani menatapnya lagi. Mencoba tidur, mataku sudah berat, aku lelah, malam sebelumnya aku kurang tidur. Anggap saja dia pengawal di rumah yang sedang berjaga.