The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 51. Ryohei Matsumoto 6



"Ryohei-san mengatakan padaku dia ingin menjadi danna-ku." Aku berbisik padanya.


"Astaga, benarkah? Astaga? Tapi kau tak bisa... "


"Aku tahu Bibi, aku masih punya perjanjian dengan Hisao-san. Tapi dia bersedia menunggu sampai musim semi tahun depan."


"Dia bersedia menunggu sampai tahun depan!?" Bibi sama terkejutnya dengan aku. "Dia baik sekali padamu... Astaga, kau akan mendapat danna lagi? Kau harus berhati-hati dengan ini Setsuko. Kau masih terikat perjanjian khusus. Hisao-san itu, apa dia tidak pernah punya tendensi apa-apa denganmu selama ini?"


"Tidak, kau tahu Bibi, wanitanya sangat banyak..." Aku bercerita apa yang kuketahui.


"Hmm... benarkah? Tapi kau harus berhati-hati Setsuko, takutnya dia tersinggung, orang bisnis mungkin saling mengenal satu sama lain. Jika Hisao-san tahu ini tidak akan baik..."


"Aku tahu Bibi. Tidak dia tidak akan tahu pertemanan pribadiku.


"Aku harap begitu. Jangan sampai mereka saling tahu satu sama lain, walaupun mungkin kau juga harus bersikap baik kepada Ryohei-san, jika Hsiao akan ada masalah."


\=\=\=\=\=\=\=


Dan Jumat ini aku berada di Tokyo akhirnya. Dia mengundangku makan malam bersama Ryohei-san di sebuah restauran di Tokyo.


"Kau tinggal di apartmentmu di Meguro?"


"Iya, aku tinggal disana."


"Boleh aku mampir." Aku melihatnya, Bibi sudah memperingatkanku soal yang satu ini. Aku tak bisa menyerahkan apapun. Aku menurut saja nasihatnya, selama ini dia yang membimbing dan menjagaku. Kakakku juga mengatakan hal yang sama, aku tak boleh melanggar aturan, harus mencari alasan yang halus agar tak menyinggungnya.


Bagi kami perjanjian danna itu seperti suami-istri. Sekali namaku tercoreng didepan dannaku akan tercoreng selamanya. Apalagi jika Hisao marah dan memutuskan sepihak.


"Ryohei-san... ini... kau tahu, aku tidak bisa, disana ada assiten okiya juga, assisten itu selalu melapor ke Bibi. Aku benar-benar minta maaf." Dia menghela napas sekarang. "Apa sekarang Ryohei-san marah padaku?" Aku terpaksa harus memanfaatkan rasa belas kasihannya, jika dia memang ingin menungguku aku akan mendapatkannya tapi jika tidak mungkin aku tak beruntung.


Tapi reputasiku harus tetap tak ternoda.


"Sudahlah, aku tahu kau orang yang tak akan menodai reputasimu. Aku mengerti prinsipmu, kadang menunggu itu harus."


"Ryohei-san sangat baik. Terima kasih mau mengerti soal ini." Aku menghargai pengertiannya sekarang. Bicara dengan orang yang lebih dewasa memang lebih mudah.


"Ryohei-san, tak kusangka bertemu kau disini." Hisao-san yang menyapanya sekarang. Suaranya benar-benar membuat hatiku tak enak. Dua orang ini mengenal satu sama lain. Aku benar-benar tertangkap basah sekarang. Hisao tak akan suka ini.



"Hisao-san, aku juga tak menyangka bertemu denganmu disini. Aku sedang makan malam dengan Setsuko, apa kau mau bergabung?"


"Tidak, terima kasih." Balasan Hisao-san pendek. Apakah dua orang ini saling tidak menyukai, ini lebih tidak baik lagi.


"Aku mengajak Setsuko-san makan malam, rupanya kau mengenalnya juga." Ryohei-san ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut, dan sepertinya dia sudah membuat dugaan soal hubungan kami.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia ke Tokyo untuk mendampingiku secara khusus." Dan sekarang Ryohei-san sudah tahu semuanya. Dia menatapku sebelum kembali lagi ke Hisao. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang.


"Aku kebetulan bertemu dengannya tadi dan mengajaknya untuk makan malam. Aku sering bertemu dia di Gion dan beberapa kali juga meminta bantuannya di acara perusahaan. Rupanya kau juga dekat dengan Setsuko-san." Ryohei-san mencoba meredakan tensi walaupun mereka tak saling menyukai.


Hisao yang sekarang menatapku kembali.


"Iya, aku memang dekat dengannya." Dia kembali padaku. "Aku menunggumu di rumahku besok Setsuko." Dia pasti akan melakukan interogasi besok.


"Baik, Hisao-san." Hisao melakukan bungkukan pendek pada Ryohei. "Saya akan pergi, sihlakan lanjutkan makan malam Anda." Dia beranjak pergi meninggalkan kami berdua, untungnya tak ada keributan.


"Hisao Yamada? Orang yang berani membayarmu dia. Aku benar-benar tak akan berpikir ke situ. Tenanglah, katakan saja kita hanya kebetulan bertemu." Dia tertawa kecil tapi tak tersinggung.


"Anda berdua nampaknya tidak punya hubunga yang baik."


"Hmm...sebenarnya memang tidak. Mungkin bisa dikatakan rival. Tapi seperti yang kau katakan, ini hari liburmu. Aku sudah menjelaskan kita kebetulan bertemu, kalian tidak punya hubungan pribadi...Harusnya kau tak kena masalah. Kecuali... dia juga menyukaimu."


"Dia punya banyak wanita disampingnya, dia hanya butuh pendamping..." Ryohei tersenyum padaku.


"Setsuko-san, banyak wanita cantik yang mengejar kami di posisi kami yang sekarang. Tapi kau mungkin harus tahu menyukai itu berbeda..."


Tapi kurasa Hisao-san tidak menyukaiku. Apa aku salah?