
“Hmm, hotel sudah berjalan. Saatnya membuka jaringan baru yang lebih menguntungkan.” Hiro Yamasaki, Ayah Kimiko memberikan alasannya. Apa dia tak merasakan penurunan bisnisnya sendiri, tampaknya bisnis baru lebih menarik bagi keluarga ini, tapi sekali lagi bukan urusanku.
Aku melihat Kimiko, dia diam saja sejak tadi. Sebenarnya aku juga kasihan padanya, tapi dia tak bisa diajak kerjasama. Mungkin penolakanku nanti juga menyelamatkannya. Atau menjadikannya lebih berada dalam tekanan. Gadis cantik itu tampak tak berselera makan.
“Ah, Hisao, kau dan Kimiko tinggal berdekatan, apa kalian tidak pernah bertukar pikiran tentang bisnis.”
“Aku di bidang berbeda Bibi, Yukio yang memegang bisnis hotel. Tapi aku dengar Yukio kemarin mendapatkan kontrak besar untuk sakura Matsuri, tapi sayang sekali kami tak bisa mengajak Jun karena buruknya riview kalian di beberapa site. Kurasa Yukio menyebutkan di fokus masih di Kyoto dan Kobe, Tokyo masih bagus, tapi kau tahu fokus kita di Kyoto untuk Sakura Matsuri...”
“Hmm...aku juga mendengar itu dari Yukio, kau sepertinya harus sedikit melihat ini Hiro-san. Sebelum semuanya terlambat, sayang sekali reputasi yang sudah kau bangun. Maaf aku sudah menyerahkan keputusan pengelolaan ke anakku. Ini proyek besar kami pertama untuk pemerintah semuanya harus sempurna.” Tanpa diduga Ayah mengambil keputusan mendukungku. Dan mendorong keluarga Yamasaki ke samping.
Tampaknya itu bukan apa-apa hanya pembicaraan bisnis biasa, terdengar seperti saran, tapi sindiran halus tentang ketidakmampuan memperhatikan bisnis sendiri itu adalah sebenarnya sindiran besar. Ternyata saat dia mendengar Yamasaki terlibat dan lebih fokus di Kabuchiko nampaknya Ayah sudah menetapkan sesuatu.
“Ohh ya, deal pemerintah untuk Sakura Matsuri? Hmm proyek pemerintah biasanya margin keuntungannya tidak terlalu besar. Tapi memang bagus untuk promosi.” Keuntungan pengelolaan club di Kabuchiko nampaknya lebih berlimpah.
“Benarkah, entahlah. Mungkin juga,... kau yang jelas lebih berpengalaman dari kami di bisnis ini.” Ayah tersenyum, tapi dia jelas tidak menyukainya.
“Ahh sudahlah, kita akan mengajak anak-anak makan malam untuk mendekatkan mereka, jangan membicarakan bisnis saja.” Ibu Kimiko menengahi pembicaraan. “Kalian berdua tinggal ditempat yang berdekatan, Kimiko senang memasak, dia bilang senang berbagi denganmu, apa kau menyukainya.”
“Tidak apa-apa Hisao-san. Aku senang kau menyukainya.” Dan pembicaraan formal diantara kami hanya untuk basa-basi dimeja makan ini.
“Musim dingin ini apa kalian mau berlibur ke onsen kami yang baru dibuka di Gunma, bagaimana kalau aku mengundang kalian semua kesana.”
“Michiko, kau baik sekali. Coba aku pertimbangkan nanti dengan jadwal mereka. Terima kasih banyak.”Sekarang Ibu memberi janji palsu ke mereka.Jika dia ingin aku ikut pasti dia langsung mengatakannya di meja makan ini. Nampaknya Ibu memang mulai berubah. Aku sepertinya hanya menunggu waktu yang tepat sekarang.
“Ahh iya, Hisao, jika kau ikut Kimiko juga pasti bersedia ikut.”
“Baik Bibi, saya akan berupaya melihat bagaimana jadwal pekerjaan saya. Belakangan saya harus melakukan banyak kunjungan ke pelangan.” Aku sekarang hanya memainkan peranku sebagai Tuan rumah yang baik di makan malam ini.
“Kimiko, nanti ingatkan Hisao supaya dia bisa meluangkan waktu. Jangan terus bekerja sepanjang waktu. Nikmati waktu kalian. Benar Hisao?” Sang Ibu yang terlalu berusaha sekarang.
“Iya Bibi, saya akan berusaha.”