
“Ibu, jika kau tak percaya padaku, kau boleh menyelidiki sendiri apa semua yang kukatakan padamu kebenaran atau hanya rekayasaku. Aku hanya ingin kau tahu siapa keluarga Yamazaki, mereka tak setulus pikiranmu. Yang mereka lakukan hanya memanfaatkanmu. Tenang saja aku tidak akan mempermalukanmu di depan keluarga Yamasaki Ibu. Mereka mau datang makan malam, aku tetap akan bersikap sopan.”
Ibuku menghela napas panjang.
“Baiklah, Ibu akan selidiki semua yang kau katakan. Tapi untuk malam ini kita akan makan malam dengan baik karena Ibu yang mengundang mereka. Terimakasih untuk pengertianmu. Ibu sebenarnya mengkhawatirkanmu, Ibu merasa bersalah padamu sejak dua tahun yang lalu, kau harusnya sudah berkeluarga, tapi ternyata karena kesalahan Ibu kau malah jadi belum kemana-mana.”
“Aku tak pernah menyalahkan Ibu, keberuntunganku yang kurang bagus. Tapi mungkin memang belum waktuku saja. Tapi aku selalu percaya Ibu menyayangiku.” Aku merangkulnya untuk membuatnya senang. Setidaknya dia selalu memikirkan kebahagiaan kami anak-anaknya. Walaupun tak semua pikiran kami sejalan.
“Kau ini selalu tahu cara memuji Ibumu, dasar anak licik. Siapa yang mengajarimu?” Aku tertawa.
“Kau yang mengajariku Ibu. Siapa lagi...” Dia tersenyum tapi sekarang pikirannya menerawang, aku tahu dia belum bisa menerima sepenuhnya yang kukatakan padanya. Tapi pada akhirnya dia akan tahu kalau aku tak berbohong padanya.
Jadi sore itu keluarga Yamasaki datang. Ayah juga ikut dalam makan malam. Ibu dan Ayah Kimiko serta putrinya datang ke rumah petang itu, dan aku seperti biasa mengikuti Ayah dan Ibu menyambut mereka.
“Hmm putra tertuaku Jun melakukannya, sudah sekitar delapan tahun ini dia yang memegang.”
“Ohhh hmm, anakku Yukio bilang dia jarang melihat Jun disini, malah diurus oleh wakil direktur yang lain.”
“Ohh Jun, aku sering melihatnya di Tokyo. Dia mengakuisisi beberapa klub di Kabuchiko.” Aku spesifik menyebutkan Kabuchiko- Shinjuku. Salah satu daerah Red District di Tokyo. Ibu sampai berhenti makan. Dia melihatku dengan tidak percaya.
“Oh ya? Kabuchiko.” Walaupun kami tidak asing dengan bisnis red light yang diatur oleh kaki tangan keluarga. Khususnya sebagian besar masih berada di bawah pengawasan diam-diam Paman Ketiga. Tapi keluarga utama sudah sepenuhnya cuci tangan, membiarkan bisnis itu dikuasai mereka yang berada di bawah klan dan semua anggota keluarga utama sekarang fokus ke bisnis yang lebih terlihat bersih. Bisnis seperti itu walaupun hasilnya besar kurang mendapat tempat yang baik lagi di pandangan masyarakat sekarang. Kami berusaha hanya terlibat di belakang dan tidak pernah menyentuh kebijakan langsung. Tapi keluarga yang ini nampaknya baru mau coba-coba terlibat dan langsung tergiur dengan hasilnya. Pantas saja malah bisnis utamanya tidak terurus dengan baik.
“Hmm... bisnis itu memang hasilnya besar.” Ayah menyetujui, tapi dia sekarang juga tahu kenapa Yukio bilang bisnis hotel keluarga Yamazaki di Kyoto,Osaka dua kota utama pariwisata Jepang tidak terurus. Mereka malah mundur ke bisnis hiburan yang menghasilkan uang cepat di Shinjuku.
“Bukankah lebih baik fokus ke bisnis Hotel. Itu sudah bisnis utama kalian...” Ayah kelihatan biasa saja tapi Ibu nampaknya tak percaya Yamasaki bisa masuk ke Shinjuku. Dia menyangka Yamasaki itu terlalu ‘mulia’ untuk terlibat bisnis seperti itu. Tapi nampaknya uang berbicara sekarang. Dan Yamasaki bukan lagi keluarga bersih yang memegang moral dan kebanggaannya. Mereka juga manusia biasa seperti kami. Uang berkuasa ...