The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 33. Investigation 2



“Guilio, kau baik-baik saja?”  Monica melihatku hanya memandang cucciaku. “Kenapa kau diam begitu? Ada yang salah dengan cuccianya?”


“Tidak,...” Dia meneliti ekspresiku. Aku menyandar kekursi, melihat kebun anggur menguning yang  sebagian daunnya sudah jatuh ketanah.


“Sejak kau menjalani selibat ini kau jadi  aneh. Aku jadi takut kau kenapa-kenapa.”



“Hmm...mungkin kau benar. Aku memang aneh.” Sekarang dia pindah duduk di dekatku. Aku merasa lega sekarang, dia pindah duduk saja aku gembira .


“Guilio,  kau yakin kau baik-baik saja?”


“Aku baik, aku hanya merasa belakangan aku jarang melihat Catania. Harusnya aku lebih meluangkan waktuku  untuk kembali kesini.”


“Bukannya biasanya kau Natal dan Tahun baru selalu disini.”


“Iya, kantor akan segera libur aku akan kembali kesini minimal dua mingguan sampai awal tahun, aku ingat tahun lalu aku melewatkan Natal di Paris, aku merasa tersesat tak kembali ke rumah.”


“Kalau begitu kembalilah tahun ini, Zia pasti senang melihatmu kembali ke rumah.” Dia menepuk bahuku. “Makanlah, ... kenapa kau sangat aneh belakangan ini.”


Ku harus memisahkannya dari Bova.


“Sementara aku disini dan pekerja belum libur Natal. Kubawa kau ke winery oke, mereka masih berburu waktu memproses untuk penyulingan di tahun yang baru. Kau bisa melihat, adikku akan memberimu chartnya, kau bisa  tahu apa saja yang harus kau tahu, jika kau memasuki pasar ekspor kau harus tahu standart quality yang harus kau capai.”


Tiga minggu tak mungkin berjalan terlalu jauh, Monica bukan  wanita yang jatuh  dengan begitu cepat, aku harus memperbaiki reputasiku didepannya, itu perlu jika aku mengatakan sesuatu padanya sekarang, seperti Setsuko bilang dia akan langsung menendangku, Bova menang dengan mudah. Tak akan kubiarkan hal ini merusak peluangku.


“Kau kembali ke Napoli saat Natal Tuan Bova?”


“Iya, Paman menyuruh kami berkumpul setiap Natal. Jika aku bilang aku punya partner Benetti tahun ini dia pasti surprise... Kapan-kapan berkunjunglah ke Napoli, Pamanku pasti akan senang bertemu denganmu. Kami punya winery di Macchia tapi belum orientasi ekspor hanya pasar regional, jika kau ingin memperluas variety ekspormu kami akan sangat senang bisa bekerja sama.” Hmm ... Baiklah, ternyata keluarga Bova juga punya winery, tapi bukan Fabian yang mengelolanya.



“Jika aku punya kesempatan. Aku pasti akan datang...” Aku akan mencoba mencari titik lemah pria ini.


“Aku menunggu jika begitu. Telepon saja aku.”


“Aku tak sabar membotolkan anggur pertamaku. Aku gembira sekali belakangan ini.” Aku melihatnya tersenyum, selama ini menganggapku teman, apa benar tak sekalipun dia pernah tertarik padaku. Sedikitpun?


Bukan aku sombong, tapi aku yakin bisa mendapatkan siapapun yang kumau. Tapi kemudian itu berkembang jadi bumerang bagiku. Dia tahu semua yang kulakukan, list pacarku, apa yang kupikirkan dan dia menganggapku bastardo  absolute.


Aku harus berusaha entah bagaimana caranya. Aku buntu, aku tak bisa hidup tanpanya sekarang. Dia memegang masa depanku.


Tak kusangka aku akan mengucapkan ini kepada seseorang.


Monica, non posso  vivere senza di te... (Aku tak bisa hidup tanpamu.)