
"Amore mio (Cintaku), aku tak akan pernah melepaskanmu lagi." Tiba-tiba dia mengatakan itu ditengah lagu yang dimainkan, ditengah dansa kami. Lagu yang bercerita tentang seorang teman yang merasa beruntung bisa jatun cinta dengan sahabatnya.
Though the breezes through the trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now
"Memang hanya kau yang kulihat sekarang." Dia seperti memanggapi bait lagunya, dan mengatakan apa yang ada dipikirannya padaku. Sekujur tubuhku merinding mendengarnya.
"Amore mio.Ti amo....(My love.. I love you)." Dan ketika aku terkunci saja pada matanya, bibirnya menyentuhku dan dia menarikku mendekat padanya. Bernapas didekatnya adalah hal yang tak biasa, merasakan bibirnya, bertahun-tahun aku memasang pertahanan dan menampik pesona dan tak pernah memimpikan tentang Casanova ini. Tapi sekarang bagaimana aku bisa menampik pesonanya, saat dia terang-terangan menggodaku.
Berilah kesempatan padanya Monica. Aku ingat pesan Mamma padaku. Mendengar dia mengucapkan cinta padaku mungkin tak ada dimimpi terliarku. Tapi bisakah aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya...
"Maafkan aku menciummu tanpa izinmu, aku hanya terlalu emosional dengan lagu ini, semua kata-katanya adalah hal yang ingin kukatakan untukmu. Aku merasa beruntung bisa merasa kembali kerumah bersamamu. Jangan lempar aku ke paus kumohon..."
Aku tersenyum dan wajahku terasa panas ketika dia meminta izin. Aku ingin melemparnya ke paus seperti biasanya, aku senang bisa menyiksa temanku yang tampan ini. Bisa bersikap jujur dan apa adanya padanya sementara yang lain harus menahan diri dan menjaga image didepannya adalah sebuah privilege.
"Jangan marah padaku." Aku berusaha mengapainya sekarang, ketika dia menghindar memandangku di meja kami.
Aku hanya menggeleng kecil dan membiarkan kami tetap berdansa malam itu. Jantungku berdebar begitu saja sekarang. Aku menghindari menatapnya, aku ingin melakukannya, tapi setiap melakukannya aku tak bisa tak tersipu malu.
"Tidak, aku tidak marah." Aku hanya tak bisa menatapmu terlalu lama, karena jantungku terlalu lemah sekarang dan bibirku terasa lelah untuk menyembunyikan senyum bahagiaku.
Dia berusaha sepanjang malam itu, membuat pembicaraan kecil yang nyaman. Aku tak berani bersikap mesra padanya, walaupun aku tahu dia akan senang hati menerimanya bahkan mengharapkannya.
Kembang api tahun baru berpendar kemudian berpendar diatas bibir pantai itu. Seperti biasa aku selalu menyukai pendarannya. Kali ini di belakangku ada Guilio.
"Apakah dingin..." Aku tahu itu hanya akal-akalannya untuk memeluk pinggangku.Tapi aku menikmatinya dengan mengulum senyumku.
"Sedikit..." Kata itu dianggapnya adalah persetujuan untuk memelukku lebih dekat.
"Guilio, kau serius tentang ini."
"Apa hal memalukan membawa orang tua kita ke liburan ini belum cukup serius untukmu." Pelukannya lebih erat sambil berbisik padaku. Aku merinding saat dagunya tak sengaja menyentuh leherku.
"Jika kau berani memacari gadis lain akan kuadukan kau ke Zia, ..."
"Jadi kau menerimaku?"
"Belum..." Aku tertawa.
"Kenapa kau senang sekali menyiksaku, apa ini belum cukup buatmu."
"Itu membuatku senang."
"Monica, apa yang kau inginkan. Katakan padaku..."
"Kembalilah padaku setiap akhir minggu. Pulanglah kerumah, buat aku merindukan kepulanganmu ke Catania. Boleh aku meminta itu..."
"Tentu saja... Sudah kukatakan akhir pekan aku akan selalu kembali padamu." Aku tersenyum melihatnya. "Aku berjanji, akan selalu kembali ke rumah Cara Mio. Aku berjanji tahun-tahun yang akan datang kita akan merayakan tahun baru bersama untuk seterusnya. Tak hanya aku akan kembali saat akhir pekan."
"Apa memang kau semanis ini." Rasanya kata-katanya terlalu berat untuk ditanggung dan dipercaya sehingga membuatku takut.
"Aku memang manis." Aku tertawa, saat dia memelukku erat.
"Happy New Year cara mio, kau membuat tahun baru ini menjadi yang terindah untukku."
"Happy New Year Guilio."
Pendaran kembang api tahun baru ini terasa berbeda. Karena sahabatku berjanji menemaniku di tahun-tahun berikutnya.
Apakah akan berbeda mulai sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kembang api telah berlalu, kemeriahannya masih terasa. Aku bangun pagi dengan masih mengantuk. Tapi ini sudah lewat jam 9.
Penerbangan kami ke La Palmas, pulau lain di sebelah Tenerife jam 1, aku harus tetap bangun.
"Cara, ada lagi yang ingin kau lakukan disini?"
"Hmm tidak kurasa aku ingin bertemu Ibu saja, melihat apa dia bahagia." Guilio tertawa.
"Mereka baik-baik saja." Kenapa kau harus mengkhawatirkan mereka.
"Kupikir aku salah ternyata memang kau." Suara yang kukenal bicara disampingku. Ternyata Raoul dengan dua wanita cantik disampingnya.
"Guilio Berutti, kejutan melihatmu disini dengan Monica. Jadi rupanya temanmu sendiri kau pacari sekarang. Dimana gadis-gadis cantik yang selalu memujamu itu."
"Bukan urusanmu." Guilio hanya menjawabnya singkat.
"Monica sayang, seperti biasa kau selalu cantik. Tapi sayangnya aku sudah punya yang lebih cantik sekarang." Kau punya hareem pun aku tak perduli.
"Bukan urusanku." Aku juga membalasnya singkat .
"Nona-nona, ini mantan istriku. Tapi tenang saja kalian lebih cantik daripadanya, lebih muda, lebih segalanya."
Dari sikapnya sekarang, aku jadi yakin kedatangannya kemarin hanya untuk memperlihatkan dia sudah punya uang.
"Kau bisa pergi saja Raoul?!" Aku muak melihatnya. Kenapa aku dipertemukan dengan bajingan ini disini.
"Guilio, bagaimana jika kita bicara bisnis."
"Aku tak ingin berbisnis denganmu." Guilio tak ingin bicara dengannya tapi dia tetap melanjutkan.
"Aku menawarkanmu proyek baru di Milan, ada orang di pemerintah ingin mengirimkan partai besar barang ke wilayah Asia Timur. Kau bukannya punya perusahaan cargo yang khusus melayani wilayah Asia. Kudengar tarifmu kompetitif bagaimana kalau kita kerjasama, dengan sedikit bagian yang bisa di atur dibelakang tentu saja, semua orang ingin sedikit bagian." Sekarang dia hanya melihatnya bicara sebentar lalu mengalihkan pandangan. Semua orang tahu dia ingin pamer relasi.
"Aku tak bisa mengatur suap, kau ke orang lain saja."
"Sombong sekali Berutti ini. Seperti kau bersih saja."
"Terima kasih. Kau boleh pergi..." Dari dulu dia tak pernah suka Raoul.
"Kau mengambil mantanku ternyata. Tak punya gadis single lagi menyukaimu. Lihatlah gadis-gadis disampingku ini. Mau kukenalkan padamu, mereka lebih muda?" Guilio menghela napas panjang sekarang.
"Kau tak bisa pergi saja Raoul?"
"Baiklah aku pergi, tenang saja. Jika kau butuh gadis-gadis teleponlah aku."
"Baik, akan kutelepon kau." Guilio tanpaknya tak mau mencari keributan. Bagaimanapun ini liburan kami, aku juga ingin semua disini tenang. "Sana pergilah..."
Dan untungnya gangguan itu berakhir.
"Mengganggu mood sarapan saja." Guilio mengelengkan kepalanya. Tapi rupanya hari ini terlalu sedikit untuk diisi dengan satu gangguan.
"Guilio Berutti...."
"Dio Santo...(OMG)" Tanpa melihat siapa yang memanggilnya dia sudah, kali ini Guilio menghela napas sambil menurunkan gelas kopinya.
Aku menoleh dan mendapat kejutan.
"Alida!" Dan dia kaget melihatku. Rupanya gadis ini tidak kapok-kapok berurusan dengan Berutti.
"Kau mau apa kesini?"
"Aku hanya ingin bertemu Guilio, kau rupanya pacarnya sekarang?! Dasar ular..." Dia tentu saja dendam padaku. Aku menguras kartunya.
"Aku bertemu Fabian kemarin...Kami sekarang berteman dengan Fabian. Katanya aku boleh memintamu mengurus perternakanku jika kau menggangu Guilio lagi.
"Fabian siapa maksudmu..."
"Fabricio Fabian Bova, ... kau tidak mengenalnya, siapa lagi yang kau sedang tipu disini. Atau kau mau berhadapan dengan Madame Berutti saja, dia sekarang tak jauh dari sini..."
"Aku hanya menyapa kenapa kau sensitif sekali."
"Kau menyebutku ular...Kau bawa kartumu? Aku bisa meminjam EDC temanku disini...."
"Aku pergi. Aku tak akan menganggumu lagi. Ciao..." Dan dia pergi secepat kilat.
Guilio tertawa terpingkal-pingkal sekarang. Aku tersenyum lebar mendengar gadis itu melarikan diri karena mendengar aku menyebutkan kartu.
"Cara, kita berdua tersesat jauh sekali dimasa lalu bersama orang yang salah."
"Mungkin kau benar."
Dua teman yang akhirnya menemukan satu sama lain. Apa yang lebih nyaman dari itu. Kami tak akan tersesat lagi sekarang...
🌼🌼🌼🌼🌼
Mak lg crazy up Alexa ini gak crazy up jadinya