The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 33. About Me.



Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Sesaat aku tidak tahu aku dimana, lalu menyadari aku di Tokyo di tempat Hisao.


Ini liburku. Asyiknya, aku boleh berjalan-jalan sepuasku hari ini dan besok. Ini menyenangkan sekali.


Aku turun jam setengah sepuluh, semalam ternyata kami pulang hanya sampai jam 11, jarang aku bisa tidur lebih cepat. Jadi aku bangun dengan perasaan segar.


Mungkin Hisao belum pergi, dia bilang dia harus bertemu Pamannya. Jadi aku turun setelah mencuci muka dan sedikit memakai pelembab.


"Setsuko-san, sarapan sudah tersedia." Nanao, sang pengurus rumah menyapaku saat aku turun.


"Ahh, terima kasih. Saya memang lapar."


"Hisao-san? Dimana dia? Àpa belum turun?"


"Ohh Tuan sedang latihan di gym belakang Nona. Dia sudah selesai dengan sarapannya." Ohh, rupanya disini ada gym pribadi. Aku tak tahu. Rumah sebesar ini memang harusnya ada gym. Aku harus mengingatkan diriku sendiri dia mengeluarkan 10 juta yen sebagai recehan. Orang kaya...


"Sihlakan Nona ..." Ahh sarapan lengkap terpampang di mataku. Menyenangkan sekali, nasi putih hangat, natto, miso soup, telur dan ikan serta sepiring besar buah-buahan potong di sediakan diatas meja. Ada onigiri dengan isian, sandwich homemade yang nampaknya enak. Aku kelaparan sekarang melihatnya saja.



"Terima kasih Nanao, ..."


"Ahh kopi atau teh mungkin Nona."


"Ehmm teh saja."


"Baik Nona." Aku menikmati sarapanku dengan tenang sekarang.


Tak lama seorang datang dari arah kananku. Hisao masuk dengan celana panjang dan singlet trainingnya, astaga dia punya tato, dan tubuhnya ...sempurna. Bold, mataku tak berkedip melihatnya sekarang.



"Hmm pagi...Setsuko-san,..." Makanku terhenti begitu saja mengamatinya. Rambutnya nampak basah oleh keringat. Dia mengambil air minumnya di kulkas dan kembali mengambil sandwichnya didepanku.


"Sarapanmu enak,..."


"Ehh, iya. Ini ...enak." Aku gegagapan sendiri menjawabnya. Tak tahan untuk tak mengamati lengannya. Dia melihatku yang mengamatinya. Mukaku panas saat aku tahu dia menyadarinya.


"Pergi ke suatu tempat hari ini?" Tapi dia sekarang mengabaikannya.


"Hanya ingin berjalan-jalan. Mungkin menonton, makan, istirahat."


"Hmm... baiklah. Jika aku bisa mungkin aku akan mengajakmu makan malam, sudah lama aku tak menonton. Nanti kutelepon. Kau bebas menghabiskan waktumu." Dia tersenyum, tapi tak duduk di meja makan.


Sialnya jantungku yang berdebar sendiri sekarang, terlalu banyak maskulinitas yang jarang kulihat di Gion. Bagaimana menemukan yang seperti ini, semua pertemuan yang kami hadiri adalah pertemuan formal dan rata-rata dengan orang yang sudah punya angka.


"Hmm... oke." Aku membenci suaraku yang terlalu pelan kemudian.


"Aku hanya ingin menyapamu. Aku ada di masih ada latihan di gym. Baru pergi jam 11.30. Nanao tolong buatkan protein shake yang biasa."


"Baik Tuan." Dan dia kembali ke bagian belakang rumah tempat latihannya.


Makanku terhenti membayangkan pemandangan indah tadi, sementara Nano kelihatan menyiapkan protein shakenya di gelas khusus.


"Gym di belakang luas Nanao,..."


"Ohh, luas Nona, kadang pengawal dan Tuan juga berlatih beladiri disini. Saya sudah biasa cuci mata disini." Nanao tertawa kecil. Astaga bisa dibayangkan jika Tuannya saja seperti itu maka pengawal-pengawalnya akan lebih hebat. Pemandangan yang luar biasa.