
"Sial." Aku berbisik kecil sambil segera meraih Glock Gen 5 ku, senjata resmi federal agen , siapa yang mengirimiku hitman? Belakangan nampaknya aku membuat banyak musuh. Elizabeth atau mungkin Enrique, aku harus fokus mengeliminasi ancaman.
Mereka keluar kemudian saat mendapati kamar itu kosong. Satu orang memberikan tanda keatas, seorang terlihat memàsang peredam di senjatanya.
Mereka hitman profesional? Bahkan mereka mempunyai peredam senjata. Sial! Aku lebih baik bertahan. Tak mungkin aku melawan dua orang bersenjata, aku agen white collar crime, tak terlatih intensive seperti tactical unit SWAT untuk menghadapi hitman( penbunuh bayaran) profesional, walaupun skor tembakanku tidak buruk, tapi aku tak berani berjudi untuk nyawaku sendiri sekarang melawan hitman profesional.
"Dua orang bersenjata akan naik ke kamarku, aku melihat mereka akan naik ke kamar atas lantai dua." Aku memberi update situasiku
"ETA 5 menit dari unit patroli terdekat Mam. Amankan pintu Anda, jika Anda bisa punya akses keluar, bisakah Anda keluar dari jalan selain pintu Anda, atau kamar mandi Anda sebagai perlindungan kedua. Itu akan memberi kami waktu, apa Anda sendiri? Ada yang lain dirumah Anda."
"Aku sendiri. Tidak aku tak punya akses keluar kedua..." Sekarang aku berdebar-debar. Semoga polisi itu segera datang.
"Jika mereka sudah mulai mencoba membuka pintu Anda nyalakan sirine keamanan Anda. Itu akan membuat mereka berpikir. ETA 3 menit Mam." Tiga menit harusnya tidak lama tapi rasanya seabad. Di kameraku mereka sudah naik ke tangga atas dan tak lama aku melihat mereka di kamera keamanan tersembunyi di lantai atas.
Mereka mengamati keamanan, sementara aku berusaha menenangkan diriku agar tidak panik menilai situasi. Aku berlindung di concrete wall samping pintu. Hanya dua orang ini aku mengecek seluruh kamera lainnya tak ada yang kutemukan.
Aku harus menyerang, aku bisa melihat mereka berdua satu mencoba membuka pintu, satu bersembunyi mengawasi keadaan luar di jendela di samping dinnding concrete. Senjata kaliber 9 milimeter ini tidak punya kesulitan menembus pintu.
Aku mundur dan menetapkan target berdasarkan bimbingan sorotan kamera keamanan.
"Dor!Dor!Dor!" Tiga kali suara tempakan keras aku kembali berlindung ke concrete wallku. Satu orang terkapar di kameraku, satu lagi terlihat panik di gambar kamera. Aku berhasil napas lega berhembus, tapi kasih ada satu orang lagi.
Aku menekan pengaktif-an sirine panik segera. Semua lampu otomatis menyala, sistem sirine membuat suara dan lampu panik di bagian depan menyala sehingga polisi mudah menemukan sumber alarm. Itu akan memicu kepanikan segera, manusia pasti terpicu panik.
Aku melihat orang itu dia menarik temannya menjauh dari pintu. Sepertinya orang itu mati. Aku berharap dia pergi! Pergi! Sirine polisi sudah terdengar. Pergi!
Lima kali tembakan balasan di lepaskan ke arah pintu dengan membabi buta, dia panik, dan akhirnya melarikan diri. Aku aman. Aku menghela napas lega... benar-benar lega duduk di lantai. Terduduk lemas di kamarku sementara suara ban berdecit dan sirine dua mobil polisi terdengar di depan rumahku.
"Mam, Anda masih disana?" Aku melupakan operator 911 itu.