
POV Monica
“Monic, naiklah, aku akan mengantarmu kembali Nanti, sore aku baru kembali ke Milan.” Tadinya aku mau naik mobilku sendiri. Ternyata Guilio yang ingin mengantar.
“Ohh kau kembali sore?”
“Aku mau merayu Zia ke Canary Island nanti siang.” Aku tersenyum mendengar dia bicara.
“Kau ini terburu-buru sekali, nanti aku akan menanyakannya.”
“Lebih cepat lebih baik, supaya aku bisa booking akomodasinya.”
“Terserah kau saja.” Dia tersenyum menang saat aku duduk disampingnya.
Aku duduk diam sementara mobil mulai berjalan, tadi... kenapa tiba-tiba Fabian berkata jika dia tidak datang, dia akan mengirim orang dengan surat kuasa, bukankah dia berjanji datang tiap minggu kami bisa makan malam dan menonton minggu depan. Kenapa dia mundur.
Aku kecewa, bukannya dia mengatakan dia ingin memulai hubungan yang normal.
“Hei, kenapa kau diam sekali.” Guilio membuyarkan lamunanku sekarang.
“Ehmm tidak,... Aku hanya memikirkan masalah pekerjaan. Tak apa.”
“Kau harus segera menangani deal konstruksi restoran dan penginapan baru segera sehabis ini, Minggu depan sekalian setelah melihat lahan bawa kontraktormu segera, kau sudah tahu apa yang kau inginkan bukan, minta mereka mengerjakan gambar segera setelah kau menentukan lokasi.” Guilio mengingatkanku apa yang harus kulakukan.
“Iya tentu saja, aku sudah menghubungi mereka. Minggu depan akan kubawa mereka kesana.”
“Aku mau punya restoran dengan observasi deck yang luas di atasnya, kau tahu tempat ini kekurangan hall, aku mau membuka hall untuk pernikahan dibawahnya. Sering kali tempat ini disewa sebagai tempat foto para pengantin di musim semi, mereka selalu bertanya apa aku , punya sebuah kapel kecil untuk pernikahan,atau acara lokal lain, aku pikir akan sangat menghasilkan ...”
“Ahh itu ide yang sangat bagus. Lakukan, kau harus melakukannya....”
Hmm aku akan punya hall pernikahan, kapan aku punya pernikahanku sendiri, nampaknya Fabian entah kenapa mungkin berubah pikiran. Aku tak tahu kenapa tapi dari yang kutangkap dia memang berubah pikiran. Dia tak berjanji untuk datang minggu depan.
“Bersemangatlah Monica... jangan muram begitu.”
“Aku tak muram, biasa saja. Kau yakin kau ingin liburan keluarga, apa yang bisa kau lakukan dalam liburan keluarga, kau yakin tak ada gadis yang ingin kau bawa? Jangan mengeluh bosan nanti, aku akan menjadikanmu umpan ubur-ubur penyengat di sana jika kau bosan.”
“Kau itu punya tendensi psychopath Monica, kau sudah pernah berhadapan dengan psikolog untuk assesment? Kenapa kau sangat kejam padaku.” Dia mendorong keningku dan membuatku tertawa, tak aneh aku membullynya, aku biasanya melakukan itu bahkan dari dulu sejak kamu high school, tapi soal pertanyaanku karena aku tak pernah membayangkan akan pergi liburan keluarga bersamanya. Itu cukup aneh untuk kuterima walaupun bukan tidak mungkin sama sekali.
Baiklah seperti yang dia bilang dia sedang selibat. Terserah apa yang dia mau. Tapi liburan keluarga tak terlalu buruk juga. Setidaknya aku bisa meminjamnya untuk pamer di Canary Island, atau mungkin dia berakhir dengan berkenalan dengan gadis baru disana akhir tahun ini.
Kami mengurus dokumen dengan cepat kemudian, sebelum tengah hari kami sudah menyelesaikan semuanya.
“Oke, aku pergi dulu, aku mungkin bisa mencapai Palermo sebelum jam 2 jika pergi sekarang. Jika kau perlu bantuan apapun sihlakan telepon Monica.” Fabian pamit padaku sambil tersenyum.
“Kau tak ingin ikut kami makan siang dulu?” Guilio bertanya padanya.
“Tidak, lain kali saja.”