The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 28. Leaving Palermo



Kau akan belajar percaya padaku.


Belajar percaya padanya. Itu adalah sebuah kata yang hanya mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Tentu saja aku masih banyak punya keraguan. Tapi ya sudah dia sendiri yang menantangku untuk membuktikan kata-katanya. Kita lihat saja bagaimana akhirnya.


Aku turun ke bawah. Orang-orang belum bangun, tapi staff pengurus rumah sudah bangun.


Jadi aku memangaatkan waktu untuk berjalan-jalan ke sekitar rumah itu. Menenangkan diriku setelah kejadian tadi.


Aku tak sadar kenapa bisa jadi memeluknya. Dan memimpikan Javier lagi, nampaknya berapapun aku berusaha meyakinkan diriku untuk segera melupakannya. Jejak waktu sepuluh tahun bukan hal yang mudah untuk dihapus dalam hanya beberapa bulan. Mungkin perlu tahunan untuk melupakannya sama sekali.


Udara dingin di pagi ini. Aku melihat area permaculture , mereka menanam banyak varietas pohon apel disamping rumah, diselipkan berbagai berry, peach, plum, persimmon (kesemek), sementara pokok anggur dibiarkan menjalar di banyak tempat menciptakan semacam pagar. Tempat ini pasti terlihat menakjubkan di musim panas.


"Eliza... kau sudah bangun?" Ternyata Mama Bova ada disana. Aku sampai dirumah kacanya ternyata dia sedang memanen sayuran yang dia tanam musim dingin masih ada kale, spinach, aragula dan collar.


"Bibi, kau juga pagi sekali bangun? Bibi selamat ulang tahun." Aku memeluknya dan mencium pipinya sekarang.


"Terima kasih Eliza sayang, maaf bibi masih memakai pakaian berkebun. Sini duduk di samping Bibi." Dia membawa kursi plastik kecil dari samping rumah kaca sementara dia membersihkan gulma dan memanen beberapa sayuran.


"Kau sedang memetik sayuran Bibi, ternyata disini masih bisa tumbuh dengan baik."


"Beberapa bisa tumbuh diluar. Parsnips, wortel dan beet masih bisa tumbuh tanpa rumah kaca disini. Disini tidak ada salju. Jadi beberapa tanaman masih bisa tumbuh." Dia melihat ke belakang. "Kemana Bova. Kau tidak bersamanya?" Ibunya bertanya.


"Ohh katanya dia mau jogging mengelilingi kebun. Mau kubantu Bibi. Apa kau menjual ini,..."


"Tidak, kadang kubagikan ke orang-orang. Aku hanya senang melihatnya tumbuh." Dia melihatku sejenak. "Kudengar kau sebelumnya tinggal di Spanyol."


"Iya aku mengikuti suamiku tinggal disana." Aku akan terang-terangan pada Mama Bova ini, mungkin dia tak setuju aku dengan anaknya bisa segera dikatakan pada Bova disini.


"Ohhh, kau pernah menikah?" Dia mungkin baru mendengarnya sekarang.


"Iya kami memutuskan berpisah."


"Kenapa? Ahh maaf, jika kau tak mau cerita tak apa. Bibi hanya ingin tahu. Bibi juga bercerai, bukan hal yang menyenangkan untuk diceritakan ke orang lain. Rasanya seperti membuka lembaran foto buram."


"Aku tak bisa memberikan anak, aku punya masalah di rahimku. Jadi ada seseorang yang lain yang bisa melakukannya..." Tapi aku akan menjelaskannya terus terang sekarang.


"Ohh, begitu." Aku tak tahu apa pikirannya. Mungkin dia akan melarang Bova dengan wanita cacat sepertiku. Dia berpikir sebentar sebelum bicara padaku.


"Bova juga tidak ingin anak, dia menganggap anak adalah beban yang tidak sanggup dia tanggung, karena dia menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mungkin menikmati hidupnya. Keluarga di bayangan banyak orang bukan bagian dari kehidupan Bova, dia menghargai partner tapi sangat sulit bagi wanita biasa menerima apa yang ada dipikirannya. Itu sebabnya dia bermasalah dengan komitmen dengan wanita biasa. Bukan dia sepenuhnya anti komitmen." Mama Bova menjelaskan padaku. "Kau mungkin menyangka dia anti komitmen tapi sebenarnya bukan itu." Dia tersenyum padaku.


"Maafkan aku menaruh kau sekamar dengannya, itu ide Bibinya,... Dia bilang kalian perlu sedikit dorongan. Apa dia bersikap kurang ajar? Aku sendiri yang akan memarahinya..."


"Tidak Bibi, dia cukup sopan."


"Benarkah?" Dia tertawa dan aku hanya meringis lebar.


"Bagaimana kau melihatnya?" Dia bertanya padaku tentang anaknya membuatku binggung menjawabnya. "Kau tak usah sungkan, wanita sepertimu pasti melihat dia harus dijauhi karena belum apa-apa dia sudah memasang plang anti komitmen." Aku tertawa.


"Bova? Well, dia baik. Dia teman yang baik. Dia banyak menolongku. Tapi dia bilang teman itu juga komitmen. Dia seorang teman yang berkomitmen katanya, tapi aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku juga masih banyak masalah ... Kurasa masih banyak yang belum jelas diantara kami, aku mungkin masih harus meluruskan banyak hal dulu, maksudku membereskan masalahku ... Dan memahami siapa dia mungkin perlu waktu."


"Bibi mengerti, yang Bibi ingin bilang adalah dia bukan orang yang anti komitmen, sebaliknya jika dia sudah berjanji atau menganggapmu orang dekatnya, dia adalah orang yang paling care yang kau temui. Mungkin kau pernah tahu dia punya gadis-gadis "bayaran" itu karena dia terlalu malas untuk kencan dengan gadis-gadis biasa. Kadang dia bilang mereka manja, cerewet, minta terlalu banyak perhatian, tapi kau adalah satu-satunya yang langsung diperhatikan nya, dia tak ragu untuk membantumu. Bibi tak ahu bagaimana kalian bertemu, hanya dia yang tahu apa yang dia lihat darimu. Tapi dia sudah tahu mencari siapa yang dia suka, jadi sampai dia membawamu kesini bahkan dia tak berusaha memaksakan apapun diantara kalian. Kurasa itu sudah pasti dia berkomitmen padamu..."


Aku diam mendengarkan semua perkataan Ibunya. Sebenarnya itu membuatku tersanjung. Tapi yang harus mengatakannya bukan Ibunya. Harus dia sendiri...


"Untuk saat ini kami teman Bibi, belum yang lain." Aku mengatakan yang sebenarnya.


"Aku tahu. Kalian tahu jalan kalian masing-masing. Kadang kami hanya sedikit nakal memaksa kalian. Aku hanya ingin dia bisa menemukan seseorang untun dia percayai, teman hidup jika mungkin, agar dia tidak terlibat dengan gadis-gadis muda itu lagi, buat apa lagipula itu hanya ... kau tahu... sesaat. Dia tak punya saudara kandung.... Orang tua seperti kami kadang berpikir anak kami masih kecil." Aku tersenyum mendengar pengakuannya.


"Tak apa, aku tahu Bibi tak bermaksud buruk. Terima kasih sudah menerimaku begitu baik disini."


"Sama-sama Eliza, semoga kalian bisa terus menjadi teman, ...mungkin nanti seumur hidup. Teman hidup bukannya tak pernah bertengkar. Hanya mereka tetap ada satu sama lain tak pernah saling meninggalkan. Itu yang kita harapkan, walaupun kadang kita mungkin bertemu orang yang salah sebelumnya..."


Kami bicara banyak hal kemudian, dan akhirnya berakhir aku membantunya di dapur. Membantu menyiapkan beberapa hidangan untuk makan siang kami. Karena koki akan bekerja untuk pesta di makan malam.


"Aku lapar." Don Juan dari luar langsung menghampiri dapur, dia tahu dapur Mamanya selalu penuh dengan makanan.


"Vanilla, kita punya makanan?"


"Tentu Bibi menyiapkan lasagna, arancini, polenta, focaccia, pasta, gnocchi, salad semuanya ada disini...."


"Banyak orang yang kelaparan disini. Sebentar lagi mereka akan menghabiskan ini, tapi selain Mariam dan Ellle, Mama kali ini punya banyak bantuan. Koki profesional..." Bibi menepuk pundakku dan aku tersenyum lebar padanya.


"Kau koki utamanya Bibi, aku hanya Sous Chef(koki wakil), setiap Ibu punya resep istimewa."


"Ini benar-benar liburan dengan makanan enak 24 jam."


"Lain kali masakkan Ibumu. Anak tak tahu diri..." Bibi tertawa mendengar aku menyindirnya.


"Dia bisa memasak setidaknya masakan sederhana, tapi caranya bekerja membuatku tidak sabar. Kita sudah profesional melihat cara pemula bekerja menyebalkan."


Dan beberapa keluarga yang lain bergabung di dapur kemudian, semua orang disini nampaknya ramah.


"Kita disini selalu kelaparan, makan lagi dan lagi. Diet kita urus sepulang dari sini." Begitulah harusnya ini liburan.


Beberapa orang yang pulang juga pulang jogging langsung menghampiri dapur, karena sang madre sudah siap dengan banyak makanan disana. Tamu-tamu disini dimanjakan oleh sang Nyonya rumah tapi baginya mungkin itu bukan kerepotan tapi kesenangan baginya.


"Ibu tak bertanya tentang kita?" Don Juan bicara denganku saat aku selesai mandi sehabis membantu persiapan dapur.


"Hmm... bertanya apa?"


"Tentang semalam."


"Tidak, dia hanya minta maaf karena kamar penuh dan aku harus sekamar denganmu." Melihatnya dengan t-shirt santai dan lengan pendek ini sebuah godaan.


Aku ingin secepatnya kabur ke ruang tengah lagi. Aku sekarang mengeringkan rambutku secepatnya.


"Ohhh benarkah." Dia melihatku.


"Benar."


"Tidak ada yang lain."


"Tidak." Tak usah terlalu kering. Sekarang aku ingin keluar saja. Takut pada keinginanku untuk menyusup masuk ke dalam pelukannya. Dia tampak begitu tampan dan wangi setelah mandi. Masih satu hari lagi aku harus tidur bersebelahan dengannya.


"Kalian nampaknya begitu cocok, aku iri."


"Itu namanya woman talk." Dia meringis.


Entah apa yang ada dipikirannya, Don Juan itu tak mencoba apapun, entah rangkulan, sentuhan apapun sampai keesokan paginya. Sekarang aku kagum pada kontrol dirinya sendiri.


"Kau berjanji kembali." Bibi mengingatkan janjiku lagi. Dia bicara denganku tanpa kehadiran Bova. "Aku sungguh berharap kalian bisa bersama? Kalian terlihat cocok."


"Aku tak tahu Bibi, mungkin doamu akan dikabulkan. Tapi apapun itu terima kasih sudah menyambutku disini. Aku akan merindukanmu, jika kami tidak berjodohpun aku akan mengunjungimu suatu saat."


Aku melambai padanya dan berpisah dengan yang lain. Kenangan makam malam meriah, keluarga yang hangat ini akan selalu teringat di benakku.


"Mengemudilah dengan hati-hati Fabri." Dia melambai ketika kami pergi, akan ada perjalanan darat tiga jam dari Palermo ke Catania. Tapi kami akan sampai sebelum makan malam ke rumah Bibi, sehingga bisa makan malam bersama Ayah.


"Kau senang?"


"Tentu saja, terima kasih sudah mengajakku." Bova tersenyum mendengar aku tak menyesali keikut sertaanku kali ini.


Dia bersedia mengobrol denganku layaknya teman selama perjalanan. Tidak menyinggung apapun tentang pelukan kami, atau membuat godaan-godaannya yang kadang membuatku selalu berusaha keras mengenyahkannya.


Saat kami tiba di Catania sore dan malamnya untuk mengunjungi Ayah. Dia juga bertindak sebagai teman yang supportive. Menenangkan Ayah yang banyak bertanya tentang case kami.


Kau akan belajar percaya padaku.


Nampaknya dia serius tentang membuktikan perkataannya itu. Dan dia tidak ingin terburu-buru. Di satu sisi mungkin saat ini dia juga sedang meyakinkan dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Absen 1 dulu hari ini besok lagi ya


Jangan lupa vote dan hadiahnya yaaa