The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 56. Canary Island 8




POV MONICA


Senyumannya terlihat lebar pagi ini. Dia mengetuk pintu untuk mengajakku sarapan di bawah.


"Cara Mio, sarapan..." Dia memanggilku cara mio. Rasanya masih terlalu aneh. Walaupun dia tidak mencoba hal-hal berlebihan kemarin selain menatapku berlebihan dan memanggilku cara mio belakangan ini.


"Bisakah kau menanggilku dengan Monica saja." Dia meringis lebar mendengar pertanyaaanku.


"Biar aku pikirkan. Ehmm...tidak, aku tetap memanggilmu Cara Mio." Senyum lebar tengilnya membuatnya terlihat semangkin konyol.


Kemarin memang banyak hal terjadi, dia mengatakan dia menyukaiku, mengatakan aku wanita yang dia cari. Membuat duniaku terbalik untuk sesaat dan aku tak bisa menemukan kata-kata untuk menjawab kembali perkataannya.


Kecemburuannya memang mengatakan segalanya. Tapi masalahnya aku sudah terbiasa menganggapnya sebagai teman. Semalam aku malah tidur dengan lelap karena kelelahan dan tak memikirkan perkataannya sama sekali. Padahal dengan Bova aku sulit tidur. Apakah ini salah. Aku sendiri tak tahu.


"Apa yang kita lakukan hari ini..."


"Kita akan tour ke Teide National Park, nanti jam 11 ada jeep menjemput kita. Cuma sekitar perjalanan lima jam... Makan malam tetap dihotel dan kita akan merayakan tahun baru di pesta pantai."


"Hmm kelihatannya menyenangkan." Dia yang merencanakan perjalanan ini dan mengatur jadwal acaranya. Dia berusaha membuat liburan kami berkesan setidaknya.


Aku berjalan tempat sarapan dan berpisah mengambil yang kami inginkan, binggung dengan banyaknya jenis sarapan sementara aku tak berniat makan terlalu banyak jika pagi.


Aku melihatnya sudah duduk di salah satu meja kemudian dan berjalan ke arahnya. Seorang gadis terlihat tak menyia-nyia kan meja yang kosong didepannya untuk mengajaknya berkenalan sambil membawa makanannya sendiri.


Seperti biasa, dia ramah dengan para gadis. Gadis itu terlihat terpesona dengan aksennya. Aku duduk disampingnya menaruh makananku di sampingnya, tersenyum ke gadis itu dan mulai makan. Mencomot satu kue dipiringnya yang terlihat menarik.


"Halo selamat pagi."


"Ahh maaf apa kau bersama seseorang?"


"Ini pacarku, Monica..." Dia merangkul bahuku, aku tak memperdulikannya dan tetap makan.


"Ohhh maafkan aku kupikir kau sendiri. Nona maafkan aku, ..."


"Tak apa..." Aku cuma tersenyum kecil. Gadis muda itu langsung kembali ke meja di mana banyak teman-teman sebayanya. Tanpaknya malu padaku tapi aku tak menganggapnya sesuatu yang besar.


"Hmm... Guilio, jika kau ditaruh sebagai patung saja kurasa ada yang akan datang mengajakmu bicara." Aku menyindir betapa cepatnya dia menarik perhatian gadis-gadis.


"Cara Mio, apa kau cemburu?" Dia tersenyum lebar padaku. Nampaknya menyukai aku yang duduk disampingnya sekarang.


"Siapa yang cemburu, aku sudah terlalu biasa melihat kau bersama seseorang gadis random." Aku meringis menyindirnya.


"Aku tahu, tapi kau tak pernah melihatku ingin menikahi seseorang, yang kulakukan hanyalah pulang padamu dan mengeluh aku ingin melarikan diri dari komitmeñ terhadap gadis-gadis itu. Apakah yang kukatakan itu benar Cara..."


Aku melihatnya, dia bicara dengan serius sebenarnya sekarang. Tapi justru itu membuatku ingin tertawa. Kenapa aku malah ingin tertawa, jangan tanya aku, aku sendiri tak mengerti dengan diriku... Mungkin hanya karena aku sudah sangat terbiasa tentang keberadaannya. Sehingga saat dia mengatakan hal-hal romantis otakku menganggapnya tak ada yang spesial.


"Kau sangat lucu..." Jawabanku nampaknya membuatnya sedikit putus asa.


"Kau memang belum pernah kucium, mau kucium Cara, nanti kau akan melihatku berbeda." Bagaimana dia tahu menciumku akan membuatku melihatnya berbeda.


"Kulempar kau ke ubur-ubur penyengat jika kau berani." Aku berkata tanpa meliriknya, sementara tampaknya dia sangat nyaman duduk disampingku.


"Kutelepon Zia untuk mengadukanmu."


"Mereka akan memintaku melakukannya lagi." Dia tertawa.


Aku sekarang kehabisan kata-kata untuk menanggapinya. Aku meliriknya yang sedang tersenyum lebar padaku. Baiklah dia menang kali ini. Lebih baik diam dan makan saja, sebentar lagi kami akan pergi tour.


"Cara,... Kau bisa tidur semalam?"


"Biasa saja. Kenapa tak bisa tidur..."


"Aku tak bisa tidur."


"Minumlah obat tidur." Aku mementahkan keluhannya yang terlalu berlebihan.


"Kau memang kejam padaku." Aku meringis lebar.


"Sejak pertama kita bertemu aku sudah kejam padamu. Jangan berlebihan... Katanya kau menyukaiku, tahanlah lebih lama lagi penderitaanmu..." Giliran dia yang tak bisa bicara.


"Itu benar juga. Aku memang terlalu jujur padamu. Aku sendiri yang membuatmu berpikir negatif tentang hubunganku dengan wanita. Aku tak akan menyalahkanmu. Tapi aku sudah berubah Cara..." Dia mendekatkan dirinya padaku, membuat wajahnya menempel dilenganku sambil membuat puppy eyes. Aku menjadi risih dengan kedekatannya.


"Sudahlah sepagi ini jangan merayuku." Aku mengambil tissue lap bersih yang ada di meja dan mendorong mukanya dengan tissue ke belakang.. Dan pindah duduk dari sampingnya ke depannya. Dia membuatku merinding dengan jambang panjangnya yang belum tercukur, dia sengaja melakukannya bukan.


Dia mengambil tissue dimukanya dengan gaya dramatis dan membuatku tertawa. Entah kenapa aku senang melihatnya menderita. Setidaknya itu hiburan untukku. Dan dia membiarkan aku menertawakannya.


"Kita besok ke La Palmas bukan, pindah hotel, tak terasa besok sudah akan tahun yang baru. Liburan kita akan berakhir."


"Aku akan kembali setiap akhir pekan padamu. Jika kau ingin mengunjungiku di Milan datanglah kapan saja. Penerbangannya hanya kurang dari dua jam, aku akan memberikan kunci rumahku disana. Dan mengenalkanmu sebagai kekasihku kepada yang mengurus rumahku." Dia benar-benar serius tentang ini. Aku ragu, tapi aku merasa tersanjung dia mengatakannya.


"Iya, terima kasih." Aku berterima kasih, karena dia membawa ini setidaknya dengan bersahabat.


"Kau benar-benar bisa tidur nyenyak Cara..."


"Aku biasa saja...." Setengahnya aku merasa dia berbohong untuk merayuku entah karena aku sudah terlalu lama mengecapnya playboy.


Tapi kemudian kusadari dia tidak berbohong, dia tertidur begitu saja saat kami dalam perjalanan tour di Rover tour kami menuju Taman National Teide. Padahal nanti malam adalah tahun baru, kami akan merayakannya.


Aku melihatnya yang tertidur, ingin membangunkan tapi kemudian mengurungkan niatku karena dia memang tertidur pulas.


Sampai guncangan kendaraan karena kami memasuki jalan yang lebih bergelombang membangunkannya sendiri.


"Tukang tidur, kau sudah bangun." Dia terperanjat dan tak tahu kami berada dimana.


"Apa kita sudah sampai? Maafkan aku, aku tak sadar tertidur."


"Tak apa."


Tak pernah dalam mimpiku akan mendapatkan seorang Guilio tak tidur memikirkanku. Tak pernah dalam mimpi terliarpun.


\=\=\=\=\=\=\=\=