
Aku ke kantor polisi didampingi John hari ini Memberikan keterangan, yang jelas mereka akan mendekam dalam penjara karena percobaan pembunuhan.
"John kau Green Berets bukan?" John melihatku disampingnya.
"Saya tak akan mengatakan apapun pada Anda Nona." Dia tersenyum kecil. "Anda tahu aturannya. Tapi Sir Nathan bersikap baik ke Anda walaupun dia tahu Anda tidak jujur padanya."
"Apa Nathan itu agen pemerintah?"
"Anda lebih baik bertanya sendiri pada Tuan Nathan."
"Apa dia orang jahat?"
"Baik jahat itu tergantung sisi mana memandangnya. Tapi dia punya kepribadian yang baik saya rasa. Dia bukan orang yang suka mempermainkan wanita. Walaupun dia punya kemampuan melakukannya."
"Kau senang bekerja disini?" John tertawa dengan pertanyaan selanjutnya.
"Tentu, ini medan yang tak begitu berat." Dibanding harus bekerja di daerah konflik. Dia memakai kata medan berarti benar dia orang militer Green Berets. Nathan tidak berbohong, dia termasuk dalam sistem.
Jadi apa yang harus kulakukan jika dia termasuk dalam sistem. Mana bisa aku melawannya. Dia punya satuan operasi khusus mengawalnya, dia bahkan menawarkan untuk bisa mengamankan posisiku di agency. Pilihan logis satu-satunya adalah menuruti pengaturannya.
Aku melihat ponselku. Sebuah pesan dari Tyson yang berisi dia dipromosikan ke kepala unit sendiri sekarang. Beruntung sekali dia , punya pacar baru, dipromosikan ke kepala unit, dia tak pernah tahu rasanya ditaruh sebagai kamera pengawas sepertiku, kasusnya adalah kasus yang melibatkan kerja sama tim, bekerja didepan atasan, bisa show off kemampuan analisanya sedangkan aku selalu dijadikan umpan karena cantik, mereka tak tahu rasanya ditaruh menjadi agen lapangan yang menyamar.
Sekarang aku membenci Tyson dan laki-laki yang menguasai agency, terutama bossku. Tyson, dia tak punya hati sama sekali, setelah bertahun-tahun kami bersama dengan satu kata maaf dia menolakku. Sekatang aku merasa dunia spying ini tidak adil padaku. Mereka semua membuatku kata cantik seperti kutukan untukku. Mungkin mereka menertawakanku saat harus bekerja keras sebagai auditor juga menyelamatkan diriku dengan tidur dengan targetku.
Nathan kembali jam 6 sore ke rumah. Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk. Tapi dia nampaknya bersikap normal saja didepan semua orang.
"Bagaimana polisi?" Dia duduk saja berdua denganku di meja makan kemudian.
"Iya aku tahu. John memberikan suratnya."
"Bagaimana lukamu, ada keluhan?"
"Tidak."
"Bossmu mengatakan sesuatu?"
"Tidak, aku melapor aku ke kantor polisi dan aku tak tahu kau kemana hari ini." Kapan dia akan mendesak siapa bossku.
"Hmm, oke. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun jika begitu. Jika kau ingin kembali ke LA nanti kau boleh kembali, aku tak akan ke LA sementara." Dia bahkan membiarkanku kembali. Dia tidak perduli statusku yang mata-mata.
Aku jadi tak mengerti, apa dia melepasku begitu saja? Membiarkanku bekerja di Garcia Int? Aku tak bisa menahan rasa penasaranku kemudian. Aku mengetuk pintu kamarnya.
"Nathalie, ada apa?"
"Boleh aku bicara."
"Tentu masuklah." Dia membukakan pintu kamarnya. Kamar besar di lantai 3 itu didominasi warna coklat dan abu-abu. Khas kamar pria. Sementara pemiliknya dengan tshirt hitam dan celana tidur itu seperti pemilik kamar yang sempurna.
"Ada apa? Duduklah..." Dia duduk di sofa nyaman itu menungguku bicara. Aku duduk disampingnya.
"Nathan, apa kau mengambil keputusan melepasku?" Aku menatap lekat padanya.