
"Vanilla sayang, kau terlalu hangus semalam. Mau coba lagi temperature direndahkan." Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan di pagi hari.
"Oven, stop kontakmu belum dicabut..." Dia mencium tengkukku dari belakang diantara sesuatu yang pagi-pagi terangkat dibawah sana.
"Tidak bisa dicabut Vanilla sayang, kau tahu kalau pagi sudah begini. Apalagi jika ada Vanilla perlu dipanaskan."
"Oven gila." Aku mencoba kabur, tapi pintu oven itu sudah terlanjur terlalu dekat. Tidak ada kesempatan untuk kabur. Dalam beberapa detik kemudian pintu sudah tertutup.
"Vanilla, suaramu itu..." Aku tak bisa bertahan dengan cara Oven panas ini bekerja, entah bagaimana caranya dia tahu cara menghanguskanku. Atau memang caranya yang memaksa itu kusukai,
"Ahh..." Aku tersenggal dan hangus sekarang.
"Vanilla sudah hangus. Tunggu stop kontaknya akan mati sebentar lagi." Dia meninggikan temperaturenya lagi dan membuat kami hangus bersama sekali lagi segera.
Pagi yang cukup membuat lemas, tapi aku tidak bekerja sebenarnya. Dia yang selalu bekerja, aku menerima saja penampakan tubuh penakluk ini sebanding dengan caranya memuaskan wanita.
"Vanilla sayang... kau memang mudah gosong."
Oven yang panas itu tak henti menggodaku disini, sehingga kupikir, aku tak bisa menahan mukaku yang memerah lagi di depan Zia.
"Jangan terlalu mesra di depan Ibumu aku yang malu."
"Baiklah. Kau memang memalukan dengan desahanmu yang kelewatan itu. Salahmu sendiri kenapa cepat hangus." Dia menciumku mesra. "Apa kau bahagia Vanilla." Dia menatap mataku di pagi yang masih dingin itu.
"Sangat."
"Aku senang, aku ingat pertama kali bertemu kau kelihatan sangat tertekan. Tapi sekarang aku membuatmu sering tersenyum dan mudah gosong." Aku tertawa.
"Aku mencintaimu Oven, terima kasih membuatku bahagia dan hangus."
"Dan aku senang bisa panas selalu." Percakapan absurd di pagi hari ini terasa sangat konyol.
"Ayolah, aku mau membantu Zia. Aku mau bangun pagi dan membantu panenan Zia.
"Baiklah, kau memang tahu menyenangkan hati Mama."
"Dia Mamamu, tentu saja aku harus membuatnya senang seperti Mamaku sendiri." Dia tersenyum dan mencium keningku.
"Biarkan aku menghangatkanmu sebentar. Masih terlalu pagi, jangan buru-buru." Dia belum mau melepaskan pelukannya. Aku menghela napas dan membiarkan diriku dalam pelukannya.
Ini saat yang berharga mungkin di satu waktu yang lain. Biarkan aku mengenangnya sedikit lebih lama.
Seorang sepupu yang datang ke rumah Bibi. Dia membawa anak perempuannya yang masih berumur lima tahun.
"Hai kau lucu sekali. Siapa namamu." Gadis dengan gaun cantik berwarna kuning cerah itu makan dengan lahap pasta yang kubuat.Tampaknya dia sedikit kelaparan.
"Aku Lola Zio."
"Umurmu berapa sayang." Dia duduk di samping gadis kecil dengan mata cantik bulat itu. Sementara Mamanya bicara denganku dan Zia. 0
"Lima." Sambil menunjukkan jarinya ke Fabri.
"Lima, ohh kau sudah tahu bagaimana berhitung."
"Sudah paman, sudah sampai 100." Gadis kecil itu menunjukkan kepintarannya kepada kami. Dan malah dia yang bercerita kepada Paman yang baru ditemuinya itu. Dan Paman di depannya itu tampak kagum dengan kemampuannya bercerita.
"Mama katanya aku boleh melihat orang memanen apel?" Dia ternyata ingin melihat pohon apel kesini.
"Boleh, kau sudah selesaikan makanmu? Ayo Paman gendong ke kebun."
"Boleh Mama? Paman aku sudah selesai makan. Tidak mau tambah lagi." Dia bertanya kepada Mamanya dengan memohon.
"Iya boleh, jangan menyusahkan Paman, patuhi apa yang Paman bilang." Dia mengangguk.
"Paman aku tak mau digendong sudah besar, mau berjalan saja, aku mau digendong untuk memetik apelnya." Semua orang tertawa mendengar celotehannya. Andai aku bisa mendapat kebahagian berbeda seperti ini. Seorang putri kecil yang bisa bercerita banyak hal denganku. Rasanya hidup adalah keajaiban yang sempurna.
Tapi sekali lagi, tak ada hidup yang sempurna. Setiap keadaan mempunyai masalahnya sendiri, tak ada yang mudah. Setiap keadaan pasti ada tantangannya. Kau harus menerima yang tak bisa kau usahakan dengan lapang dada.
Ini sudah sempurna dan membuatku sangat berbahagia.Begitu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri.
Kami menyusul mereka di kebun kemudian. Mendapatkan kedua orang itu bergaul dengan baik. Fabri yang mengaku tidak menyukai anak-anak itu kelihatannya bisa berbaur dengan baik dengan seorang anak kecil. Sebuah kejutan yang menyenangkan ternyata.
"Lola, kau akrab sekali dengan Paman heh? Pintar kau memanfaatkan orang untuk mengendongmu. Paman sudah capek ayo turun."
"Liliane tak apa, dia masih ringan, dia senang menjangkau semua peach ini. Dia sedang membantu panen katanya." Paman yang baik hati itu membantu tangan-tamgan munggil itu memutar buah peach matang dan menaruhnya di keranjang mereka sendiri yang akan dibawa pulang ke rumahnya.
"Biarkan saja Lilia, dia bisa jadi belajar Paman yang baik."Aku senang melihatnya bisa menikmati waktunya dengan Lola.
Biarpun mungkin aku dan oven ini tak mempunyai kesempatan. Tapi entah aku senang dia bisa menganggap anak-anak sesuatu yang menyenangkan.
"Tentu saja dia serius. Aku akan memastikannya." Malah Zia yang menjawabnya. Bova tertawa mendengar Ibunya. Aku tersenyum saja...
"Paman dan Bibi, kapan kalian punya adik sepertiku. Aku bisa mengajaknya main jika sudah besar, kita bisa membantu Nenek di kebun." Aku tersenyum dengan pertanyaan polosnya.
"Ehhm, doakan Bibi Lola, mungkin doamu akan dikabulkan oleh malaikat yang baik diatas sana. Dan kau akan punya teman bermain nanti." Karena perlu sebuah keajaiban dari atas sana untuk membuat semuanya terjadi.
"Aku akan mendoakan Bibi dan Paman, mendapatkan adik kecil perempuan sepertiku. Nanti aku akan mengajaknya bermain dan menggendongnya untuk memetik apel." Semua orang tertawa, dia cerewet sekali untuk anak umur lima tahun.
Fabri terlihat tersenyum. Mungkin ini untuk pertama kalinya dia menyadari ide memiliki anak itu tidak terlalu mengerikan sebenarnya. Dulu dia menganggapnya sebuah hal yang sangat rumit. Tapi ternyata tidak begitu menakutkan seperti di pikirannya.
Aku bertanya padanya kemudian setelah mereka pergi dan kami duduk berdua dibawah pohon peach yang masih menyisakan sedikit buahnya itu.
"Ide memiliki anak tidak begitu menyeramkan bukan, kau bisa berbaur dengan baik dengan Lola." Aku melihatnya dengan serius ini pertanyaan penting buatku.
"Hmm entahlah, mungkin memang tak terlalu menyeramkan, kalau dia sepintar Lola itu akan lebih mudah, nampaknya dia anak yang cepat mengerti."
"Aku tidak bisa memberikan padamu hal seperti itu, jika kau menginginkannya kau harus mencari seseorang yang lain." Aku takut dia menyesal seumur hidup jika bersama denganku, padahal dia bisa mendapatkan siapapun yang dia mau.
"Apa yang kau bilang, aku tidak menukarmu dengan Lola atau dengan siapapun. Kita tidak meneruskan pembicaraan ini Vanilla. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu." Dia melihatku dan mengatakannya dengan bersungguh-sunguh.
"Aku hanya takut kau menyesal."
"Aku bersyukur jatuh cinta padamu. Tidak pernah menyesal selama ini, walaupun kita melewati banyak masalah, aku tak pernah merasa keberatan membantumu. Dan sekarang aku merasa begitu lengkap, begitu bahagia denganmu. Tak perlu apa-apa lagi cukup kita berdua, sudah cukup. Mengerti Vanilla, Oven dan Vanilla adalah pasangan sempurna."
Aku menyandarkan diriku padanya.
"Kau tahu, aku pernah di posisi ini, kukira semuanya sempurna. Tapi kemudian masalah demi masalah datang, hampir tak ada tersisa soal cinta ini." Aku bicara tentang pernikahanku sebelumnya.
"Mungkin karena kalian membangun mimpi yang sempurna, tapi kau dan aku tidak mencari mimpi yang sempurna, hanya mencari teman untuk berpegangan tangan. Aku mungkin agak takut dengan pernikahan seperti itu, terlalu banyak ekspektasi." Dia menghela napas dan merangkul bahuku.
"Aku hanya takut mengecewakanmu..." Kata-kataku membuat tersenyum.
"Aku juga takut mengecewakanmu. Semankin dewasa, kita menyadari kita tak bisa mengharapkan orang lain yang harus sempurna untuk kita. Tapi apa pasangan kita juga bisa menerima ketidaksempurnaan masing-masing jika ingin berjalan bersama."
"Kau belum pernah menikah, tapi kau bisa berkata begitu."
"Itu sederhana bertambah umur, bertambah kau yabg sudah banyak menghadapi orang kau akan tahu secara alami. Aku punya kekurangan, aku kadang terlalu fokus ke pekerjaan, aku takut tak bisa jadi Ayah yang baik jika aku punya anak. Tapi jika dipikir-pikir itu berjalan dengan sendirinya. Tak ada Ayah yang sempurna, yang ada adalah Ibu yang selalu sempurna..."
Aku tertawa. Ibu juga tak sempurna.
"Tidak juga, mereka juga bisa marah-marah. Ibu juga hanyalah seorang manusia."
"Kau benar, jadi aku menerima kau yang seperti ini. Mari tak usah membayangkan masa depan terlalu jauh, bagaimana jika kita jalani saja hari-hari kita dengan mencoba merasa bahagia. Yang jelas aku menerimamu, menerima kita yang sekarang ini."
"Kau yakin?"
"Yakin 100%, anak tidak masuk dalam list kebahagianku. Aku menerimamu apa adanya."
"Bagaimana jika tiba-tiba ada keajaiban didepan?"
"Itu keajaiban, maka kurasa aku sangat bahagia. Tapi kurasa satu adalah cukup. Aku takut tak bisa menghandle mahluk-mahluk ajaib berlarian di bawahku dengan bersemangat." Aku tertawa mendengar dia mengambarkan anak kecil sebagai mahluk-mahluk ajaib.
"Mereka akan berteriak satu sama lain dan melempar sesuatu."
"Aku tak yakin bisa menanggung itu." Oven tertawa.
"Itu bayangan yang indah." Aku menghela napas. Manusia selalu begitu, apa yang sulit mereka dapatkan adalah bayangan indah untuk mereka.
"Kita berbahagia saja oke. Karena ini sudah cukup untukku."
"Hmmm...setuju." Aku juga berpikir seperti itu.
"Maafkan aku kadang menyebalkan, jangan terlalu marah padaku oke. Teman jika marah terlalu lama tidak enak."
"Aku juga minta maaf jika aku membuatmu jengkel, tapi aku mencintaimu Oven-ku..."
"Aku mencintaimu Cookies Vanilla-ku."
Kami tertawa dan berpegangan tangan dibawah pohon peach itu.
Langit tak selalu biru. Tapi awan kelabu juga pasti tak selamanya mengantung.
Kebahagian dan kesedihan kadang datang silih berganti.
Itu perjalanan hidup, karena tanpa hujan badai kau tak mungkin melihat ada pelangi setelah hujan, tanpa kesedihan kau tak mungkin mengenal apa itu bahagia.
Dengan bisa menerima kelebihan dan kekurangan, kesedihan dan kegembiraan. Hidupmu akan terasa sempurna.