
“ Bisakah aku memanggilmu caro (sayang\=untuk pria, cara \=untuk wanita),...” Pipiku memanas dengan ciumannya, dan aku meleleh bahagia dalam pelukannya.
“Boleh, Vanilla. Kau kekasihku, tentu saja kau boleh memanggilku Caro.”
“Tadinya aku mau menamaimu oven.” Dia meringis lebar.
“Oven? Kenapa aku jadi oven?”
“Karena kau memanggilku vanilla...”
“Ohh jadi pasangan oven adalah cookies Vanilla.” Sekarang dia tertawa setelah mengerti kenapa dia jadi oven.
Aku dalam pelukan Don Juan ini, aku hampir tak percaya ini terjadi, menjadi kekasihnya membuat dia berkomitmen untuk bersama. Aku mendapatkan perasaan yang aneh soal ini. Sepertinya aku dalam mimpi. Menatap wajahnya begitu dekat, bisa berada dalam rangkulannya dan menyentuh dagunya. Sebelumnya aku tak berani memimpikan ini, tapi hari ini tiba-tiba dia mengatakannya. Jantungku masih berdebar, terlalu senang, membuatku mabuk.
“Kenapa kau melihatku seperti itu.”
“Tidak, hanya ini tak pernah kupikirkan sebelumnya.”
“Kau menganggapku sangat jelek bukan.”
“Kita bertemu di sites sugar daddy dan kau punya sugar baby. Apa yang kau pikir ada dalam pikiranku selain menghindarimu. Aku sudah cukup lelah soal cinta, dan cukup sadar akan kekuranganku, jadi yang kulakukankan adalah lari sejauhnya darimu, menyelamatkan hatiku sendiri... Kau oven panas yang membuatku hangus.”
“Kalau begitu kita akan mengatur suhunya untuk menghangatkan saja.” Aku tertawa mendengar kata-katanya. Memandangnya pada matanya, sebelum menyadari ini bukan mimpi dimana aku harus bangun. “Mimpikan aku mulai sekarang, jangan yang lain.” Dan napasku berhenti sesaat mendengar permintaannya. Aku tak berani sebelumnya, tapi sekarang dia kekasihku. Aku punya keistimewaan boleh memimpikannya. Aku ingin menciumnya tapi aku terlalu malu untuk melakukannya sekarang, aku belum terbiasa dengan sentuhannya, perlu waktu untuk terbiasa menyentuhnya.
“Aku akan memimpikanmu. Tapi aku harus kerja sekarang Oven.”
“Kau tak takut kau akan jadi sasaran Gianni?” Kenapa dia berani muncul sekarang. Dia harusnya menghindari menjadi sasaran tembak, tapi nampaknya sekarang dia tak perduli.
“Aku harus menghadapinya cepat atau lambat. Dan kau kekasihku, jika dia merencanakan hal buruk padamu dia akan tahu dengan siapa dia berhadapan. Dan entah siapa yang sudah mensabotase mobilmu. Dia akan membayar. Kau harus hati-hati oke, jika tak terlalu penting hindari perjalanan tak perlu untuk mengurangi resiko...”
“Iya, aku punya pengawal hebat disampingku. Mereka tahu apa yang mereka lakukan tenang saja.”
“Mereka memang mengawasimu, Juan mengatakan bahwa nampaknya ada mata-mata pengawas yang berkeliaran di sekitar restoran, dan mungkin juga apartment ini. Tapi dengan kemunculanku dia akan berpikir 3x untuk melakukan cara kotor. Karena aku tak segan melakukan perang terbuka padanya jika dia berani.” Aku merasa bangga dibela begitu rupa, perasaan ini membuat jantungmu berdebar dan bulu kudukmu meremang bahagia.
“Jangan berkelahi, itu berbahaya.”
“Aku bukan dari keluarga yang akan diam saja jika keluarga kami diganggu Vanilla, walaupun dia Gianni. Saatnya dia membayar karena menggunakan bisnis kotor untuk memperkaya keluarganya.”
“Aku tak mengerti, aku hanya tak ingin kau terluka.” Dia tersenyum sekarang.
“Buatkan aku makanan enak saja, nanti aku akan cepat sembuh.” Aku tersenyum.
“Iya, nanti kubuatkan makanan enak.” Permintaan sederhana tapi juga itu berarti banyak hal yang terjadi dibelakang itu.
“Ayo kuantar. Mobilmu di kantor polisi dan harus masuk bengkel. Nanti kusuruh Juan untuk menyewakan mobil yang sama untukmu sebagai pengantinya.” Dia bahkan mengatur penyewaan mobil untukku sebelum kepergiannya. Aku akan merindukannya. Mengantarku sebelum dia pergi ke Naples.
Kali ini aku bisa duduk disampingnya dan menggengam tangannya, perjalan pendek itu terasa begitu singkat.
******\=\=\=\=\=\=\=\=****