
Guilio yang terlalu sopan itu seperti bukan dia.
Aku tak mengenalnya begitu, dia menggoda wanita seperti Bova, terang-terangan, main cium dan peluk seenaknya. Walaupun dia kurasa memperhitungkan bahasa tubuh wanita itu. Entah bagaimana dia selalu berhasil.
Atau mungkin karena aku belum mengatakan aku menyukainya. Tapi bukankah aku ada disana selalu untuknya, bukankah itu tak usah dikatakan lagi...
Dia masih mempertahankan itu selama dua minggu berikutnya. Aku penasaran memikirkan itu,... Aku hanya ingin diperlakukan seperti kekasih bukan teman. Yang membedakan kekasih dan teman adalah affection-nya bukankah begitu.
Bagaimana jika aku mengunjunginya ke Milan. Sebelum pertanian menjadi sibuk di awal musim semi yang akan datang. Lagi pula akan ada perayaan Valentine Days...La Festa Degli Innamorati.
Aku boleh memberinya sedikit kejutan bukan. Dia sudah memberiku alamatnya di Milan. Sebelum dia terbang ke Catania aku akan ke sana Jumat malamnya.
Apa sikapnya akan berubah? Apa dia masih akan bersikap sopan?
Jadi aku sekarang menarik koper kecilku, jam 4 sore, mencari rumahnya di Via (Jalan) Senato di Milan dengan taxi, dan sebuah gedung berwarna peach di pinggir jalan itu adalah rumahnya.
Seorang wanita usia 40tahunan agak gemuķ membuka pintu, mungkin pengurus rumahnya. Dia menatapku sebentar.
"Ya mencari siapa?"
"Tuan Guilio sudah kembali?" Dia melihatku dengan heran.
"Tuan tidak pernah mengizinkan gadis-gadis kesini kecuali keluarganya." Nampaknya Guilio tidak pernah membawa wanita kesini. Hmm... Casanova itu tak mau diteror di rumah pribadinya. Dasar terlalu licik.
"Aku Monica Minetti..."
"Ahhh...Astaga Nona Monica? Anda yang dibicarakan Tuan Guilio. Masuklah...masuklah. Kenapa Anda tidak bilang nama Anda." Ternyata benar Guilio memberikan namaku ke pengurus rumahnya. "Saya Yolanda Nona...senang bertemu Anda. Biar saya bantu dengan koper Anda." Dia langsung mempersilahkanku masuk.
"Tuan Guilio kembali jam berapa biasanya?"
"Hmm... biasanya diatas jam 9 Nona, setelah makan malam. Jika dia ingin makan malam dirumah dia akan bilang pada saya, para pengawal dan assisten Tuan kadang suka mencari saya untuk meminta makanan. Malam ini dia bilang akan makan malam disini karena besok ada penerbangan pagi. Biasanya jam delapan kurang dia sudah ada disini Nona..." Yolanda menceritakan dengan lancar tentang Tuannya itu.
"Hmm baiklah, aku yang menyiapkan makan malam saja Yolanda, aku membawa bahan-bahannya."
"Ohh baik Nona, saya bawa koper Nona ke kamar Tuan dulu, ... saya akan bantu Nona. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Nona. Apa Tuan tidak tahu Nona akan kesini? Dia tidak memberitahu saya..."
"Ehmm tidak sebenarnya, ini kejutan."
"Ahh kejutan yang romantis dari sang kekasih." Aku tersenyum lebar menanggapi Yolanda.
Jadi beberapa jam kemudian aku sibuk menyiapkan makan malam kami bersama Yolanda, menunggunya kembali ke rumah dengan berdebar-debar. Bagaimanapun ini kejutan.
Saat suara pintu dibuka kemudian dan dia terdengar menyuruh sopir dan pengawalnya kembali, aku tambah berdebar.
Aku duduk di meja makan, sementara makanan sudah di susun. Dia masuk ke ruang makan masih melihat ponselnya dan pakaian kerjanya. Rambutnya rapi tersisir ke belakang dengan dasi yang sudah sedikit longgar.
"Yolanda, ambilkan aku pastanya..." Dia tak melihatku, masih berdiri sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sementara aku duduk di meja makan.
"Cara...?! Kenapa kau... Kau kesini kenapa kau tidak bilang..." Aku menghampirinya, dia melihatku dan bolak balik melihat meja makan dengan terpesona. "Kau mempersiapkan ini?"
"Steaknya masih di oven." Aku tersenyum, dia masih tak percaya melihat aku berdiri didepannya.
"Kenapa kau tak bilang kau mau datang?" Tangannya merangkul pinggangku sekarang, membawaku mendekat padanya.
"Kejutan..." Dia melihat mataku. "Apa kau tak ingin aku disini..."
"Apa yang kau katakan, aku senang sekali kau disini."
"Hmm...benarkah."
"Tentu saja." Cium aku, aku ingin kau mengatakan itu dengan ciuman. Aku menarik dasinya, mencium bibirnya singkat, membuat matanya mengunciku, membuat dia memelukku lebih erat kemudian, rasanya menyenangkan.
"Beluna... Apa kau lapar." Aku tersenyum padanya.
"Hmm..." Dia tak memperdulikan pertanyaanku, tapi malah menciumku lagi. Akhirnya dia menciumku, membuatku mengalungkan tanganku ke lehernya. "Terima kasih sudah kesini Cara. Aku merindukanmu..." Aku tersenyum senang mendengar pengakuannya.
"Ayo makan,..." Aku menyuruhnya duduk. Dia pasti sudah lapar.
"Kenapa kau tak bilang, aku bisa pulang lebih awal..."
"Yolanda bilang kau pulang sebelum jam delapan, aku tak mau menggangu. Aku membuat pasta kesukaanmu dan ada baked gnocchi." Dia tersenyum melihat-ku mengeluarkan makanan pertama.
"Kau harusnya tak perlu bersusah payah begini." Aku tak memperdulikan perkataannya. Dia lapar aku tahu,...
"Apakah enak..." Aku senang melihatnya makan dengan lahap, tapi aku tetap mau pujianku dikatakannya.
"Kau yang membuatnya pasti enak. Siapa yang bisa mengalahkan Minetti seantero Catania." Aku tertawa. Jika ada yang memuji masakanmu, memakannya dengan lahap, semua yang kau lakukan rasanya terbayar. Walaupun sebenarnya cintaku di dapur tak sebesar Mamma, aku lebih suka di kebun bersama Ayah jika aku bisa memilih.
"Jangan makan terlalu banyak, masih ada steak, nanti kau kekeyangan."
"Akan kuhabiskan setelah makan steak." Aku tersenyum lebar, dia kadang berlebihan. Aku mengambilkannya steak yang masih kupanaskan di oven.
"Kau tiba jam berapa?"
"Tadi jam 4. Yolanda heran bagaimana ada seorang gadis tak dikenal bisa sampai kesini."
"Aku sudah bilang jika itu Monica Minetti dia bisa masuk, aķu bahkan memperlihatkan fotomu, nantu kumarahi dia."
"Tidak, dia ingat saat aku bilang namaku Monica Minetti, jangan memarahinya."
"Benarkah, dia tak mempersulitmu. Dia kadang orang yang sulit."