
"Bagaimana persidangan?" Nathan menelepon sore saat aku dalam perjalanan kembali ke rumah Ayah di Brooklyn.
"Sudah terbuka semuanya. Callaway tak punya celah untuk mengelak lagi, semua saksi memberatkan sudah memberikan kesaksiannya. Pengacara Armando akan menghadapi tuntutan, persidangan reses karena Callaway harus berganti pengacara. Masalah Callaway sudah selesai kurasa."
"Bagus, kita bisa memukul beberapa orang sekaligus."
"Ohh ya aku kembali ke rumah Ayah dulu. Aku ingin bicara dengan Ayah."
"Ohh, tentu. Sepertinya banyak yang harus kalian bicarakan. Ingat kata-kataku dia orang tua yang menyayangimu. Terlepas apapun yang akan kau ketahui nanti."
"Iya, aku tahu. Aku akan menelepon nanti. Bye..."
"Byee..." Aku menutup telepon.
"Sir, ada lagi yang kau butuhkan." Bertepatan dengan itu Liam yang mengantar kami mencapai tempat Ayah.
"Tidak, terima kasih sudah menemani memancing Liam."
"Saya yang berterima kasih Anda sudah berbagi banyak pengalaman Anda kepada kami Sir." Aku sebenarnya binggung kenapa semua pengawal ini bahkan Nathan pun memanggilnya Sir.
"Ayah kenapa semua orang memanggilmu Sir?" Aku bertanya dengan heran di meja makan.
"Karena Ayah senior mereka, alasannya sederhana. Hanya yang pernag bertemu langsung dengan Ayah adalah generasi Nathan. Anak-anak muda itu belum pernah..." Aku berhenti makan sekarang, memproses apa yang kudengar, senior Nathan?! Senior Nathan di CIA?
"Maksudnya senior Nathan di CIA?"
"Iya..." Ayah tersenyum kecil padaku. Aku tak pernah menyangka Ayahku yang kata berprofesi sebagai auditor itu adalah seorang CIA? Selama bertahun-tahun kukira dia dulunya seorang auditor sepertiku ternyata yang dia lakukan adalah agen CIA?!
"Nathan itu murid Ayah?"
"Hmm...dia pernah berada di kelasku." Pantas saja Nathan langsung segan padanya, ternyata Ayah adalah instrukturnya.
"Jadi sebenarnya yang menangkap penculik itu Ayah sendiri?" Pertanyaan selanjutnya yang membuatku binggung.
"Ohh tidak, aku hanya langsung mengetahui ada van aneh yang parkir pada tempatnya dan ada orang yang mengawasiku. Yang membantu menangkapnya tentu saja Liam dan teman-temannya. Tapi Ayah masih kuat merobohkan satu orang dengan sekali pukul, Ayah masih latihan fisik sampai sekarang." Dia tersenyum lebar padaku, aku tak tahu perasaanku rasanya campur aduk, aku bahkan tak bisa makan lagi dengan benar sekarang, kurasa duniaku sudah terbalik.
Jadi semua orang disampingku punya profesi yang sama.
"Makan, kenapa kau berhenti makan. Ayah hanya berkerja sebagai CIA tidak ada yang salah bukan..." Aku mencoba makan tapi masih banyak pertanyaan di kepalaku yang masih harus terus kutanyakan.
"Apa Daniel Heatherton nama asli atau palsu." Pertanyaan pertamaku soal indentitas Ayahku. Dia melihatku, tampaknya pertanyaanku mengenai sasaran, nama yang digunakannya adalah nama palsu.
"Palsu... Namaku sebenarnya Andrey Mironov." Russian?! Itu sebabnya kadang aku merasa aksen Ayahku agak asing walaupun dia berusaha menyembunyikannya. "Ayah merupakan generasi kedua imigrant Rusia. Ayah lahir disini, tapi kakek nenekmu orang Rusia, Bibimu bernama Anastasia Mironov, kami mata-mata CIA yang berkeliaran di Eropa timur, beberapa Paman dan Bibi Ayah masih tinggal di Rusia dan Polandia. Makanya kami dibayar mahal oleh CIA karena kami bekerja seperti kami orang Rusia asli. Kami tak pernah tertangkap sekalipun ..."
"Aku orang Russia..." Aku masih mencoba mencerna kenyataan ini.
"Bibimu sedang mengurus persoalanmu dengan keluarga Kulkov. Seseorang harus menyelesaikannya dan menjadi juru runding agar kau tak menjadi target terus menerus."
"Dan Ibuku?"
"Bukankah dia bernama Yulia Robinson? Apa itu juga bukan nama aslinya..." Saat pertanyaan menenai Ibuku kuajukan dia bersikap serius. Dia berhenti makan dan duduk disampingku. Inilah saat kebenarannya.
"Ibumu...bernama Elena Lyadova. Kami bertemu di Moskow saat itu dan jatuh cinta. Mungkin seperti cinta pada pandangan pertama. Ibumu cantik sepertimu, Ayah tak bisa ... bertahan untuk tak menyukainya pada pandangan pertama."
"Lalu...." Sekarang penjelasan kenapa aku tak pernah tahu keluarga Ibuku pastinya.
"Lyadova adalah keluarga berpengaruh di Moskow dan petinggi militer. Kakekmu membenci segala hal mengenai USA. Dan bisa ditebak dia tidak menyetujui hubungan kami. Ibumu meninggalkan keluarganya demi Ayah, dia tidak akur dengan sifat keras Ayahnya dan bisa ditebak Ayahnya juga orang yang keras, sama seperti Ibumu dia juga orang yang keras kepala. Kami lari dari Rusia setelah penugasanku selesai dan dengan itu petualanganku di Rusia berakhir, aku tidak menginjakkan kaki lagi di Moskow dan menjadi konsultan senior di CIA sekaligus traineer, mungkin sesekali aku masih ke wilayah sana tapi hanya jika benar-benar diperlukan."
"Kita hidup bahagia sampai akhirnya keluarga Ibumu bisa menemukan Ayah." Aku bisa menebak semua cerita ini.
"Kakekmu sangat marah dan keras pada Ibumu, dia menganggap Ibumu mencoreng kehormatan keluarganya, dia mengancam jika Ibumu menemuimu lagi, dia tak melihatmu sebagai cucunya, dia akan melakukan segala cara untuk membunuhmu. Akhirnya ... Ayah harus merelakan Ibumu dibawa keluarganya lagi untuk melindungimu dan mengarang cerita itu..."
Semuanya terjawab sekarang. Aku hanya bisa membayangkan hancurnya hati Ayah dipisahkan dengan Ibu yang dicintainya. Tahun-tahun gelap dimana Ayah hancur dan tak punya harapan untuk hidup. Ternyata ini yang terjadi...
"Beberapa tahun yang lalu Kakekmu meninggal. Kakaknya Ibumu yang memegang pimpinan keluarga memberi izin ke Ibumu untuk menemuimu di London dan Paris untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, itupun dengan mempertimbangkan kau saat itu sedang disana jadi dia langsung mengambil kesempatan itu. Kami jadi banyak bertemu setelah itu..."
"Kenapa dia tidak kembali ke NY..."
"Kau merindukannya bukan..."
"Mungkin setelah beberapa tahun ini kesempatan kita berkumpul lagi. Kau saat itu sedang fokus pada kariermu, jarang kembali ke NY, kami menunggu saat tepat untuk memberitahumu. Seharusnya kami memberiahumu lebih cepat... Tapi Ibumu masih mencari cara untuk keluar dari Moskow lebih sering dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di Italia dua tahun belakangan ini setelah Ibunya meninggal...."
Ternyata kisah Ibu dan Ayah sedramatis itu. Aku tak menyangka ada drama begitu besar dibaliknya.
"Maafkan Ayah baru bercerita sekarang, dulu hidup Ayah rasanya kacau sekali. Sampai Ayah tak bisa berpikir bagaimana menghadapinya. Akhirnya Bibimu menyarankan Ayah mengarang alasan ini sementara agar sementara kau tidak terlalu bersedih dan fokus ke belajarmu, Ayah mengirimmu ke asrama agar kau tak melihat betapa kacaunya Ayah memikirkan Ibumu, kau sekarang sudah bisa berdiri sendiri setelah belasan tahun kami mengarang agar kau tak mencarinya dan membahayakan dirimu. Kakekmu orang yang tidak main-main dengan ancamannya..."
Aku merenung tentang ini. Jadi Ibu tetap memikirkanku.
"Kenapa Ayah tak cerita saja."
"Karena sebenarnya Ibumu beberapa kali mencoba kabur dan tak berhasil. Berapa kali juga Ayah ditelepon Kakekmu dan diancam dalam tahun pertama setelah kepergian Ibumu. Pernah sekali dia berhasil, kau ingat dia pernah menemuimu di San Francisco sekali, Ayah mengungsikannya kesana sebelum entah bagaimana seseorang bisa melacaknya sebulan kemudian. Kurasa karena kau kesana. Jadi kemudian paspor Ibumu dicabut selama Ayahnya hidup , karena dia pernah mencoba kabur, berhasil mencapai NY lagi tapi akibatnya dia kemudian dikirim ke semacam penjara wanita selama dua tahun, kemudian tak bisa keluar Rusia sama sekali sampai kematian Ayahnya membuangnya dari keluarga, walaupun Nenekmu tidak bersikap keras tetap dia tidak bisa melawan Kakekmu yang keras kepala."
"Keadaannya sangat sulit saat itu, aku berharap dia tak melawan Kakekmu lagi, bagaimanapun juga aku dan kau pasti akan menunggunya kembali. Itulah semua yang terjadi. Saat pertama bertemu denganmu di London dia baru berhasil memulihkan paspornya tiga tahun yang lalu. Dia ingin bercerita padamu, tapi dia tahu kau membencinya karena cerita itu, kau waktu itu ingin cepat-cepat pergi dan tak memberikannya kesempatan. Akhirnya dia puas hanya melihatmu dan merasa bersalah."
"Apa sekarang keluarganya masih menentang."
"Saudara-saudaranya tahu penderitaannya dan betapa keras Kakekmu pada Ibumu, setelah Nenekmu meninggal Ibumu mulai mencari cara untuk pindah dari Rusia dibantu Saudaranya."
Aku sekarang berpikir apa Ayah berniat akan menetap di Italia bersama cinta sejatinya ini. Sungguh kejam selama ini mereka harus dipisahkan seperti itu.
"Dad, apa kau juga mau tinggal di Italia." Aku menatapnya.
"Ibumu ingin bisa tinggal di US dan lebih sering bertemu denganmu sebenarnya, tapi kau baru sekarang kembali ke NY. Dia sedang berusaha mendapatkan permanent resident di Italia, dia membeli satu wineyard disana. Itu indah sekali ...Kau harus melihatnya Natal ini."
"Baiklah aku akan kesana. Kau harus pergi kesana duluan dan tinggal disana jika kau ingin, kalian sudah lama berpisah."
"Kadang dia kesini... Sebelum kau datang, Ayah juga kesana..." Jadi ini alasan Ayah sekarang terlihat lebih bahagia.
"Kau harus ke sana Dad, pasti udara disana baik untukmu... Nanti jika kalian bosan kalian bisa mengunjungi kami di NY, kita ke sana Natal ini. Tapi Ayah bisa pergi dulu jika Ayah ingin. Jemput aku di bandara saja..." Aku tersenyum padanya, sedih memikirkan dia terpisah dari Ibu begitu lama. Mereka pasti sangat menderita selama bertahun-tahun ini.
"Kau tak merasa kesepian?"
"Aku akan mengunjungi kalian, dan kalian bisa kesini. Yang penting kalian bersama dan menghabiskan waktu bersama. Bisnis disini biarkan aku bantu Ayah mengontrolnya, tapi kurasa ini bisa tanpa kehadiran Ayah bukan. Aku akan mencari orang jika aku tak bisa. Ayah bisa pensiun dengan tenang dan jalan-jalan bersama Ibu..." Dia tersenyum.
"Kau tak marah pada kami..."
"Kenapa aku marah. Aku ingin melihat kalian bahagia." Air matanya menetes sekarang di depanku dia memelukku.
"Kadang Ayah merasa tidak adil padamu banyak melepasmu sendiri. Ayah dan Ibumu orang tua yang buruk.
" Anakmu ini sudah besar, aku hanya ditendang lebih awal 3 tahun dari rumah. Lihat aku sekarang, tak ada yang perlu dikhawatirkan..." Aku tertawa dalam pelukannya. "Dad, kalian berjuang tetap bersama selama bertahun-tahun. Kalian tetap memikirkanku... Sekarang kalian harus bersama, pergilah ke Italia, Ibu menunggumu disana..."
Dia melepasku.
"Baiklah, Ayah akan membereskan beberapa hal, dan memesan tiket di pertengahan Desember... Kita lihat nanti saja. Tapi kau harus berjanji akan kesana begitu kau bisa mengambil liburan."
"Iya aku akan kesana secepatnya." Ayah terlihat lega.
"Kapan kau menikah, mungkin Nathan bisa bersamamu menjagamu. Ayah lebih tenang jika harus tinggal disana. Itu jauh..."
"Akan ada saatnya Ayah. Jangan memaksanya, dia pria yang baik..."
"Aku merasa buruk sekarang, meninggalkanmu lagi dan mengharapkan seseorang menjagamu." Aku tertawa.
"Dad, kau harus membawaku ke Russia kapan-kapan..."
"Iya, Ayah akan mengajakmu ke tempat kelahiran Ayah di Smolensk nanti. Ada Paman Ayah di Polandia juga. Kau putri yang baik..."
Kami bercerita sampai larut, seperti kami tak pernah melakukannya sebelumnya. Menceritakan banyak hal yang belum pernah diungkapkan satu sama lain.
Rasanya duniaku sempurna sekarang, aku merasa dicintai, penuh oleh kedua orang tuaku. Dan ingin segera bertemu Ibu, mengatakan aku juga merindukannya.