The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 59. Confused



"Makanlah dulu, kau belum makan dari tadi." Dia mengeluarkan steak dan burger yang dibelinya. Membuatku duduk sementara dia menyiapkan peralatan makan untukku di dapur.


"Masih sakit?" Aku cuma menggeleng dan mulai memotong steakku, entah kenapa lenganku jadi sakit sekarang, dia memperhatikanku. "Kenapa tanganmu sakit."


"Tak tahu kenapa bisa sakit, ... biar ku potongkan." Dia langsung duduk disampingku dan mengambil piringku. "Tembakan sedikit banyak pasti mempengaruhi otot-otot disekelilingnya. Nanti setelah sembuh kau harus latihan lagi." Dia bicara seperti dokter sekarang, aku hanya memperhatikannya.


"Buka mulutmu..." Dia menyuapkan potongan yang dibuatnya, aku kaget dari lamunanku.



"Aku bisa makan sendiri." Dia tak perduli dan mendekatkan potongan steak itu. Aku tak bisa menahan diri untuk tak berdebar sekarang saat mata gelapnya menatapku.


Dia makan dari piring yang sama. Bergantian mengiris dan memotong untuk kami berdua. Aku melihatnya duduk disampingku seperti dia sudah terbiasa dekat denganku.


"Kau mau potato wedgesnya, makanlah pakai tangan kiri." Dia mengambilkan garpu untukku.


Kapan terakhir kali aku disuapi seperti ini, aku tak bisa mengingatnya. Rasanya sudah lama sekali. Kenapa rasanya aku baru tahu aku kesepian sekarang. Pekerjaan yang rumit, hubungan palsu atas dasar pertemanan mengisi hidupku, kupikir aku baik-baik saja, baru kali ini aku merasa mellow begini karena aku bahkan tidak ingat siapa yang pernah menyuapiku. Kesepian... merasa tidak ada yang bisa kupercaya...


"Kau diam sekali, kau baik-baik saja."


"Aku baik."


"Kau marah padaku karena aku menjebakmu? Aku menyelesaikan masalahmu juga bukan?"


"Menyelesaikan dengan hasil ini." Aku menunjuk ke lukaku.


Jika dia punya izin untuk melakukan operasinya. Apakah bisa orang kaya seperti dia punya operasi khusus. Kenapa dia punya jaringan gangster di seluruh dunia. Dan semua pengawalnya itu apa mereka semacam pengawal yang terlatih di pasukan khusus.


"Kenapa kau melakukan ini. Kau bisa menendangku keluar saja jika kau tidak percaya padaku."


"Kita teman, aku tak pernah menendang temanku... " Dia tersenyum kecil, menatap mataku lurus tanpa takut dan menyuapkan steak terakhir di porsi itu kemudian mengambil porsi berikutnya dan mulai memotong lagi. Aku tak percaya perkataan temannya.


"Kau memperlakukan semua teman wanitamu setengahnya sebagai kekasih..."


"Hanya yang pernah tidur denganku kuperlakukan begini, kita sudah mengenal terlalu jauh..." Mukaku langsung panas mendengarnya. Dia menatapku lagi dengan lekat, aku tak bisa bertahan dengan tatapannya, aku memalingkan tatapanku menghindarinya.


"Amanda sudah tidak mengejarmu lagi."


"Jika masih pun tak ada pengaruhnya. Kenapa? Kau merasa tersaingi dengan Amanda?" Dia tersenyum kecil. Kenapa aku selalu merasa dipermainkan olehnya. Karena dia targetku... Dan aku tahu dia tidak mempercayaiku. Sekarang aku memilih tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku sudah kenyang, aku kembali ke kamarku saja." Sekarang kamarku adalah tempat teramanku untuk sementara.


"Kau harus minum obatmu jangan lupa."


"Iya, terima kasih." Aku berusaha tersenyum dan naik ke atas. Merasa tertekan karena perhatiannya. Jika aku bisa mempercayainya.


Tapi kami disisi yang berbeda sekarang.