
Dan kisah cintaku kedua pun berakhir layu sebelum berkembang. Air mataku jatuh kembali. Menangisi seseorang yang kusukai dan aku tak berdaya tak bisa bersamanya lagi.
Bibi yang datang hanya menghela napas melihatku berurai air mata.
"Anak malang. Kau benar-benar menyukai Ryohei-san." Dia mengelus kepalaku dengan simpati, membuatku tambah menangis.
"Apa Bibi pernah bersama seseorang Bibi."
"Hmm... pernah. Itu memang membahagiakan. Mungkin kau bisa menyukai Hisao-san nanti, bukankah dia juga baik."
"Bibi buat apa aku menyukainya. Sesaat kemudian dia akan jadi milik istrinya. Dia cucu pertama Tuan Yamada. Aku hanya ditugaskan untuk menyingkirkan wanita bernama Aoki itu."
"Anak malang..., musim semi tahun depan jika ada jodoh kau bisa bicara lagi dengan Ryohei-san, kau harus bersabar. Bagaimana jika Bibi memberimu liburan hari ini, ayo kita jalan-jalan saja." Bibi berusaha menghiburku.
"Tidak, aku hanya akan terus menangis sepanjang malam. Aku bekerja saja..." Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku sudah putus cinta.
"Kau yakin?"
"Hmm..." Lebih baik aku bekerja saja, mungkin tertawa bersama klien akan membantu. Bibi meninggalkanku sendiri kemudian.
Aku melihat ponselku. Kebanyakan adalah nomor klien, satu nama membuatku terhenti.
Tuan Tan. Aku sebenarnya ingin mendengar kata-katanya lagi. Dia di Jakarta bukan.
'Tuan Tan, bagaimana kabarmu. Apa kau baik-baik saja.' Aku mengirimkan pesan singkat padanya.
Lama tak dibalas, tapi kemudian aku mendapatkan dia membalasku dengan telepon.
"Hallo, Setsuko-san? Kau baik-baik saja? Kau ada masalah?" Dia memang berlaku seperti seorang Paman yang perhatian. Aku tertawa kecil mendengar nada khawatirnya.
"Aku... Baik. Maaf aku menggangumu."
"Ada apa... Kau mau cerita." Mataku berembun lagi dengan sekarang. Kurasa ini karena periodeku? kenapa aku gampang sekali menangis hari ini.
"Tidak, tidak ada apapun. Terima kasih menelepon ku kembali. Kau Paman yang sangat perhatian." Sementara mataku mengeluarkan bulir air mata lagi dan aku terisak.
"Setsuko-san, kau membuatku kuatir. Apa nyawamu terancam." Dia langsung bertanya ke level kekhawatiran tertinggi.
"Tidak kurasa, aku tidak akan bunuh diri."
"Setsuko-san kau benar-benar membuatku khawatir. Kau ingin liburan ke Jakarta? Kukirim tiketnya padamu sekarang juga. Kau tak perlu visa kesini, siapkan paspormu saja..."
Dia benar-benar baik dan menganggapku keponakannya. Aku tak bisa mengapai hatinya tapi dia benar-benar memperlakukanku sebagai keponakannya. Aku terhibur dengan kenyataan semua orang yang kusukai punya perhatian besar padaku.
"Tidak, nanti akan ada masalah lagi, bukan aku saja tapi kau juga."
"Masalah apa? Kau menangis meneleponku membuatku khawatir. Apa aku harus ke Kyoto?" Dia bahkan rela terbang ke Kyoto. Dia begitu bertanggung jawabkah karena dibawah pengawasannya Ayahku meninggal.
"Tidak, ini tak seperti yang kau bayangkan. Aku hanya sedang ... putus cinta. Aku minta maaf,...aku hanya ingin mendengar seseorang menghiburku. Maafkan aku..." Dia tertawa.
"Setsuko-san, kau membuatku khawatir. Tapi kenapa ke Jakarta membuatmu mendapat masalah."
"Lupakan saja aku tak bisa cerita padamu." Bagaimana cerita padanya soal Hisao.
"Kau tak bisa cerita padaku? Kau tak bisa kesini karena aku juga akan dapat masalah? Sebenarnya ada apa? Kenapa aku sekarang sangat binggung."
"Aku sudah lebih baik, karena Derrick-san sangat baik."
"Bulan depan aku ke Tokyo sebentar, aku akan menemuimu."
"Jangan!Kau tak boleh menemuiku!" Dia diam. Jika Hisao tahu Derrick-san menemuiku, dia akan emosi lagi. Dan akan ada masalah baru lagi..."