The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 63. Risk for a Question 4



"Ayo, biar kulihat."


"Menjauhlah, kau senang sekali mempermainkan orang." Aku meringis kesakitan.


"Aku tak akan menyakitimu, berapa kali kubilang itu padamu. Biarkan aku melihat lukamu apa terbuka atau tidak, jika terbuka kita ke dokter sekarang, jangan keras kepala!" Sekarang dia menaikkan nadanya padaku.


"Aku membencimu..."


"Aku tahu. Tak usah kau katakan pun aku tahu. Biarkan aku melihat lukamu..."


Aku terpaksa membiarkan dia melepas t-shirtku. Meninggalkan aku dengan hanya sport br*aku. Dia membuka perban yang menempel di bahuku seperti terbiasa melakukannya.


"Tidak terbuka, tapi tertarik, kau baik-baik saja. Biar kuganti perbannya sekalian." Tindakannya membuatku merasa dia serius dengan perkataannya dia akan melindungiku. Dia bekerja menganti perbannya dari kantong obat di samping nakas tempat tidurku dalam diam. Tidak berusaha bicara denganku lagi.


"Kenapa? Kenapa kau tidak menyingkirkanku saja." Dia melihatku dan tersenyum dengan pertanyaanku.


"Entahlah, awalnya kupikir kau gadis yang baik. Kau bekerja keras membuktikan dirimu sendiri dengan cara yang tidak mudah, aku mungkin kasihan padamu, kau juga melakukan beberapa hal untukku. Kau cantik, pintar, terlalu baik hati, walaupun kau sedikit licik juga tapi kau harusnya tak menjebak dirimu sendiri disini bersamaku. Tapi karena kau sudah disini... Yang harus kau lakukan adalah menurutiku. Jangan melawanku, turuti semua perintahku, kau tak melakukan kejahatan apapun, kujamin bahkan kau bisa kembali ke agensi jika menurutiku.."


Apa aku tak punya jalan keluar lagi sekarang? Apa aku harus mengatakannya? Dia bisa mempertahankanku di agensi? Apa dia serius dengan kata-katanya.


"Kau bisa mempertahankanku di agensi?"


"Kita dalam satu sistem. Bossku berkuasa atas sistem itu. Bersikaplah normal. Kau hanya harus menurutiku. Lagipula bossmu meninggalkan kau bersamaku, apalagi yang bisa kau lakukan..."


Aku tak tahu apa aku bisa mempercayainya, tapi seperti katanya apa sekarang aku punya pilihan. Dia pasti orang pemerintah sepertiku. Dia pengusaha, punya pengawal elit, teman-temannya gangster dari seluruh dunia. Dia bahkan berjanji mempertahankan statusku dalam agensi, pilihan apa yang kupunya sekarang.


"Namaku asliku Kate Heatherton..." Aku mengatakannya tanpa melihat padanya. Rasanya terhina harus membongkar penyamaranku.


"Kate Heatherton, aku akan mengecek namamu dulu nanti. Aku masih suka memanggilmu Nathalie. Orang tuamu tinggal di mana?"


"Kau ingin mengunakan keluargaku untuk mengancamku? Lebih baik kau bunuh aku saja, jangan libatkan keluargaku. Apa kau tidak punya kehormatan." Aku melihatnya dengan marah.


"Pemarah sekali, siapa yang melibatkan keluargamu. Aku hanya bertanya padamu..." Nathan menjawabku dengan tenang.


"Ayah Brooklyn, Ibu San Francisco."


"Ohh ternyata Ayahmu masih hidup, kau tinggal bersama Ibu atau Ayah? Orang tuamu bercerai?"


"Pasti berat..." Aku tak menjawabnya sekarang. "Tapi semuanya sudah kau lalui bukan, lihat dirimu sekarang, menjadi agen FBI, itu tidak mudah."


Aku tak menjawabnya.


"Selesai, ..." Dia bahkan membantuku memakai bajuku sekarang. Kenapa dia manis sekali, apa ini bagian dari rencananya untuk mendapatkan nama bossku. "Kau harus bersiap-siap ke kantor polisi, selesaikan urusanmu. Jika kau butuh bantuan katakan padaku."


"Kau tak bertanya siapa bossku?"


"Katakan saja jika kau sudah siap." Aku ingin merundingkan syaratnya.


"Katakan jika aku sudah siap?" Apa sebenernya maksudnya. Nathan tersenyum padaku.


"Apa yang kau pikirkan tentangku Nathalie? Coba katakan padaku..."


"Kau mengelola dana siluman besar, mencuci uang banyak orang, tapi jika kau juga terhubung dengan sistem, artinya kau ...memegang rahasia banyak orang."


"Itu tidak salah. Tapi itu hanya untuk melabeliku penjahat saja. Aku melakukan banyak hal yang lebih penting dengan itu. Dan yang menyuruhmu itu hanya berpikir tentang besarnya uang yang kupegang saja..."


"Lalu apa yang sebenarnya kau lakukan..."


"Aku tak bisa mengatakannya padamu Nathalie sayang. Bossmu dan orang yang berada di belakangnya hanya bisa meraba-raba tentang aku, tapi mereka tidak tahu siapa yang ada dibelakangku, bagaimana aku beroperasi, kau hanya dipasang sebagai pengawas disini, tanpa hasil, aku bisa menyelesaikan mereka kapan saja, begitu aku tahu nama bossmu aku bisa menyelesaikan ini dari dalam, tak ada yang berani main-main dengan bossku dan aku hanya perlu tahu siapa yang mencoba usil. Tapi jika kau mau mengatakannya sekarang juga boleh? Tapi tampaknya kau belum mempercayaiku?"


Aku merasa aku sepenuhnya dalam kontrol permainannya.


"Kau binggung bukan Kate ... Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Untuk sekarang kurasa tak ada bahaya untukmu, ... Selesaikan urusanmu, tetaplah menjadi Natalie. Aku akan pergi." Dia menyentuh rambutku. Merapikannya dan sejenak membuatku terkejut. "Kau tak mau melihat Ailes yang ditangkap orangku?"


"Tidak..."


"Baiklah, aku akan mengirimkannya ke LA langsung." Dia pergi meninggalkanku begitu saja kemudian.


Aku duduk diam di bedku. Tak percaya apa yang sudah kulalui hari ini. Dia hanya perlu mengancamku untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Dia bahkan tak memaksaku mengatakan siapa bossku. Dia terlalu percaya diri bossku tak bisa menyentuhnya.