The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 48. Christmas Party 4



Kami bertemu dengan teman-temannya kemudian. Jaringan distributor dan teman-teman bisnis keluarga Luca. Menemaninya bicara dengan yang lain, memujinya sebagai partner bisnis yang briliant didepan pria dan wanita lain. Lagipula tak ada yang tak mengenal gadisku di pesta ini. Dia memang membanggakan bukan. Aku bangga berjalan di sampingnya.


"Guilio, gadis-gadis di pesta ini berkali-kali memberi kedipan padamu." Aku mengajaknya berdansa, setelah terlalu banyak gadis yang mengajakku berdansa tadi dan aku menolaknya dengan bermacam-macam alasan yang kadang memicu seringai lucu di bibir Monica. Dia menikmati drama didepannya dan sekaligus membuatku sakit hati tak dianggap.


Dia mengatakannya dengan senyum dibibir, seperti sebelumnya dia menikmati melihatku di goda oleh para gadis pemiķat itu. Yang dia tidak tahu adalah aku lebih terpikat padanya. Sehingga aku ingin menciumnya saja sekarang. Terlebih aku bisa merengkuhnya begitu dekat disini. Perasaan menginginkan seseorang begini tapi tak bisa menyentuhnya ini siksaan sekaligus permainan yang kunikmati.


Menginginkannya tapi  harus menunggu, aku  tak bisa menyentuhnya jika aku mencoba merayunya seperti aku merayu gadis lain dia akan menendangku.


"Biarkan saja, ... itu hak mereka berusaha." Dia meneliti wajahku. Membuatku melihat bibirnya.


"Kau begitu cantik malam ini, mau kucium cara mio..." Aku tak bisa menahan diri mengatakan itu, akan memanggilnya Cara Mio seumur hidupku.


"Akan kuhajar kau kalau kau berani menciumku." Otakku mengatakan dia serius akan menghajarku dan rencanaku buyar  seketika. Tidak godaan menciumnya dengan paksa itu tak akan berakhir baik disini.


"Kau memang kejam tak diragukan lagi..." Dia masih memcoba menyangkal sikapku, aku akan biarkan dia menebak-nebak sampai saat aku mengatakannya.


"Jangan menggoda sahabatmu, jika kau tak tahan hidup selibat, lebih baik kau mengajak seseorang ke Canary. Aku akan menghajarmu jika kau kurang ajar disana..."


"Aku tahu kau akan menghajarku. Tapi bagaimana jika aku bersedia menerimanya..."  Dia menatapku.


"Apa kau sedang mencoba sesuatu disini Guilio." Dia memandangku sambil berpikir apa aku sedang merayunya.


"Aku hanya mencoba membuatmu tersenyum, percayalah."  Aku menatapnya tanpa takut sambil memeluk pinggangnya dan mengikuti irama musik.


"Ohh ya, kau ingat Canary Island punya hiu, Giulio..." Dia mengancamku dengan hiu?! Luar biasa.


"Itu tergantung perilakumu disana." Dia mencibir padaku.


"Aku akan bersikap baik. Aku berjanji. Jangan terlalu kejam mengumpankanku pada hiu. Bagaimana jika ikan badut saja mereka sangat lucu dan penyayang."


"Aku serius akan mengumpankanmu pada hiu." Dia mulai serius mengancamku lagi, nampaknya dia sudah punya prasangka buruk padaku. Dia mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi disana padahal yang kuinginkan hanyalah membuatnya bahagia selama lima hari itu. Aku memang brengsek selama ini, tapi itu kadang kesalahan mereka sendiri yang menawarkan diri terlalu cepat.


"Hmm... Kurasa aku menerima resiko apapun  seperti yang kau bilang. Kau temanku dan selamanya akan tetap begitu."


"Apa sebenarnya yang kau maksudkan, kau sedang mencoba jurus Bova padaku."


"Jika aku mencoba itu Zia akan membunuhku. Aku masih suka dengan masakannya. Ini cuma liburan Monica, kenapa kau berpikir terlalu buruk, kita bahkan membawa Ibumu, apa yang berani kulakukan." Dia menakar apa yang kukatakan.


"Hmm...kau sebaiknya berhati-hati dengan perilakumu disana, jangan mengecewakanku atau kau akan berakhir di gigi hiu laut Atlantik." Dia mengancamku saat kami berdansa . Hanya dia yang melakukannya. Hanya satu-satunya wanita yang mengancamku jangan mencoba menggodanya.


"Monica aku hanya mengajakmu liburan."


"Selama ini kau tak pernah liburan denganku. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu..."


Aku ingin balas menertawainya sekarang, kenapa dia tegang sekali, kami bersama orang tua kami. Apa yang mungkin kulakukan.


"Pikiranku cuma satu. Liburan ...apa lagi. Kau sangat lucu. Orang mengajakmu liburan keluarga saja kau curigai kemana-mana." Aku tertawa, tidak aku tidak akan menggodanya lagi malam ini.  Nanti dia membatalkan ikut... Rencanaku akan kacau.


Dan itu hal yang tidak boleh terjadi. Dia harus sampai ke Canary Island