The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 52. Gianni End



“Tuan, di depan ada tamu. Tuan Antonio Segni, Vittorio dan  Fabricio Bova datang pengacaranya datang. Katanya mereka membawa sebuah kesepakatan untuk Anda.” Assistennya memberitahu berita yang sudah dinanti-nantikannya.


“Ohhh, kesepakatan. Akhirnya mereka bersedia untuk sebuah kesepakatan juga.Bilang  ke Anthony untuk menemaniku.  Bawa draft kesepakatan yang telah kita susun.” Tentu saja Allesio Gianni masih merasa berada diatas angin, dia tidak tahu apa yang telah terjadi di Vermont. Walaupun dia cukup heran kenapa Antonio Segni politisi veteran itu perlu datang, tapi mungkin karena mereka sudah kehabisan pilihan. Lagipula sudah setengah bulan dari penyanderaan itu, pasti kakak perempuan itu sudah putus asa dan ketakutan adiknya tidak bisa kembali.


“Sir, aku siap dengan draftnya.” Pengacaranya  pun tidak tahu apa yang terjadi.


“Ayo kita habisi mereka. Kali ini nampaknya mereka sudah menyerah.” Gianni masih tersenyum lebar, berjalan dengan gagah ke  ruang pertemuan dan membayangkan mereka akan bisa menekan kesepakatan yang sebelumnya alot itu.


“Tuan Antonio, Vittorio, bagaimana kalian bisa kesini tanpa memberitahuku.  Harusnya aku mempersiapkan jamuan untuk kalian.”


“Tak usah repot Tuan Allesio, saya rasa Anda akan menyesal menjamu kami.” Antonio Sergio tersenyum padanya. Sebuah perasaan tidak enak menyelip mengintainya, kenapa pimpinan group lawan ini malah seperti senang bertemu dengannya. Sepertinya  ada yang tidak beres terjadi. Lagipula biasanya Tuan Segni paling sulit diajak membantu kesulitan yang begini,kenapa si tua licik ini sekarang malah bersedia membantu Bova berunding.


“Apa  maksud Anda Tuan Antonio, saya sebenarnya mengharapkan pertemuan ini. Anda tahu saja sudah meminta maaf dengan berbahagai cara, tapi mereka tidak menghargai itikat baik saya, jadi terpaksa saya melakukan hal yang sebenarnya  tidak perlu. Anda bisa sampai kesini, untuk meminta kesepakatan, karena saya juga sudah didorong demikian rupa oleh keluarga  Bova. Saya kira mereka harus memohon agar Anda membantu  mereka.” Sampai sini Allesio Gianni masih berbangga hati atas kepintarannya.


“Tuan Gianni, Anda memang tak punya kerendahan hati sejak dulu. Sangat disayangkan, tapi kali ini mungkin Anda akan belajar banyak.” Antonio Segni tertawa. “Fabricio, karena kau yang mengatur semua ini , kau saja yang bicara.”


“Terima  kasih Tuan Segni.” Tuan Armando memberikan map yang dibawanya kepada Fabricio Bova.


“Tuan Gianni, ini gambar tiga penculik yang Anda sewa, sebenarnya mereka sudah ditangkap sejak dua hari yang lalu,...” Sekarang Fabricio Bova mengangsurkan foto tersangka yang dikirimkan oleh FBI.  Gianni sekarang terbelalak tak percaya apa yang dia lihat.


“Kau tahu Tuan Gianni, generasi muda Tuan Bova ini punya koneksi menggagumkan. Aku tak tahu darimana dia mendapatkannya, tapi kuancungi jempol.”


“Sebenarnya, kami sudah tahu  kemana arah penculikmu membawa Valentina di hari ke-3  penculikan. Tapi memastikannya di hari  ke 12 karena orangmu muncul di tempat yang tepat. Jadi Tuan Allesio Gianni, mungkin sekarang saya harus bertanya berapa usia Anda sekarang. Karena mungkin Anda akan menderita banyak komplikasi di penjara. Saya sebenarnya tidak tega, tapi melihat ayah dan anak mungkin harus bersatu di  penjara terlalu kejam, apalagi sampai membiarkan mungkin Anda berdua menghabiskan sisa hidup di penjara. Tanya dua pengacara di samping kita apa itu mungkin atau tidak...” Fabricio Bova sekarang menyuruh pengacaranya berbicara.


“Sayang sekali Tuan  Gianni, jaksa bisa memaksa Anda hukuman yang begitu berat dengan berbagai  cerita ini. Saya tidak berani membayangkan, terlalu kejam . Tapi jika Anda tidak percaya mungkin Anda bisa bertanya pada pengacara Anda sendiri.” Sekarang Tuan Armando, sang pengacara Bova yang bicara yang sebenarnya, baginya kali ini seperti hanya  menemani Fabricio Bova bicara saja. Jarang-jarang bisa melihat kehancuran orang sombong seperti Allesio Gianni.


Dua orang didepan mereka sekarang tidak bisa bicara.


“Saya dan  Paman saya kasihan pada Anda, saya membawa Tuan Antonio Segni untuk membantu Anda.  Tenang saja masalah file ini, bisa kita  anggap tidak ada dengan perundingan khusus.” Semua orang  diam, mereka memberi waktu bagi Allesio Gianni untuk menerima kenyataan bahwa dia sudah dikalahkan dengan telak.


“Bagaimana... kalian...” Sekarang dia terbata-bata membalas. Tak ada yang bisa dikatakannya sekarang.


“Saya sudah mengatakan  kepada Anda untuk berhati-hati mengambil jalan pintas, salah-salah Anda malah terbenam dalam kubangan Tuan Gianni. Tapi mungkin kami bisa menarik Anda dari kubangan yang Anda cari sendiri. Tapi tentu saja kali ini harga yang  Anda bayar sangat jauh berbeda dari hanya menyerahkan proyek kepada kami.” Giliran Vittorio Bova yang bicara.


Allesio Gianni duduk menyandar sekarang. Dia sudah tak punya harapan lagi. Dia menghela napas panjang, mempersiapkan hari mendengar berapa yang diminta Bova dan Segni, sebagai harga pertolongan mereka. Dia sudah dikalahkan, jika dia tidak menyerah sekarang, taruhannya adalah mereka harus menghabiskan hidup mereka di penjara. Dan tidak Allesio Gianni  tidak  ingin akhir hidupnya ada di balik jeruji.


“Saya mendengarkan, ...” Gianni mengibarkan bendera putih.


“Baik, dengarkan ini. Pertama tentu saja  Anda harus mundur dari proyek di Palermo. Itu DP awal kesepakatan kita.” Vittorio Bova tersenyum lebar.


Sebelum pengacaranya melanjutkan bagian keduanya “...kedua, penghitungan ulang semua hutang piutang nama-nama dibawah ini, sesuai dengan rincian dibawah ini, memakai bunga normal, pengembalian asset tersita 30 orang ini, dan ganti  rugi karena intimidasi Anda masing-masing  200,000 uero, penjadwalan  ulang. Khusus Carnalis, semua hutang dihapuskan, ganti rugi 50,000 uero. Sampai disini Anda setuju.” Pengacara Armando mengangsurkan perincian.


“Setuju. Lanjutkan.” Ini bukan apa-apa, belum masuk ke pembayaran sebenarnya.


“10%  pengalihan saham x 2 atas nama keluarga kami, di masing-masing dari 3 perusahaan utamamu. Nama dan jumlah yang kami minta tercatat  di lembar ini. Serta 10 juta uero cash untuk menyuap semua orang yang terlibat meloloskanmu dan anakmu. Anakmu akan diberi 7 tahun penjara. Itu  minimal yang kami usahakan karena kasusnya sudah terlanjur diketahui publik, jauh lebih baik dari 30 tahun bukan, plus kau terlepas dari masalah ini.” Vittorio Bova memberitahu menu utamanya.


“Kalian benar-benar pemeras!” Allesio Gianni naik pitam mendengar jumlah itu. Dia berdiri menunjuk Vittorio Bova yang hanya melipat tangannya di depan dada.


Antonio Segni berdiri dengan berang.


“Allesio Gianni, kau mengatakan aku pemeras! Kau bermain-main  dengan nyawa orang! Anakmu menggunakan anak gadis orang seperti budaknya, kau menghisap hasil  kerja keras orang lain seperti  kau tuan tanah dan mereka budakmu dan bahkan kau mencoba membunuh gadis yang lainnya. Jika kau tidak mau akan kubiarkan kalian membusuk di perjara, Ayah dan anak, biar kalian tahu rasa apa rasanya di perlakukan seperti budak disana. Ini harga yang pantas untuk nyawamu dan anakmu!” Sekarang  dia terduduk lagi setelah dibentak oleh Antonio Segni.


“Kau mau ambil atau tidak?! Aku tak mau membuang waktuku!” Sekali lagi Antonio Segni membentaknya.


“Vittorio, ayo kita pergi. Biarkan saja dia membusuk di penjara, rasanya lebih bagus meminta nyawanya.” Mereka bersiap angkat kaki, Antonio  Segni adalah orang yang lugas, ambil  atau tinggalkan hanya itu pilihannya. Tak ada negosiasi.


“Bagus, pilihan yang bijak untuk menyelamatkan nyawamu. Pengacara akan memeriksa apa kau sudah menjalankan kewajibanmu sebelum sidang dimulai.”


“Tuan Gianni, jika kau mencoba membalas kami. Aku tak akan mengambil pengantian uang lagi, tapi nyawamu, bagiku uang tak ada artinya dibanding ketenangan  hidup. Jika kau mencoba kau akan menangis darah melihat anak-anak keluarga Bova  membalasmu. Kami tak takut penjara Tuan  Gianni. Setelah ini kau akan berpikir ratusan kali jika mau melawan kami secara langsung. Kau akan lihat kehancuran  keluargamu sampai anak cucumu...” Vittorio Gianni memperingatkannya dan berbalik pergi.


Mereka pergi dengan kemenangan besar. Kali ini Bova menjadi  sekutu dekat Antonio Segni, plus semua biaya yang mereka keluarkan untuk kasus ini kembali dengan  berkali lipat.


“Kau pemuda yang hebat, bisa memenangkan kasus ini dari Gianni. Di masa depan, kita akan sering bicara.”


“Terima kasih Tuan. Ini berkat bantuan Tuan juga yang percaya  pada saya...”


Case Gianni dimenangkan dengan jalan tengah. Permainan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa dan akhirnya dimenangkan oleh Fabricio Bova. Kali ini giliran Gianni merasakan bagaimana hasil kerjanya diambil begitu saja 20%nya oleh orang asing. Karma datang padanya berbalik seperti yang dilakukannya ke orang  lain.


“Halo sayang.” Fabricio Bova datang menjumpai kekasihnya setelah dia selesai dari tempat Gianni.


“Kelihatannya kau sedang senang?”


“Hmm, kita sudah membuat kesepakatan. Sudah selesai Gianni kalah dan setuju membayar upeti perang ini.” Fabricio Bova membiarkan kekasihnya melihat semua kesepakatan yang mereka buat.


“Astaga, semua ini ditukar dengan 7 tahun penjara.”


“Mereka kaya, dan selalu membanggakan uang mereka.Itu penawaran yang pantas daripada mereka mati mengenaskan di penjara.”


“Aku tak punya hutang lagi ke mereka? Malah mendapat penggantian 200.000 euro?!” Hutangnya ternyata lunas begitu saja, malah dia mendapat 200.000, Eliza menjadi terbelalak melihat  bagaimana keadaan berbalik.


“Iya. Harga  yang dibayar untuk menembakmu dan menculik adikmu. Kau bisa menggunakannya untuk membiayai kuliah Valentina, itu lebih dari cukup.”


“Semua biayamu untuk membayar orang di US? Biaya rumah sakit, pengacara, pengawal, biaya deal ke orang-orang di belakang pengadilan?”


“Jangan kuatirkan itu,  itu sudah  terbayar di 10  juta itu, mana mungkin aku mau rugi, mereka yang membayarnya tentu saja. Semuanya lunas, banyak lebihnya, kau tenang saja.” Bova tersenyum lebar, Eliza menatapnya dengan tak percaya.


“Sayang kau itu sangat licik dan sangat perhitungan.” Itu sindiran sekaligus pujian.


“Terima kasih atas pujianmu....” Fabricio Bova tertawa, siapa suruh Gianni  mencari masalah dengan dirinya sehingga dia membuat perhitungan sedemikian rupa.


“Sekarang aku tak membutuhkan pengawal lagi?”


“Tidak, tapi tugas mereka sampai akhir minggu ini. Jadi terserah padamu.”


Eliza menyandarkan diri pada Bova. Setengah tak percaya mereka bisa mencapai kesepakatan begitu rupa.


“Aku mau kembali ke kehidupanku yang dulu. Tapi aku mungkin akan  membutuhkan sopir sebentar. Juan  mungkin mau bekerja denganku sebulan lagi....”


“Tentu kau tinggal memintanya.” Eliza menghela napas lega. Akhirnya ini selesai hari ini, setelah melalui banyak hal. Langit menjadi cerah.


“Terima kasih banyak.” Dia mengenggam tangan Bova.


“Kau sudah mengatakannya lebih dari 100 kali Vanilla.” Bova tersenyum pada gadisnya itu.


“Aku akan mengatakannya seumur hidupku jika begitu.”


“Aku berdoa bisa membahagiakanmu seumur hidupku jika begitu.”


Itu  janji yang indah. Eliza pun berdoa semoga mereka bisa melihat satu sama lain berbahagia sampai akhir hidup mereka.