The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 21. We're Friend Only 1



Apapun yang terjadi jangan jatuh cinta padaku...


Landscape Taormina terbentang di depanku. Teluk berkilau, dengan cahaya bulan meneranginya. Terlihat seperti sihir yang berjalan di udara. Udara memang dingin, tapi pemandangan  ini terlalu indah dilewatkan. Aku sudah lupa bagaimana rasanya berjalan dengan pria tampan, dengan wanita-wanita lain menatapmu dengan iri.



Raoul bisa memberikan perasaan  melambung dan  bangga  itu, aku mabuk dalam pesonanya.


“Tuan Bova, Anda disini, apa yang bisa saya lakukan untuk Anda.” Seorang manager tempat ini mengenalinya.


“Juan, bisa minta tempat yang disamping itu, apakah penuh?”


“Ini akhir pekan, ehm...” Managernya terlihat binggung, aku melihat ada spot kecil lain, sebuah meja tinggi yang menghadap ke pemandangan  teluk itu langsung.


“Ahh disana saja, bisa?” Aku ingin melihat pemandangannya.


“Ohh meja tinggi itu Nona, tentu  saja bisa ...” Dia mengantar kami sendiri, menjelaskan menu dan minuman yang bisa kami pesan.


“Tak dingin disini?”


“Tak apa, pemandangannya luar biasa. Aku memakai coatku...” Aku tersenyum pada Fabian. Beberapa pasangan lain juga ada disamping kami.  “Terima kasih sudah mengajakku kesini, benar pemandangan disini sangat menakjubkan.”


“Tadinya ini rumah seseorang, temanku harus bolak-balik hampir setahun untuk menutup deal dengan  pemiliknya. Kupikir setelah restoran ini terkenal  aku bahkan bisa menjual lagi dengan nilai lebih fantastis, walaupun tidak akan kulakukan sekarang, kasihan temanku, dia  bekerja keras untuk mendapatkan dan memajukan ini. Lihat tempat ini menjadi penuh sekelilingnya diubah menjadi café dan restoran, tapi tetap tempat kami yang terbaik disini.” Iya dia benar, tempat ini punya setting lokasi terbaik.



“Hmm...seperti biasa, selain tajam, nampaknya juga keberuntunganmu bagus.”


“Bagaimana masa kecilmu, dimana kau tinggal?”


“Aku dari Palermo...”


“Bova bukannya keluargamu dari Napoli?”


“Keluarga utama.”


“Aku anak angkat, ayahku meninggal dalam sebuah ...kecelakaan. Ibuku pergi menikah dengan yang lain. Aku diangkat anak oleh Paman Ayahku. Sekarang aku menjadi penanggung jawab investasi keluarga Bova yang dipercaya Paman, aku memanggilnya Ayah.” Dan tiba-tiba aku mengerti kenapa dia mengatakan jangan jatuh cinta padanya. Kenapa dia tak menganggap wanita adalah sebuah posisi yang mungkin harus dia lebih hargai dari bisnisnya. Aku menatapnya lekat, mungkin dihatinya  dia menyimpan kekecewaan pada wanita.


“Pasti berat untukmu...” Dia tersenyum kecil.


“Ada masa berat, tentu, tiap orang punya masa beratnya sendiri dan itu semacam  penempaan diri. Tak ada yang perlu disesali, asal  kau menghadapinya dengan benar, kau akan memetik hasilnya. Masa lalu memang  harus terjadi begitu, itu yang membentuk jalanku  sampai sekarang.” Dia mengatakan itu dengan tenang.


“Mantan suamimu itu, dia sekarang bekerja dimana...Kemarin  kulihat mobilnya cukup bagus untuk menyombong padamu.”


“Aku tak tahu, dia bilang dia manager sebuah klub  di Milan. Aku tak perduli...”


“Ohh manager klub, punya mobil seperti itu? Menarik...Kenapa kau menutup diri selama tiga tahun ini.”


“Aku tak menutup  diri, aku hanya sedang menikmati masa kesendirianku.” Aku tersenyum padanya.  “Sudah kubilang cinta tak selamanya membuatmu bahagia.”


“Tuan Bova, Anda disini.” Suara seorang wanita membuatku menoleh sekarang