The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 97. Mommy 2



POV Kate


Aku sampai rumah ternyata mobil Natham sudah sampai lebih dahulu, Nathan telah sampai lebih dahulu, biasanya aku selalu sampai lebih awal. Kali ini dia yang duluan... tidak biasanya.


Masih akhir minggu depan baru akan aku ke Italia, sekitar lima hari sebelum Natal dan akan berada disana sampai akhir tahun baru. Jadi aku masih membeli beberapa bahan masakan untuk Daisy.


"Daisy, bantu aku memasukkan ini."aku langsung masuk ke dapur, aku membawa beberapa belanjaan dalam perjalanan pulang.


"Ya Nona..." Aku membawa belanjaan sambil melihat ponsel. Menaruhnya di meja marmer dapur.


"Sayang kau sudah pulang?" Suara yang asing bagiku. Aku melihat ke depanku, Ibu Nathan ada di dapur sambil memakai celemek, dia melihatku sambil tersenyum. Aku mematung melihatnya.


"Mam... Anda disini?" Dia memelukku yang mematung. Masih dengan satu kantong groceries yang belum kutaruh. Apa Nathan sudah memberitahunya tentang kami?


"Ahh aku hanya sehari disini, mengunjungi teman. Besok aku harus kembali ke Chicago lagi. Tapi aku ingin memasak sedikit buat kalian. Dapurmu lengkap, aku suka sekali menemukan kulkas lengkap penuh dengan bahan masakan.


"Ahh aku..." Aku ingin mengatakan harusnya aku yang membuatkannya sesuatu.


"Aku membuat Ayam Panggang Lemon, dan Pasta, daging dan Saladnya Daisy nampaknya cocok." Dia terlihat senang berada di dapur. Pasti dia seorang koki yang ahli. Aku hanya bisa membuat beberapa masakan sederhana, Daisy yang ahli disini dan aku menyukai masakannya.


"Carina kau susah pulang." Nathan yang sudah berganti t-shirt rumahan tersenyum mencium pipiku didepan Ibunya sehingga aku merasa canggung.


"Nyonya aku tak tahu kau akan datang, harusnya aku yang menyiapkan sesuatu untukmu." Aku merasa menjadi tak sopan mendapatkan dia menyiapkan segala sesuatunya untuk kami, kenapa Nathan tak memberitahuku soal kedatangan Ibunya.


"Nathan pun tak tahu aku tiba-tiba muncul di kantornya. Aku tak mau membuatmu sibuk, kau baru berbelanja groceries?" Aku meletakkan kantong belanjaanku dan Daisy yang mengaturnya.


"Ahh iya, kami baru akan mulai pergi Minggu depan. Aku dan Nathan lebih suka makan di rumah jika hari kerja."


"Mom bilang kau membuat rumah kita terlihat punya kehidupan." Rumah kita, hatiku menghangat melihat kata yang dipakai Nathan.


"Ini Natal, aku pikir, rumah tanpa hiasan Natal itu kurang pas. Jadi aku dan Daisy menyibukkan diri sedikit kemarin." Aku berusaha mengobrol dengannya. Semoga dia tidak marah aku mengatur rumah Nathan.


"Kau benar, rumah tanpa hiasan Natal itu bukanlah rumah. Tapi sekarang benar-benar tempat ini terasa seperti rumah. Rumah kalian..." Ibu Nathan tersenyum, aku ikut tersenyum lega melihat penerimaannya. Rumah kalian, dia menerimaku dirumah ini bersama Nathan. Ini terasa melegakan merasakan senyumnya mengembang untukku.


"Ayo kita makan, kalian pasti sudah lapar. Nathan dari tadi sudah berkeliaran di dapur. Ayamnya pas baru saja matang." Dia membuka celemeknya sementara Daisy sudah menyiapkan meja makan. Tinggal mengeluarkan Ayam panggangnya.


Ibu Nathan sangat ramah dalam makan malam itu. Aku jadi merasa dia nyata-nyata menerimaku dan perlahan aku merasa bisa mengobrol akrab dengannya malam itu tanpa canggung.


"Ahh kapan-kapan kau harus ke Chicago, kau belum pernah ke rumahku. Harusnya Natal ini, tapi kata Nathan kau harus ke Italia. Dia katanya akan kesana juga di tahun baru. Sangat disayangkan..."


"Ahh Iya, Ayah dan Ibu ada disana."


"Lain kali kau harus menyempatkan diri atang bersama Nathan oke."


"Baik Mam."


Makan malam berakhir setelah kami semua lelah mengobrol. Dia tampak sangat bersahabat, dan ramah, membuatku merasa diterima dan diberikan izin bersama Nathan.


"Dia suka padamu. Itu tak bisa disangkal. Tapi sejak dulu orang tuaku tak pernah mencampuri siapa yang aku pilih, kita dianggap sudah dewasa untuk menentukan apa yang baik bagi kita."


"Dia menyukaimu... Dia suka kau membuat rumah ini sebagai rumahmu. Menghias rumah ini, sampai menyediakan cookies. Dia suka kau suka makanan rumahan dan membuat aku selalu kembali untuk makan malam dirumah bersama jika kita bisa. Karena dia dan Ayahku begitu, Ayah selalu suka makanan rumahan. Dia menyukai orang yang sama dengannya."


"Ahh begitu ternyata."


"Apa kau menyukai apa yang kulakukan. Mungkin kau merasa menghias rumah terlalu merepotkan."


"Tidak, aku menyukainya, ini rumahmu lagipula, rumah kita..." Dia mengamit pinggangku, mendekapku dan menciumku sebagai penutup kata-katanya. Aku bernapas dalam ciumannya. Merasa dibutuhkan dan dipuja.


"Rumah kita..." Aku berpikir mungkin dia akan melamarku dalam waktu dekat. Dia bukan orang yang anti dengan pernikahan. Sebelumnya dia hampir menikah dengan Amanda. Aku ingat reaksinya di pernikahan Guilio dia malah tersenyum bahagia ketika aku menerima lemparan bunganya.


"Iya, ini rumah kita. Apa kau suka dengan ide itu?" Dia melihatku. "Apa kau suka harus menghadapiku tiap hari. Mungkin nanti kita akan bertengkar, punya masalah tapi kita akan berusaha bersama melewatinya. Semua orang bilang tak mudah... Tapi ini akan tetap jadi rumah kita." Apa ini lamaran? Sekarang aku berdebar menatap matanya.


"Aku mau... bersamamu." Dia menghela napas mendengar jawabanku, mungkin lega. Tapi aku sekarang berdebar melihatnya, menunggu kata-kata berikutnya. Demi apapun aku tak perlu makan malam mewah, acara berlebihan, kejutan tak perlu. Katakan saja sekarang...


Dia diam berpikir, lepas dari mataku. Mungkin dia belum membeli cincinnya. Mungkin dia pikir aku menginginkan sesuatu yang dipersiapkan dengan baik. Dia tak akan melalukannya sekarang...


"Ada yang ingin kau katakan..." Dia melihatku, tampak tak yakin. Padahal dia sudah menanyakannya begitu jelas. "Katakan saja sekarang." Dia menatapku yang begitu berharap dia mengatakan kalimat sakti itu.


"Aku belum punya cincinnya, Carina. Apa yang harus kukatakan." Aku tertawa dan memeluknya, dia begitu jujur, aku masuk ke dalam pelukannya. Merasa terharu dia bisa begitu jujur padaku.


"Jawabannya ...yes, I will marry you." Aku mendongak menatapnya dan dia menatapku tak percaya. "Aku tak perlu cincinnya sekarang, aku hanya ingin kau mengatakannya." Sebagai jawabannya dia memelukku lagi kali ini begitu erat hingga aku kehabisan napasku.


"Aku menghancurkan lamarannya?"


"Tidak."


"Aku hanya ingin kau mengatakannya. Itu sangat melegakan. Tidak perlu banyak acara romantis, ini sudah romantis."


"Aku belum membeli cincinnya, tapi Ibu menitipkan liontin keluarga untuk calon menantu tercintanya. Biasa itu dipakai saat upacara pernikahan. Ini diberikan dari nenekku. Aku berikan padamu sekarang, karena Ibupun sudah bertemu denganmu dan tidak punya keberatan apapun padamu..." Aku tertawa mendengar rencana cadangannya. "Sebentar aku ambilkan." Dia beranjak dan mendapatkan sesuatu dari sebuah lemari besi yang ada di sebuah lemari yang lain. Dan kembali mengambil sebuah kotak hitam kecil. Dia membukanya dan menemukan sebuah liontin bulat seperti koin dengan cetakan sebuah lambang.


"Would you marry me..." Aku tertawa kecil saat dia mengatakannya. Mungkin dia merasa perlu mengatakannya.


"Yes, yes and yes. Definently yes!" Aku mengangguk dengan antusias.


"Dan ini menjadi milikmu mata-mata licik." Aku tertawa sekarang. Dan ketika dia tiba-tiba menyinggung soal mata-mata.


"Itu sangat berharga, terima kasih." Malam itu kedatangan Ibunya dia melamarku. Ternyata dia menunggu persetujuan Ibunya, begitu Ibunya menerimaku dia mengatakannya tanpa beban.


"Kau yang lebih berharga." Aku tersenyum padanya dan memeluknya erat.


Aku tak menyangka gangster ini akan jadi suamiku sebentar lagi.