
Bertemu di restoran yang kami sering kunjungi di Milan. Rasanya terlempar ke masa lalu. Ini pusat perbelanjaan, kami senang berjalan disini, dan biasanya cuma berjalan berdua, ngobrol dan makan.
Aku pertama bertemu dengannya di Milan. Dia juga di kampus yang sama denganku, keluarganya adalah pebisnis jaringan hotel dan restoran di Spanyol dan Italy. Dia pernah ikut kursus singkat di sini di masa mudanya. Dan itulah cara kami bertemu.
Aku melihatnya sudah duduk di meja restoran. Melihatnya lagi setelah hampir setengah tahun kami tak bertemu rasanya campur aduk.
Dia melambai padaku. Senyumnya masih tenang seperti biasa. Aku merindukannya walau aku tahu aku tak bisa mengapainya lagi.
"Ciao (Hi/Hai), ..." Aku menyapanya pendek sambil tersenyum dan duduk didepannya.
"Kau baik?" Dia mengamatiku.
"Tentu, bagaimana denganmu."
"Aku baik. Aku beberapa hari ini terkejut menemukan beritamu di internet. Kau benar baik-baik saja. Aku bisa membantu jika kau ingin." Ternyata dia mencari beritanya.
"Tidak, aku bisa mengatasinya. Ada pengacara yang membantuku."
"Kau melawan Gianni? Dia bukan nama orang biasa. Kau yakin itu baik-baik saja."
"Aku punya back-up orang yang merupakan lawan Gianni." Dia diam sebentar mendengar jawabanku. Kami memesan menu makan malam kami. Sambil menunggu dia melanjutkan pembicaraan.
"Itu mengejutkan, ... Kau kenal orang politik?" Aku tersenyum.
"Iya aku sebenarnya bertemu dengannya seperti keberuntungan disaat kupikir aku sudah kehabisan pilihan."
"Tampaknya bantuan ini dari orang dekat?" Aku tertawa, Javier menebaknya langsung.
"Teman baik, anggap saja begitu." Aku tak bisa memberinya detail.
"Aku turut senang mendengarnya sebenarnya. Ayahmu dijerat? Boleh aku tahu cerita keseluruhannya?" Aku tak keberatan menceritakan apa yang terjadi pada kami.
"Aku merasa bersalah menyebabkan masalah untukmu belakangan. Maafkan aku." Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
"Lupakan saja, kau tahu sebenarnya aku mengharapkan perpisahan kita baik-baik saja. Walau aku juga pernah mengatakan hal buruk padamu. Aku sungguh berharap kau mendapatkan kebahagianmu, ..." Aku sungguh mencoba tersenyum walaupun mataku panas.
"Jika kau membutuhkan apapun kau bisa minta apapun padaku. Jangan khawatirkan Silvia, dia kadang hanya pintar bicara." Aku tertawa kecil.
"Aku menemuimu hari ini sebenarnya untuk memberimu ini. Surat perceraian kita." Aku memandangnya dan menerima amplop itu. Sakit tapi kurasa tak ada yang bisa kulakukan juga untuk memperbaikinya.
"...dan ini nilai yang kau minta dan kita sepakati..." Dia mengangsurkan sebuah amplop lagi. Aku menerimanya, setidaknya ini jumlah yang cukup besar. Tapi ini cuma 20%. Ternyata nilai 10% nya di konversi menjadi saham di perusahaan induk utamanya. Bukan kepemilikan di restoranku yang dulu. Dia cukup bijaksana tidak menimbulkan clash dengan ular itu ternyata. Ular itu salah mendengar saham tentang pembagian kepemilikan restoran lamaku.
"Terima kasih, kau sudah mengurus ini ..." Aku hanya bisa mengucapkan itu padanya.
"Aku minta maaf dan berterima kasih untukmu. Maaf kemarin aku bersikap menyebalkan."
"Tak apa, kau sedang jatuh cinta." Aku menunduk, mencoba tersenyum kemudian, perasaan kalah ini masih ada. Tak bisa kupungkiri, sepuluh tahun bukankah hal yang akan dilupakan sekejab mata.
"Terima kasih untuk waktu yang kita lewati bersama. Maaf aku mengecewakanmu." Mataku memanas lagi untuk kata-katanya.
"Sudahlah, ...kita sudah membicarakan ini. Kau membuatku sedih lagi." Kami sama-sama terdiam sesaat.
"Besok staffku akan mentrasfer 2 juta euro padamu. Selesaikan masalahmu jika bisa kau tak usah berurusan lagi dengan orang seperti Gianni, kau bisa mengembalikan bertahap padaku, tak usah terburu-buru. Aku tahu kau tak akan kesulitan mengembalikannya di masa depan. Tak ada bunga. Anggap saja ini yang bisa kulakukan untukmu. Jangan menolak bantuanku." Sekarang aku yang tak bisa bicara.
"Javier. Ini dua juta, ..."
"Tak usah menolak. Dengan tambahan cek yang ditanganmu seharusnya kau bisa menyelesaikannya. Setidaknya aku tidak merasa bersalah sudah membiarkan diriku menutup mata pada masalahmu. Aku tak tahu kau kembali ke sini dan punya masalah sebesar itu. Permintaan maafku juga karena sudah membuatmu marah sebelumnya. Aku salah mengingkari kesepakatan kita." Jika ular itu tahu ini dia akan mengamuk. Javier jika tak dalam pengaruhnya bersikap baik padaku.
"Baiklah, terima kasih sekali lagi, aku akan mengembalikan secepatnya."
"Tak usah berterima kasih." Dia tersenyum dengan ekspresi lega padaku, seakan maafku adalah hal yang berarti baginya.
Kami makan kemudian, membicarakan hal-hal menyenangkan seperti masa lalu. Aku menganggap dia teman sekarang aku juga tak ingin dia mendapatkan masalah dengan kekasihnya. Terserah mereka mau menjalaninya bagaimana. Tidak, aku tak akan mengatakan satu katapun.
"Jadi rupanya kau disini? Bukan bertemu dengan kolega? Ku pikir aku tak tahu kau ingin memberikan padanya 30% itu."
"Javier, kurasa aku pergi saja." Aku segera mengambil tasku. Membiarkan makanan kami yang masih tersisa.
"Dasar ular." Dia maju ingin menjambak rambutku tapi Javier menghentikannya.
"Hentikan Silvia, kami berteman bahkan sebelum kau kenal kami, perpisahan kami baik-baik dsn sekarang dia tetap temanku, kau pikir kau bisa mengatur hidupku sesuai dengan kebutuhanmu?!" Akhirnya ular ini dimarahi di depanku. Kali ini aku melihat Javier sudah mulai melihat siapa sebenarnya wanita ini.