
“Benarkah?” Apa aku boleh punya harapan setinggi ini.
“Percayalah padaku Kakak ipar.” Yukio tersenyum padaku di makan siang itu. Bahkan memanggilku dengan panggilan yang seharusnya aku belum bisa terima, aku merasa gembira, tapi sedikit tak berani mempercayainya terlalu banyak.
“Hanii bee, ...” Sebuah telepon di pertengahan minggu dari Hisao.
“Ada apa?”
“Aku di Kyoto, kita akan menjemputmu untuk makan siang dalam lima belas menit oke. Kau bisa keluar sekarang?” Sebuah telepon yang membuatku melonjak gembira di tengah minggu musim di musim panas karena aku juga sedang memikirkannya.
“Baik. Tentu saja bisa.”
Tak lama untuk bisa melihatnya lagi. Dan memeluk lengannya lagi sekarang.
“Kapan kau sampai?”
“Semalam, tapi malam sekali, aku tak memberitahumu.”
“Kau disini berapa lama.”
“Mungkin tiga hari. Ohh ya minggu depan adalah ulang tahun Kakek, aku akn di Kyoto akhir minggu dan dia juga bilang untuk membawamu ...”
“Membawaku?” Jadi benarkah yang dikatakan Yukio, keluarga Hisao tidak keberatan menerimaku?
“Iya.” Dia tersenyum kecil. Aku berpikir ini acara keluarga, jika aku mendampingi Hisao bukankah artinya ini berarti aku akan dikenalkan secara resmi diantara keluarga. Atau aku salah karena aku hanyalah pendamping yang sudah dibayar?
“Kau tahu artinya? Kau akan dikenalkan secara resmi sebagai kekasihku. Kakek menyatakan persetujuannya dengan mengundangmu bersamaku. Dan kau diperintahkan memakai Tomesode.” Aku sekarang terpaku. Yamada-san setuju, ... tinggal menunggu restu Ibu dan Ayah Hisao.
“Benarkah, Kakekmu setuju dan aku harus memakai Tomesode?” Kimono Tomesode berarti aku diakui sebagai bagian dari keluarga.
“Kau senang sekarang?” Hisao tersenyum padaku, dan aku tak bisa menyembunyikan senyum lebarku dan rasa bahagiaku.
“Kau tahu ini seperti mimpi,... Aku bukan siapa-siapa. Tak punya Ayah dan Ibu, tapi Kakekmu bersedia menyatakan persetujuannya.” Aku tak bisa tak terharu kemudian. Padahal selama ini aku selalu mengatakan pada diriku mendapatkan kekasih seperti dirinya saja sudah membuatku bahagia. Aku tak akan berani meminta lebih.
“Sayang, Kakek juga melihat kau melakukan yang terbaik untuk memantaskan dirimu. Dia tahu kau sekarang bekerja bersama Yukio, kau melakukan bagianmu. Lagipula semua dari kita bukan dilihat dari nama keluarga tapi dari masing-masing usaha pribadinya, nama besar keluarga bisa dihancurkan oleh satu orang yang terlalu pemalas dan ceroboh. Tapi kita semua keluarga Yamada punya jalan sendiri-sendiri membuktikan diri. Jangan merendahkan dirimu lagi, kau harus bangga pada dirimu sendiri, tak ada yang bisa meremehkanmu di titik ini.” Aku tertawa kecil.
“Benarkah aku boleh bersikap sombong?”
“Sayang jika ada yang meremehkanmu sekarang, marahi mereka balik. Kau sudah diakui keluarga, dan keluarga yang lain akan membelamu. Kau harus percaya itu.” Aku merasa masih bermimpi. “Kenapa kau diam saja...”
“Aku sedang tidak bermimpi kan.”
“Hmm... malam masih lama Hanii Bee. Apa tamumu banyak malam ini, nanti malam aku akan membuatmu bermimpi lebih cepat. Jangan pulang terlalu malam...” Dia berbisik kecil padaku. Membuatku melihatnya dan mendorong mukanya dengan kesal. Dia tertawa dengan reaksi spontanku. Aku tak bisa menjauh lama karena dia merangkul pinggangku lagi.
“Aku sudah tak sabar melihatmu ada dirumahku setiap hari, tak sanggup harus terlalu sering membuatmu bolak-balik Kyoto- Tokyo. Tidak akan lama lagi itu terjadi.” Aku tersenyum, bunga-bunga berkembang dihatiku. Aku juga tak sabar, sebuah keluarga, kupikir aku tak akan pernah mendapatkannya tapi ternyata itu diberikan padaku kali ini. “Katakan apa kau merindukanku.”
“Aku selalu merindukanmu Teddy Bear.”
Musim semi ini, akan selalu kuingat dalam hidupku.