The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 49. Ryohei Matsumoto 4



Aku tak bisa tidur memikirkan permintaan Tuan Ryohei. Dia ternyata menyimpan sebuah perasaan padaku. Itu manis, membuatmu berdebar akan sebuah harapan. Mungkin semacam pelipur lara patah hatiku.


Sejak itu kadang suka dia menelepon.


Dan belakangan aku tak menerima pesan Hisao, dia sedang tidak ada di Jepang, aku dalam seminggu kedepan baru bertemu dengannya lagi. Bulan ini baru minggu depan aku bertemu dengannya.


Atau mungkin aku tidak peka atas sikap Ryohei-san selama ini. Bibi selalu bilang lebih baik menganggap semua orang adalah teman baik yang memiliki niat baik, jadi kau bisa bersikap tulus kepada mereka tanpa merasakan dirimu sendiri jatuh kepada seseorang secara berlebihan.


Jadi itu yang kulakukan, aku membuat diriku ramah dan menganggap klien adalah teman yang berharga. Karena mereka pada dasarnya kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga maka keramah teman baik ini lebih gampang kulakukan, karena aku tak menganggap mereka tak punya perasaan khusus padaku walaupun mereka kadang bercanda tentang wanita juga. Selama ini berhasil kukira...


Satu orang yang bisa membuatku terpancing marah pada klien cuma Hisao, tak tahu kenapa aku gampang sekali terpancing kesal padanya.


"Mungkin kita bisa makan siang nanti saat kau sedang tak bekerja. Atau mungkin saat aku ada di Kyoto, aku kebanyakan akan berada di Tokyo. Boleh aku meneleponmu nanti?" Ryohei-san bicara padaku di akhir pertemuan.


"Baiklah." Aku cuma mengangguk pelan padanya, jika cuma makan siang kupikir tak apa.


"Kurasa tak apa bukan. Danna-mu mungkin tak akan tahu. Aku juga tak ingin kau dapat masalah. Lagipula kau tak terlibat perjanjian pribadi dengannya."


"Saya memang tak terlibat perjanjian hubungan pribadi. Tapi saya juga tidak diizinkan melanggar ketentuan saya tidak boleh punya relasi pribadi terang-terangan dengan orang lain selama setahun ini."


"Aku mengerti maksudmu. Aku tak akan mempersulit posisimu. Aku tahu sulitnya berhadapan dengan klien. Bagaimanapun kau sudah terikat perjanjian itu. Aku yang terlambat dan tak beruntung." Ryohei-San tersenyum dan aku lega dia mengerti.


Hisao tak akan mudah dihadapi jika dia tahu aku melanggar perjanjian kami. Tapi dia di Tokyo, ini hanya makan siang, tak akan ada yang dilanggar.


Dan aku berdebar sekarang. Kami punya kesempatan makam siang bersama setelah pengakuan itu seminggu kemudian. Ini hari liburku.


Dia terlihat lebih muda dengan warna kemeja hijau pastel itu. Aku menyukai senyumnya yang selalu terlihat tenang dan ramah.


"Ryohei-san..." Aku yang terbiasa bersikap formal tak bisa menghilangkan kebiasaanku membungkuk dan mengucapkan salam padanya.


"Setsuko, kau terlihat cantik seperti biasa. Tak usah bersikap formal padaku, duduklah." Dia tersenyum padaku dan aku mulai merasa perutku tergelitik halus sekarang. "Aku jarang melihatmu seperti ini jika bekerja, bisakah kau merubah dandananmu seperti ini di ochaya..." Dia memandangku dan membuat mukaku panas.


"Kau tahu itu tak bisa dilakukan Ryohei-san..." Aku tertawa menangapi permintaan itu.


"Kau sedang libur bukan."


"Iya."


"Danna-mu yang sekarang, tinggal di Tokyo?"


"Iya kebanyakan jika aku menemaninya aku bekerja di Tokyo."


"Dia baik padamu?"


"Baik. Kenapa Ryohei-san penasaran sekali dengan dannaku?"


"Aku penasaran laki-laki mana yang menghargaimu begitu besar. Aku tak pernah mendengar hal seperti ini. Aku sangat penasaran dengan orangnya sebenarnya, walaupun mungkin aku tak akan pernah tahu. Apa dia sudah tua tak mampu lagi melakukannya?" Aku langsung tertawa.