
"Sudah kubilang aku hanya bekerja sesuai aturan, kau tak bisa mengaturku, kau mau menyuapku?" Ada seseorang yang kubidik kareka ketidaktertipan pencatatan, walau aku belum mempunyai bukti untuk berhadapan dengannya ini jadi semacam bahan yang bisa kumainkan. "Jadi lakukan pekerjaanmu!" Aku menutup telepon dan berjuang memasukkan file ke tasku dengan tangan penuh.
“Miss Natalie, nampaknya tanganmu penuh sekali." Louis ternyata memperhatikanku, dia membantuku memegang gelas kopiku sementara aku memasukkan dokumenku ke tas kerja.
"Ohh Sir, maaf ... terima kasih." Aku cepat-cepat memasukkan dokumenku ke tas. Mengambil gelas kopiku lagi darinya dan mengembalikan senyum manisnya. Dia memang manis dan dandy jika dilihat lebih dekat, tampan sekali.
"Tentu saja..."
"Saya akan keluar kantor. Terima kasih Sir..." Kenyataan dia sudah mengulurkan tangan membantuku adalah tanda dia sedikit memperhatikanku dan membuat kesan baik. Apalagi hari ini aku 'agak' cantik dengan mengerai rambut blondeku dan memakai pakaian warna putih yang cerah, dan kacamataku hilang, itu membuat perbedaan besar .
Aku karyawan baik, lurus, bisa dipercaya, pekerja keras, loyal dan akan membuktikan ... aku bisa berkelahi seperti laki-laki! Karena untuk masuk ke lingkaran ini nampaknya tak bisa dengan pesona perempuan.
"Bukan masalah besar..." Tampaknya senyum innocentku berhasil, aku akan melenggang pergi sekarang tapi aku berharap sekali dia bertanya tentang siapa yang menyuapku. "Siapa yang ingin menyuapmu?" Dia tertarik dengan pembicaraanku.
"Ehmm... Aku meneliti pendapatan Enrique yang memegang Soul Lounge, itu staffnya yang tadi menelepon, aku menganggap ada yang dia manipulasi. Aku belum tahu perkiraan nilainya. Timku sedang bekerja menelitinya... Tapi belum apa-apa staffnya sudah menawarkan jalan tengah. Sudah mengatakan dia bersalah, dia pikir aku menerima suap murahan seperti itu. Aku tak tahu Enrique tahu ini atau tidak, atau ini pekerjaan staffnya, tapi aku akan segera tahu."
"Mr. Alan biasanya menyediakan dukungan untuk masalah seperti ini jika kami minta tapi sekarang dia menghadapi case di Chicago, aku tidak bisa laporan hanya berdasarkan kecurigaan, Enrique tidak suka kami mengobrak-abrik kantor dan menanyai orangnya tentu saja. Hmm...kurasa aku akan sedikit punya masalah soal yang ini. Tapi tak apa aku yakin bisa mengatasinya..."
"Timmu kesana berapa orang? Ada pria?"
"Itu mereka, ada satu pria ..."aku menunjuk di depanku agak jauh ada tiga orang wanita dan satu pria culun dengan kacamata, pria culun itu andalanku dia lebih hebat menemukan kejanggalan tapi dia memang lemah di fisik. Louis langsung tersenyum...
"Enrique itu punya bad temper bad manner, tapi dia punya otak kreatif di bisnis hiburan, itu yang membuat dia berhasil, bagaimana jika kau bawa Oliver." Dia menelepon orang yang bernama Oliver.
"Siapa Oliver?"
"Dia masuk katagori assitenku, dia bisa membantumu jika Enrique macam-macam, bawa saja dia dalam timmu, jika ada apa-apa dia bisa membantumu."
"Hmm baik Tuan Louis, aku boleh menyuruhnya sedikit, maksudku aku harus membaurkannya seperti memang tim-ku bukan."
"Iya, itu maksudku." Louis mengerti dengan maksudku dan memberikanku bantuan. Tampaknya Enrique ini memang akan menggunakan intimidasi. Oliver datang dengan cepat kemudian menghampiri kami.