The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 22. We're Friend Only 3



“Bagaimana denganku?” Aku menatapnya, apa maksud pertanyaannya itu.“Kau tega menyamakan aku dengannya.”


“Kau lebih buruk!” Dia tertawa lepas.


“Kau memang kejam.”


“Aku tak kejam, aku hanya berhati-hati tak mematahkan hatiku sendiri. Kau  pikir putus cinta itu semudah itu.”


“Entahlah, apakah  semenderita itu... Aku tak mengerti.” Kurasa entah bagaimana dia sama dengan Guilio, tak bisa merasakan  ikatan yang  terlalu intens. Mereka punya persoalan yang sama.


“Kau memang tak punya perasaaan.” Aku mencibir padanya.


“Mungkin kau benar. Aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya.” Dia tertawa kecil, wajah Don Juan itu  terlihat sedikit redup. Tapi anehnya dia bicara jujur, bahwa dia tidak bisa merasakan ikatan terlalu dalam dengan wanita.


Kami menatap lampu di teluk yang berkelap-kelip. Live music menyajikan lagu-lagu  cinta didalam, lagu-lagu yang sudah lama kulupakan. Musim dingin akan menjelang sebentar lagi, seperti biasa aku melewatkannya dengan Ibu.


“Kau cantik, jangan merendahkan dirimu sendiri. Kau punya aura yang kuat, seperti madre-madre utama keluarga. Orang biasa akan menganggapmu terlalu tinggi dan tak bisa mengapaimu.Gadis-gadis yang mengabaikanmu, mereka tahu mereka tak bisa mengalahkanmu.” Tiba-tiba dia bicara.


“Apa itu pujian...Atau kau sedang merayuku.” Aku tersenyum padanya.


“Itu pujian.”


“Menjadi kuat itu kadang melelahkan...”


“Jangan terlalu keras pada dirimu  sendiri. Kau boleh bersandar padaku, tapi jangan jatuh cinta padaku. Aku tak bisa menjanjikan apapun padamu.” Aku tersenyum, menatapnya... Aku boleh bersandar padanya? Tapi jangan jatuh cinta. Cinta itu rumit, kadang dia melukaimu.


“Kemarilah,...” Tangannya merangkulku, membawaku bersandar di bahunya. “Terasa lebih baik bukan...” Entah  berapa lama aku tak pernah bersandar ke seseorang. Merasakan rangkulan  yang  menenangkan, merasa terlindung walau hanya sesaat.


“Terima kasih.” Sekarang mencium parfumnya dan coktail membuat aku mengantuk. Rasanya asing tapi tak membuatku takut, tapi debarannya terasa  menyenangkan bersandar di pelukan Don Juan membuatmu merasa bangga entah kenapa, mungkin bangga bisa membuatnya bicara terus terang siapa dirinnya. “Berjanjilah mengatakan kebenaran  padaku sebagai teman, apakah kau bisa menjanjikan itu.”


“Walaupun itu menyakitkan?”


“Walaupun itu menyakitkan. Teman  tak boleh berbohong satu sama lain.”


“Aku bisa berjanji untuk itu. Tapi jangan jatuh cinta padaku, aku hanya temanmu apapun yang terjadi diantara kita. Mungkin seperti Guilio. Aku adalah bast*ardo absolute seperti yang kau bilang.”


“Aku tahu.” Aku tertawa kecil.


Kami hanya bicara banyak  hal menghabiskan waktu bicara hingga larut malam. Mulai dari kehidupan cintanya yang seperti Guilio, tak pernah  bertahan lama dengan satu wanita, karena dia anti komitmen, lebih tepatnya merasa tidak bisa  berkomitmen. Merasa keluarga adalah  beban, atau mungkin dia terlalu banyak terlibat wanita yang terlalu menuntut, sama sepertiku dia nampaknya juga terlalu berhati-hati.


“Ayo  kita kembali. Sudah larut, besok kau masih harus bekerja.”


“Ayo.” Aku gembira sekarang. Pembicaraan sambil bersandar ini nampaknya membuat hatiku lebih ringan. ”Kapan kau kembali ke Palermo?”


“Aku kembali ke Palermo besok. Jika kesepakatan sudah deal,  kita akan urus tanda tangan legal penyertaan modalku, seperti yang diminta Guilio. Dan aku akan menyetor penyertaan modal cashnya.” Perjalanan terasa singkat kemudian, mungkin saja karena jalan  sudah larut kami hanya lebih singkat waktu untuk kembali.


“Kita  sudah sampai.” Dia menghela napas dan memandangku. “Kau ingin minum sesuatu di tempatku?” Dia terang-terangan menggodaku sekarang.