The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 84. Kimiko Yamasaki 18



Guilio dan Nathan yang tampan. Mereka seperti para pangeran yang terlalu sempurna. Para pangeran tampan ini entah bagaimana bertemu di universitas yang sama dan mengembangkan pertemanan sejawat sejak itu kemudian.


Kali ini kami sampai di Hongkong dan mereka berbicara bersama lagi, mereka bilang sudah tiga tahun lamanya mereka tak saling bertemu. Hisao terlihat gembira bertemu teman-teman kuliahnya itu. Tapi kali ini dia mengizinkanku duduk disampingnya bersama Nathan dan Guilio. Kami berbincang sampai larut malam...



Well, nampaknya kecemburuannya sudah selesai, kami punya waktu yang cukup beberapa hari ini untuk menyelesaikan apapun masalah kami. Dan tak ada kesalahpahaman lagi sekarang. Jika dia masih cemburu dia akan menerima kemarahanku.


"Brother, kemana kekasihmu kali ini. Aku heran kau tidak membawa pendamping kali ini. Apa kau belum menemukan yang baru?" Kali ini aku duduk disamping Hisao di Hotel kami, malam ini kami baru saja sampai.


"Jangan bilang sudah tak ada gadis di Sicily yang menginginkanmu lagi karena semua orang sudah tahu siapa kau." Nathan tertawa.


"Aku nampaknya memang terlalu brengsek. Ibuku mengatakan aku keterlaluan mematahkan hati gadis-gadis baik dan sekarang adalah masaku menerima hukumanku. Aku tak tahu belakangan ini semangkin gadis-gadis itu menggodaku, semangkin aku tak tertarik pada mereka. Rasanya tak ada yang benar dan menarik perhatianku." Guilio yang tampan itu terduduk lemas. Nampaknya playboy yang ini telah bosan bermain-main dengan gadis-gadis.


"Itu mudah Guilio, kau mulai kena mid life crisis. Orang-orang di usia kita lebih menghargai kedekatan emosional dan menginginkan kehidupan yang lebih stabil. Penaklukan, banyak wanita adalah hal masa lalu yang sudah tak menarik lagi, yang kau butuhkan adalah seorang yang membuatmu merasa damai dan kau bisa menjaganya, perasaan kau bisa pulang ke rumah." Nathan memberikan pandangannya. Nampaknya pria tampan yang satu ini lebih cepat menemukan dirinya. Kudengar dia sudah punya tunangan.


"Benar, seseorang yang membuatmu ingin menjaganya seumur hidupmu." Saat mengatakan itu Hisao menggengam tanganku. Dia membuatku merasa sebagai harapannya di masa depan.



"Hmm... mungkin benar. Tapi aku tak tahu bagaimana menemukannya, sepertinya semua gadis sama saja dan bagaimana jika mereka sudah terlalu menuntut aku selalu berpikir mencari cara menghindari komitmen, aku tak pernah nyaman dipaksa oleh wanita dengan komitmen, membayangkannya saja terasa menyesakkan. Tapi aku juga merasa hidupku tak punya arah sekarang... Aku mungkin bisa mendapatkan siapa saja tapi aku malah kesepian. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku."


"Ini adalah masalah pria yang mulai menjadi playboy sejak umur 12 tahun. Dia sudah lupa rasanya jatuh cinta. Yang dia lihat adalah siapa teman tidurku malam ini." Hisao dan Nathan menertawakannya.


"Mungkin kau bisa mulai dengan gadis yang tidak membuat kehadirannya tidak terasa menggangumu Tuan Guilio." Aku bicara padanya sekarang.


"Seseorang yang kehadirannya tidak mengangguku..."


"Hmm... mungkin seperti kau bisa duduk disampingnya tanpa membuatmu merasa terganggu diantara wanita yang kau kenal. Kau tak terganggu dengan kehadirannya, walaupun dia duduk saja disampingmu sepanjang waktu, kau tidak merasa pembicaraannya menganggumu. Mungkin ada yang seperti itu, kau sudah mengenalnya lama, tapi kau tak menyadarinya karena kau sibuk dengan gadis-gadis cantik lain yang ada selalu ada di pangkuanmu." Aku mencoba memberikan sedikit pendapatku dari banyak kisah yang sudah kudengar.


Guilio mendengarku bicara. Sekarang aku membuatnya berpikir lama. Nampaknya mungkin dia baru memikirkan seseorang.


"Tapi mungkin juga gadis seperti itu tak tertarik padamu juga, seharusnya kau melihat orang yang ada disekitarmu bukan pacar-pacar cantik sementaramu yang menginginkan sesuatu darimu. Jika kau menemukannya, cobalah tak menyentuhnya jika ingin mendekatinya, karena jika kau sebrengsek yang di katakan temanmu. Langkah pertama pun dia sudah akan menendangmu dari hadapannya." Aku membayangkan sebenarnya dia punya gadis yang membuatnya merasa nyaman. Tapi karena dia terlalu sibuk dengan pesonanya yang terlalu berlebihan itu gadis sederhana dan baik terlupakan olehnya.


Untuk pertama kalinya Guilio yang terlalu periang dan terlalu suka bicara itu terdiam lama tanpa membalas.


"Mungkin aku harus mengucapkan terima kasih untukmu Nona Setsuko, kau benar selama ini mungkin aku terlalu sibuk dengan banyak hal."


"Nampaknya setelah ini akan ada seseorang yang benar-benar menetapkan hati setelah pengembaraannya sebagai Casanova berakhir." Nathan menyindirnya sekarang.


"Jadi perjalananmu masih panjang, setelah pulang mungkin kau perlu jadi pertapa sebentar. Jangan mencari gadis-gadis terus. Perbaiki reputasimu didepannya..." Mereka tertawa dan Guilio hanya meringis lebar.


"Ceritakan soal dia..."


"Aku hanya mengangapnya teman kerja, teman kecil, dia terlalu mengenalku dari sekolah dasar, sampai mungkin dia muak melihatku dulunya, seperti yang Nathan bilang aku memang playboy dari umur 12 tahun aku sudah punya banyak pacar. Belakangan karena aku sering kembali ke Sicily aku jadi sering melihatnya lagi..."


"Kenapa kau jadi memikirkan dia..."


"Hmm... dia biasa saja, maksudku dia tidak berwajah yang sangat cantik seperti kau bisa langsung merasa terpikat. Tapi aku bisa cerita banyak hal ketika bertemu dengannya. Dan kisah hidupnya agak tragis,... tapi aku selalu mengagumi kerja kerasnya dan dia wanita yang bersemangat. Aku baru sadar aku punya teman seperti yang Nona Setsuko katakan... "


"Kenapa kau merasa kalau dia orang yang tepat."


"Aku dan dia teman, aku tak pernah tertarik padanya. Tapi entah kenapa jika aku sedang tak enak hati aku bisa bicara padanya dan merasa lebih baik. Dan masakannya enak seperti masakan Ibu..."


"Akhirnya dia menyebutkan masakan Ibunya lagi." Nathan tertawa.


"Makanan enak, anggur yang memabukkan dan teman bicara. Bukankah itu sempurna...." Dia memjumputkan tangannya ke bibirnya berkhayal sendiri.


"Dia nampaknya tercerahkan sekarang." Giliran Hisao mengomentarinya. "Tampaknya sake membuatnya bisa berpikir lurus."


"Itu karena Nona Setsuko, lain kali ajaklah dia ke tempatku."


"Nanti saja jika kau menikah." Hisao membalasnya.


"Jangan mendesakku. Desaklah dirimu sendiri. Kau kapan menikah." Guilio tak membiarkan Hisao mengomentari keadaannya sendiri.


"Aku sedang mengusahakannya." Hisao melihatku lagi. Kali ini aku membalasnya dengan menyandarkan diriku padanya, memeluk lengannya. Bukankah perasaan ini luar biasa.


"Baik-baik, terserah kalian yang penting kirimkan undangannya pada kami."


"Tak akan lama lagi."


Benarkah tak akan lama lagi. Aku merasa jalannya masih panjang. Entahlah apapun hasil yang sudah kami usahakan, sudah bertemu dengannya adalah sebuah jalan cinta pertama yang kukenal.


Banyak orang yang telah berlayar jauh untuk menemukan pasangan hidupnya. Entah kami berakhir dalam sebuah keluarga atau tidak nantinya. Aku tak akan menyesali apapun.


\=\=\=\=\=\=\=