The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 99. Ending 1



"Lamaran? Kenapa Nathan tak bicara apapun? Kapan kalian merencanakan ini..." Sekarang aku benar-benar binggung, ini benar-benar kejutan.


"Nathan menelepon Ayahmu dan membicarakannya seminggu yang lalu, saat kau dalam perjalanan kesini dan Ayahmu dengan senang hati menyetujuinya. Bukankan ini sangat bagus, kekasihmu itu tampaknya orang yang sangat bertanggung jawab pada pilihannya. Mom senang kau mendapatkan seorang yang begitu baik." Mom memelukku sekarang. "Selamat sayang... Mom turut bahagia untukmu."


Sekarang giliran aku yang terharu. Aku tak menyangka Nathan akan menyiapkan ini begitu cepat, sampai mereka bersedia sekalian berlibur ke sini.


"Nah putri Ibu sudah cantik, siap pergi ke pertunangannya." Mom melihatku di cermin riasnya.


"Mom, terima kasih sudah mempersiapkan ini."


"Hanya ini yang bisa Mom lakukan untuk membayar waktu yang kita lewatkan. Tidak cukup tapi Mom akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu." Aku melihatnya dengan haru saat dia berdiri di belakangku dan melihatku dari kaca meja rias. Kami memang terpisah begitu lama, bagaimana menganti waktu yang kami lewatkan. Mungkin sulit tapi aku juga akan berusaha untuk itu.


"Mom kau tahu tak apa buatmu dan Dad untuk tinggal di Italia berdua, kalian nanti bisa mengunjungi kami nanti, kau dan Dad tak perlu merasa bersalah, kami akan mengunjungi kalian disini, dan kalian bisa pergi mengunjungi lami tinggal di rumah kami jalan jalan ke US, disini udaranya sangat bagus, di NY hanya penuh polusi. Ini rumah impianmu, kau harus disini bersama Dad."


"Mom dan Dad tak merasa terbeban. Kami akan tinggal di NY membantumu mempersiapkan pernikahan dan kembali ke sini nanti. Kami tak punya pernikahan yang meriah, kami ingin kau mempunyai pernikahan yang kau inginkan. Mom akan membantumu... " Dia tersenyum padaku dan memelukku dari belakang. Rasanya menyenangkan menjadi putri yang dicintai dan dimanjakan lagi.


"Ayo kita keluar, semuanya akan ikut. Mereka sudah menunggu."


"Jadi yang tak tahu kabar ini hanya aku." Aku tertawa.


"Sekarang kau sudah tahu..."


Semua orang ternyata sudah berkumpul diruang keluarga. Mereka menungguku turun.


"Dia sudah tahu..." Ibu memberitahu Ayah.


"Putriku kau cantik sekali." Ayah yang pertama memelukku ketika aku datang.


"Ternyata kalian menyembunyikan semua ini dariku." Aku tersenyum padanya.


"Nathan yang menelepon Ayah dan mengatakan dia ingin menjadikan ini kejutan untukmu. Selamat sayang, kau akan menjadi pengantin yang cantik segera."


"Jika tidak ada Dad aku tak akan disini. Terima kasih untuk semuanya..." Pelukan ini adalah pelukan putri untuk Ayahnya. Tanpa kehadiran aku bukan aku yang sekarang, walaupun dia kadang membiarkan aku lebih banyak berjalan sendiri untuk membuatku mandiri. Tapi tetap dia mengawasiku.


"Katya tersayang, selamat sayang. Setelah ini kita akan punya pesta pernikahan untuk dirayakan..." Giliran Bibiku memberi selamat padaku, memelukku dan mencium pipiku. Aku beruntung diberikan Bibi yang begitu perhatian padaku.


"Terima kasih Bibi tersayang." Aku memeluknya dengan erat. Diikuti dengan suami Bibi dan dua sepupuku yang mengucapkan selamat padaku.


Semua orang mengucapkan selamat padaku yang berbahagia pada hari itu.


Dan kami berangkat ke Florence, keluarga Garcia datang bersama seluruh keluarganya, Ayah dan Ibunya, serta keluarga dua orang saudaranya untuk merayakan pertemuan pertama dua keluarga ini.


Mereka menyewa private room di sebuah restoran hotel tempat mereka menginap dan melakukan pekerjaan dekorasi yang cantik untuk acara ini.


Aku melihat Nathan menunggu kami di lobby bersama salah seorang wanita yang kutahu itu adalah saudara perempuannya.


"Kau nampak cantik Carina." Dia berbisik padaku, membuatku mengengam tangannya dan merasa tersanjung dengan pujian diam-diamnya.


"Kenapa kau tak mengatakan apapun soal ini."


"Ini kejutan, tidak boleh diberitahu. Nanti kau tak bisa tidur memikirkannya." Dia tertawa kecil. Merangkulku hangat, membuatku menjadi gadis p yang paling berbahagia malam ini.


"Ini Ayahku ...Ferdinand Garcia." Dia mengenalkan kami semua kepada keluarganya Ayahnya, dan Ibunya, semua orang yang hadir dalam pesta itu. Sementara aku mengenalkan Ayah Ibu dan keluarga Bibiku.


Kami saling mengenalkan keluarga kami, para Ibu dan Bibi saling bicara, para Ayah dan Paman saling berkenalan, yang lebih muda saling berkumpul di sisi meja yang lain. Dua keluarga akan mempunyai hubungan baru sekarang Garcia dan Mironov.


"Kami masih keluarga besar di Rusia dan Polandia, aku imigrant generasi ke dua yang berasal dari Timur Rusia sementara keluarga besar Ibunya di Moskow."


"Kami aslinya Spanyol tapi mungkin sudah generasi ke empat, keluarga kami tersebar di USA dan Mexico. Istriku juga sama denganku, dia punya darah Spanyol." Para Ayah mengenalkan keluarganya. Kami semua adalah keluarga imigrant dari Eropa di tanah US. Dan sekarang malah berkumpul di Italia untuk pertunanganku.


Aku berkenalan dengan adik perempuan Nathan yang sudah menikah, dia datang dengan anak laki-lakinya yang sudah berumur 5 dan 7 tahun. Sementara adik laki-lakinya yang kecil berumur 31 tahun, belum menikah.


"Jadi kalian ini bertemu dimana sebenarnya..." Adiknya bertanya, tak ada yang tahu pekerjaan Nathan kecuali aku. Bagaimana kami bertemu agak sulit dijelaskan.


"Bagaimana kepala unit FBI bisa jadi assisten sementaramu saat Ibu bertemu dengannya di Chicago." Aku menunggu Nathan saja yang menjelaskannya, dan itu akan menjadi cerita yang akan kami ceritakan ke semua orang nanti.


"Sebenarnya aku membantunya melakukan investigasi sebuah kasus. Dia jadi assisten khususku untuk sementara selama beberapa saat, dan bekerja di Garcia Int juga..."


"Jadi Kate semacam sedang menyamar..."


"Iya seperti itu kira-kira yang terjadi."


"Dengan sepengetahuanmu atau kau sedang diselidiki karena melakukan suatu pelanggaran hukum Kakak?"


"Tentu saja dengan sepengetahuanku, jika aku melakukan pelanggaran hukum aku tak akan menikahinya sekarang, aku akan dipenjara adikku tersayang dimana logikamu itu...." Semua orang tertawa sekarang. Mungkin itu yang kami akan katakan ke semua orang tentang bagaimana kami bertemu nanti.


Kecuali kami berdua tak ada yang tahu bahwa keluarga Mironov kami adalah CIA agen, dan anak mereka pun terlibat dalam operasi CIA ini.


Mungkin itu juga yang diceritakannya pada Louis dan orang-orang yang tidak mengetahuinya disekeliling kami. Kami menghabiskan makan malam itu dengan saling mengenal, saling bercerita. Banyak yang diceritakan... Besok mereka akan berkunjung ke rumah Mom, melihat wineyard milik Mom. Dan kami bisa banyak bercerita lagi nanti.


"Baiklah, sekarang acara yang menyebabkan kita semua berkumpul disini. Nathan dan Kate sayang, kemarilah..." Meja kami sudah dibersihkan oleh pelayan. Ibu Nathan mulai berbicara... Aku sekarang digandeng Ayah dan Ibu ke tengah mereka, Nathan berada di tengah orang tuanya. "Giliranmu bicara..."


"Semuanya terimakasih telah hadir disini, aku dan Kate telah memutuskan kami bersama-sama sebelumnya dan Mama mengatakan padaku bahwa aku harus melamarnya dengan pantas, Thanks Mom, jika tak ada kau kami tak akan disini. Thanks Dad sudah bersedia mengantar anakmu kesini, ..." Ibu dan Ayahnya tersenyum pada anak mereka.


"Ini anak pertama kami, kami senang akhirnya dia menemukan teman hidupnya. Mulai sekarang kita adalah keluarga. Dan Kate adalah juga putri kami." Ayahnya menepuk baru Nathan.


"Dan Paman Bibi terima kasih telah mengantar Kate kesini,... Aku Nathan memintanya dari kalian sebagai teman hidupku, aku berjanji akan menyayanginya seumur hidupku dan membuatnya bahagia seperti kalian membahagiakannya." Ayah dan Ibu tersenyum mendengar janji Nathan. Dia anak yang menghargai orang tua. Bisa mendengarnya memintaku begitu baik dari Mom dan Dad sungguh sebuah keistimewaan.


"Kakak, apa kau yakin sudah memilih cincin yang tepat..." Adiknya sekarang membuat suasana tambah ramai. Semua orang sekarang tertawa. Tentu saja itu bercanda, tapi Nathan kelihatannya malah tegang. Dia menunggu semua orang berhenti tertawa dan maju selangkah padaku. Aku berdebar sekarang menatap matanya menunggu dia mengatakan kata-kata lamaran itu didepan semua orang, sementara yang lainnya juga menunggu Nathan bicara.


Satu detik, dua detik, aku tak menyangka menunggu itu akan menjadi begini mendebarkan. Dia tiba-tiba berlutut didepanku. Dia bersedia melakukannya dengan cara lama. Aku terharu dia melakukannya untuk memintaku...


"Aku Nathan Garcia memintamu menjadi istriku Kate Heatherton, maukah kau menikahiku..." Sebuah cincin solitaire tanda pertunangan sekarang ada didepan mataku,... membuatku terpesona atas kilauannya. Sesaat aku tak bisa bicara. Semua orang menunggu jawabanku sekarang, aku melihat kepada Ibu dan Bibi yang sekarang tersenyum lebar padaku sambil mengangguk memintaku menyelesaikan kalimatnya.


"Iya, tentu saja mau..." Dan semua orang bersorak bahagia sekarang. Membuat Nathan yang berlutut tersenyum lega dan bisa berdiri. Dia memasangkan cincin itu di jariku dan membuat kecupan di keningku.


"Tampaknya besok kita harus segera menetàpkan tanggal Nyonya Mironov, anak-anak ini harus kita urus pernikahannya dengan segera, mereka terlalu sibuk untuk mengurus detailnya kita saja yang membantu mengurusnya... Ini akan menyenangkan..."


"Kau benar, aku juga tak sabar lagi..."


Semua orang lega, kami sudah melewatinya, aku melihat cincin yang sekarang terpasang di jariku. Aku menyukainya. Ini terlihat bagus di jari manisku.


"Kau suka?" Nathan melihatku menatap cincin pertunangan yang diberikannya.


"Tentu saja. Ini sangat bagus." Dia menatap mataku, dan aku tak sabar untuk memberikannya ciuman, tapi tidak didepan orang tua kami, akan memalukan menjadi gadis yang tak sabar.


" Aku senang kau menyukainya." Dia terlihat lega sekarang. Aku tak menyangka dia bisa tegang juga padahal nyata-nyata aku sudah menerima lamarannya sebelumnya.


"Kenapa wajahmu begitu tegang tadi?" Dia melihatku yang ingin tahu apa pikirannya.


"Aku pernah gagal menikah, padahal tadinya kupikir semua baik-baik saja. Tapi dalam satu malam itu tiba-tiba berubah, aku takut itu akan terjadi lagi entah bagaimana."


"Ternyata begitu." Aku mengenggam tangannya ternyata pengalaman gagal menikah itu cukup membekas untuknya. "Tapi lihat orang tua kita, mereka mereka sangat berbahagia malam ini, dan terima kasih untuk moment ini, ini sangat manis."


"Ibu yang mengatur ini untuk kita, kita perlu berterima kasih pada mereka, dia juga yang memberikan ide aku harus melamarmu ke Italia..."


Malam itu terasa bagai mimpi. Semuanya berlalu dengan indah. Semua sekarang akan berjalan dengan lancar, keesokan harinya mereka makan siang ke rumah Ibu. Ibu dan Bibi ganti yang menjamu mereka. Dan tebak mereka langsung tak sabar menetapkan tanggal pernikahan kami.


"Kita lakukan musim panas ini, kurasa cukup waktu untuk mempersiapkan semuanya? Bagaimana Nyonya."


"Tentu, cukup waktu, kalian berdua ingin mengatakan sesuatu?" Aku dan Nathan cuma melihat dua Ibu itu memegang kalender di tangan mereka. "Kalian punya tanggal pilihan kalian atau bagaimana..."


"Ibu saja yang memilih untuk kami." Nathan langsung menjawabnya sementara aku juga mengiyakan kata-kata Nathan.


"Kalian ingin kami yang memilih?"


"Iya, kami akan menyesuaikan kesibukan kami dengan pilihan tanggal kalian, jangan terlalu dekat Mom, June kedengarannya bagus. Kami punya waktu tak terlalu dekat."


"Setuju June akan bagus... Kita punya waktu untuk mengundang semua keluarga, Nathan anak pertama kami dan putri satu-satunya kalian kupikir kita harus sedikit ... membuat ini tak terlupakan."


"Di Rusia pernikahan selalu di rayakan dengan meriah, aku ingin membuat sebuah pernikahan yang meriah untuknya." Ibu menimpali.


"Aku memikirkan dekorasi yang agak fairy penuh lampu keemasan didominasi putih dan peach ..." Ibu Nathan yang bicara sekarang. Saat semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan banyak kue dan makanan, beberapa diantaranya adalah makanan Rusia yang disiapkan secara khusus oleh Mom dan Bibi.


"Kenapa pikiran kita sama Nyonya...." Mereka tertawa berdua dengan heboh. Aku dan Nathan jadi saling tertawa mendengar antusias-nya Ibu kami.


"Kalian berdua nyonya-nyonya yang terhormat, tolong putuskan tanggalnya duluan, kenapa kalian jadi memikirkan dokorasi..." Ayah Nathan menegur istrinya.


"Wanita selalu suka membicarakan detail sehingga mereka lupa tujuan yang sebenarnya mereka berkumpul hari ini..." Ayahku menimpali.


Akhirnya diputuskan minggu terakhir June akan menjadi tanggal pernikahan kami.


Kami akan segera menikah. Segera...


\=\=\=\=\=


Persiapan pernikahan berjalan begitu cepat. June dengan cepat menjelang, musim panas yang sibuk dengan semua persiapan kami dan semua pekerjaan yang kami lakukan.


Tapi kebanyakan Mom dan Dad yang membantu kami melakukannya bersama profesional wedding organizers kami, mereka tahu bagaimana mengarahkan dua wanita yang kadang terlalu bersemangar sehingga kadang melenceng dari jalurnya itu. Aku harus berterima kasih kepada mereka, mereka tahu bagaimana mengerjakan ini dan tetap berada di jalurnya.


"Kau tahu mereka membuat pesta ini tidak main-main. Lihat semua kehebohan acara ini, design venue dan list makanan ini. Orang tua kita benar-benar bersenang-senang." Aku tertawa ketika rundown acara final sudah di email oleh event organizers kami.


"Tak apa ini moment sekali seumur hidup, kita merayakannya, membuat orang tua kita senang, terutama Ibuku, dia tidak punya kesempatan merasakan pernikahan impiannya karena tidak disetujui oleh keluarganya. Kupikir ini membuatnya sangat bahagia, setiap kali membicarakan detailnya wajahnya berbinar bahagia, aku suka melihatnya begitu bersemangat..." Nathan melihatku, sebenarnya aku juga bersemangat, mungkin tertular oleh semangat Ibuku.


"Kau sudah cuti besok bukan ..."


"Iya, untungnya kemarin aku sudah menyelesaikan laporan kasusku, aku bisa meninggalkan kantor tanpa beban."


"Beberapa hari lagi kita akan menikah, bagaimana perasaanmu."


"Hmm...entahlah, senang. Tapi sedikit takut, takut seperti kata orang-orang perasaan kita akan berubah. Tapi orang tua kita bersama sampai akhir dengan berbagai macam masalah. Aku ingin bisa seperti itu. Semoga kita bisa melakukan berdua, bersama sampai akhir,..." Sekarang dia memelukku.


"Kita akan bisa, kita punya contoh yang hebat, akan ada anak-anak yang nanti akan meneruskan legacy keluarga kita juga. Kita akan tetap berasa sebagai keluarga..."


"Hmm...jika nanti kita bertengkar, mungkin kita perlu mengingat lagi janji ini. Betapa sulit orang tua kita tetap bersama, tidak ada jalan mundur atau belokan didepan."


"Tidak ada jalan mundur atau belokan." Dia meminta janji kelingking aku tertawa kecil.


"Janji..." Aku mengaitkan kelingkingku.


"Janji." Dan dia menutupnya dengan menyatukan jempol kami. Itu sangat manis, seperti janji kecil yang dibuat di masa kanak-kanak dan akan terus akan diingat seumur hidupmu.


\=\=\=\=