
“Kau teman yang berbahaya...” Aku tertawa. Pria Italian memang terus terang.
“Aku ingin membuatmu berbahagia. Tapi kau tahu aturannya, kita cuma teman. Tak ada yang bisa kujanjikan. Jika kau tak bisa menerima itu lebih baik jangan, nanti bisnis kita berantakan.” Ini cuma teman, ini cuma bantuan kecil sesama teman.
“Hmm... Baiklah.” Dia melihatku tetap duduk disana.
“Ayo.” Jantungku berdebar keras sekarang, godaan Don Juan ini terlalu hebat dan dia terlalu pan*as untuk ditolak.
“Kau yakin?”
“Hmm...” Pipi panasku untunglah disembunyikan oleh gelapnya malam. Dia menggandeng tanganku saat kami keluar mobil dan jantungku berdebar keras karena genggaman tangannya itu.
“Fabian...” Pang*utannya di leh*erku saat pintu membuat tubuhku keca*nduan seketika. Setelah lama aku tak merasakan pelukan seperti ini. Napasku berubah seketika. Dia menjangkau saklar lampu. “Tidak biarkan lampunya redup.” Aku tak ingin dia melihatku, melihat wajah merahku. Memalukan begini menginginkannya.
“Kau masih bisa mundur sekarang, aku tak akan mempermasalahkan apapun.” Dia mengatakan itu sambil berbisik mencium anak rambutku. Bagaimana aku bisa mundur, aku terlalu lama membayangkan ini. Aku memeluknya menginginkan dia mema*ngut lehe*rku lagi,mengirimkan rasa yang lama sudah hilang. “Kuanggap kau setuju...”
“Jangan menciumku, kita hanya teman...” Aku menghentikannya yang ingin menyentuh bibirku.
“Itu aturanmu?”
“Iya...”
“Setuju.” Dan bibirnya ganti mencu*mbuku lehe8rku. Membuat jemariku merem*as rambut lebatnya.
Tubuhku terlalu mend*amba sen*tuhannya. Dan Don Juan ini tahu bagaimana melakukannya, membuatmu menger*ang menginginkan lebih banyak lagi. Dan cahaya samar itu membuat bayangan tubu*hnya begitu menyiksa untuk hanya disen*tuh.
“Kau memang Don Juan, basta*rdo absolute...” Dia tertawa kecil saat aku mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan gerakan tubuhku yang mengatakan aku menikmati apa yang dilakukannya. Bahkan aku tahu aku sudah kalah tak lama tadi, ini terlalu panas, dan aku sudah lama tak merasakan seseorang memelukku begitu erat, ku*lit pan*as yang menyentu*hku, dan dia yang begitu ahli membuatku berge*tar dibawahnya.
“Kau cukup kacau Monic...” Berbisik di telingaku, mengunciku berbar*ing dari belakang.
"Fabian." Napasku terse*ngal, tub*uhku terguncang, aku membiarkan dia yang melakukan semuanya.
Tangannya mengendalikan tubuhku terlalu ahli. Bagaimana dia tahu begitu baik bagaimana membuat wanita menyerah karena terlalu lemas. Dan kali ini dia ingin melepaskan dirinya, memaksaku ke batasku sekali lagi. Dan melepaskan dirinya tanpa menyentuhku didalam.
“Kau butuh pengakuan.”
“Kita akan bicara jujur, jangan ada yang disembunyikan antara teman.” Dia tersenyum kecil memandangku.
“Term temanmu itu memang sangat sempurna.” Aku mendorong da*danya yang ber*bu*lu itu. Se8xy, masku*line, hanya dengan melihatnya kau terlalu membayangkan banyak hal lain.
“Sekarang kau menyesal?” Dia melihatku sambil bertopang dagu.
“Bukan, hanya menyangkal aku menikmatinya.” Dia tersenyum kecil mendengarku. Merapikan rambutku yang berantakan. Entahlah aku tak tahu yang kutahu hanya aku menyukai caranya menyentuhku, membuatku terbuai.
“Jangan menyesal. Aku akan merasa bersalah padamu...”
“Tidak. Aku pergi dulu... Aku kembali ke kamarku saja.” Aku beranjak dari sisinya. Ini menjadi terlalu canggung sekarang.
“Kau menyalahkanku sekarang, kenapa kau pergi?”
“Tidak, sudah kubilang aku tak menyesal.”
“Kau yakin?” Dia meneliti wajahku.
“Aku yakin...Kita teman seperti katamu. Aku yang membuat pilihan ini, ...Cuma kau tahu ini cukup canggung, tapi besok akan normal lagi. Terima kasih buat ini. Kita masih bertemu untuk sarapan besok bukan?”
“Tentu saja.”
“Baiklah. Sampai besok kalau begitu.” Aku kembali ke kamarku. Perasaanku tak pasti, entahlah kurasa aku hanya penasaran, besok aku tak akan melihatnya lagi. Anggap saja ini hanya sebuah malam berbintang. Membuatmu bisa tertidur lelap...
“Jika kau memerlukan bantuan apapun telepon aku oke. Mantanmu itu tak akan berani mengganggumu lagi.”
“Hmm oke.” Aku menatapnya pergi, perasaanku gamang.
Jangan jatuh cinta padaku.
Aku menghela napas. Jangan jatuh cinta padanya Monica... kalian hanya teman.