
Makan malam berlalu dengan hangat. Aku terbawa ke masa-masa high school kami, Ibu yang merasa Monica adalah supporter dan teman yang baik untukku, selalu tak ragu untuk mengobrol dengannya. Mereka cepat akrab selain karena Ibu sebenarnya tak punya anak perempuan, dua adikku semuanya laki-laki. Monica menjadi semacam teman Ibuku jika dia datang.
Tapi teman gadis-gadisku yang lain tak pernah diperlakukan begitu. Hanya Monica yang menerima perlakuan istimewa itu. Pernah kutanya kenapa dia punya alasannya sendiri.
“Mamma melihat diriku dalam Monica, gadis biasa yang tahu apa yang dia mau.” Aku tak mengerti apa maksudnya, tapi mungkin aku sekarang mulai paham apa kesamaan mereka.
Aku dan Ibu menahannya hingga cukup larut untuk mengobrol. Ibu belum tahu aku punya masalah dengan calon pacarnya. Tapi nampaknya dia tahu aku berniat menahan Monica sampai larut. Ibu meninggalkan kami mengobrol kemudian.
“Sudah malam, ...” Kami duduk berdua di sofa besar ruang keluarga
“Baru jam 11, kau sudah mengantuk? Aku akan mengantarmu pulang, tidur dikamarku juga tak apa.” Dia meringis, menganggap ideku itu lucu. Dia tak tahu aku ingin dia menganggapnya serius.
“Kamarmu masih yang lama?”
“Tentu saja.” Tiba-tiba aku ingin mengajaknya ke Milan.”Kau ingin ke liburan Milan? Kau bisa ke tempatku.”
“Tidak, kenapa aku kesana. Bisa-bisa aku dicakar oleh pacarmu.”
“Aku tak punya pacar Monica, sudah kukatakan padamu.”
“Kau jadi aneh karena tak punya pacar belakangan ini.” Dia tertawa sambil meminum anggurnya. Sebuah
“Aku tidak aneh, aku hanya tahu apa yang aku cari sekarang.”
“Apa yang kau cari jika begitu?” Aku tak menjawabnya, hanya melihat wajahnya yang penasaran.
“Nanti kau akan tahu, aku akan memberitahumu.”
“Saat kau menemukan gadismu?” Dia tersenyum padaku. “Aku sungguh berharap kau menemukan seseorang yang baik, tidak sepertiku, aku hanya berharap Raoul membantuku di pertanian, tidak berharap dia orang yang terlalu sempurna seperti Bova, tapi hanya harapan sederhana saja tidak dikabulkan. Punya keluarga itu terlihat menyenangkan, aku selalu melihat keluarga dengan anak-anak mereka, kau tahu aku kadang juga menginginkannya...”
Aku begitu ingin memeluknya sekarang dan mengatakan bahwa aku bersedia menjaganya seumur hidupku padanya. Tapi mungkin kebanyakan dia tertawa keras antara akan menganggapku bercanda atau menawarkan kontak seorang psikolog.
“Kemarilah, kau ingin kupeluk.”
“Kenapa kau menawarkan pelukanmu.” Dia tertawa. Di dalam pikirannya dia berpikir aku tak akan mungkin menjadi kekasihnya bukan. Bukan salahnya juga, aku tak pernah berpikir dia akan jadi kekasihku. Seperti kata Ibu dia mungkin merasa risih dengan list kekasihku.
“Kenapa kau begitu baik...” Kubiarkan dia bersandar padaku.
“Aku memang baik. Kau juga selalu baik padaku.” Aku mencuri memainkan rambutnya, perasaan ini, rasanya menyenangkan sekali, bisa mendapatkannya dalam pelukanku, kenapa aku bisa tak menyadari dia yang kucari sekian lama.
“Hmm... kau benar, aku hanya teringat umurku, dan selalu iri pada keluarga-keluarga itu saat Natal begini.” Dia menatapku sangat dekat, sial, bagaimana jika kucium saja dia sekarang. Aku menginginkannya tapi tak bisa menyentuhnya.
“Bersabarlah, sebentar lagi seorang akan datang.”
“Siapa maksudmu? Bova?”
“Tidak. Dia tidak termasuk, dia orang yang buruk.” Dia langsung tertawa.
“Hmm...kita lihat saja nanti.” Dia masih mengharapkan Bova itu. Bagaimana menendang Bova keluar dari peredaran tanpa membuatnya merasa dipermainkan. Aku harus menemukan cara untuk ini.
“Hei, ayo liburan keluarga ke Canary Island?” Aku tiba-tiba mendapat ide mengalihkannya dari Bova.
“Canary Island? Dengan keluarga kita? Kau mengajak Ibu dan Ayahmu?” Dia melihatku dengan heran.
“Iya, kau pasti ingin mengajak Ibumu berlibur beberapa hari bukan.” Dia berpikir. Dia pasti harus bertanya ke Ibunya. Aku akan menyuruh Mamma bicara dengan Zia. Ini harus berhasil.
“Kau bisa bertanya ke Zia dulu.”
“Kau benar-benar mengajakku? Kau yakin? Kau tidak punya teman gadis lain? Berlibur dengan orang tuamu? Kau jadi aneh sekarang? Seperti bukan Guilio yang kukenal.” Dia melihatku dengan heran. Tentu saja dia heran ini sejarah.
“Aku sedang selibat, kau tak percaya padaku? Aku sudah bilang aku bisa bersumpah demi apapun yang kau minta. Aku serius...”
Dia menatapku dengan tak percaya.
“Baiklah aku akan tanya Mamma apa dia mau ke Canary.”
Yes! Aku berhasil! Mammadan Zia kalian harus membantuku kali ini.