The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 36. Counterattack 2



Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi pasti ada yang akan terjadi. Mungkin seseorang yang dibayar untuk merusak bisnis restoran.


Bisnis restoran akan rusak jika ada review jelek. Beberapa orang dibayar melakukan penyerangan padaku, mereka menulis review jelek di setiap site yang mencantumkan referensi restoranku.


Dan aku menanggapi serius mereka menyerang bisnisku. Aku membuat beberapa orang bekerja khusus menghadapi kritik ini. Menghubungi site-sites itu untuk meminta kebijaksaan mereka memulihkan rateku yang sengaja dihancurkan.


"Mereka kurang ajar Tuan Armando, mereka menyerang bisnisku dengan review jelek di setiap sites. Aku ingin memberitakan kebusukan mereka. Aku tahu mereka akan melakukan gerakan seperti ini untuk menjatuhkanku, aku ingin menjadikan ini berita Tuan Armando." Dan mumpung aku masih laku dijadikan berita selama empat bulan ini maka setiap gerakan mereka akan kujadikan bumerang bagi mereka sendiri.


"Nona screenshot gambarnya padaku akan kujadikan berita. Aku juga perlu pembanding review mu sebelumnya."


"Aku akan menjadikan ini berita Nona, permainan Gianni memang kotor." Aku yakin bukan ini saja yang akan dia lakukan.


"Jika dia mengirim orang ke tempatku untuk membuat kerusuhan dengan mengatakan makananku basi misal Tuan. Apa yang harus kulakukan?"


"Kau punya pengawal Nona, tangkap mereka tahan mereka dengan makanan yang mereka pesan, telepon aku dan aku akan mengurus mereka." Ternyata begitu, benar juga. Aku akan membuat mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka. Kalau perlu mempermalukan mereka yang berani datang.


Ternyata kemudian, itu tak menunggu lama terjadi. Untungnya para kepala chef, pelayan, manager pusat dan cabang, bahkan sampai staf kebersihan sudah ku briefing sebelumnya bagaimana menghadapi ini. Kelangsungan restoran kami dimana banyak dari antara mereka sudah bekerja lama dari jaman Ibuku masih ada akan dipertaruhkan pada masa ini. Jika kami kalah menghadapi imtimidasi ini mereka juga akan kehilangan pekerjaan mereka.


"Nona, masalah yang Anda katakan benar terjadi. Ada orang marah-marah membuat keributan dan mengatakan makanan kita sampah di depan." Salah seorang waiter melapor padaku.


"Mereka yang memang sampah, kau sudah menghubungi Jose?"


"Sudah Nona, dan kepala chef sendiri yang menghadapi komplain mereka sekarang."


"Ohhh begitu, mereka mengeluhkan seperti makanan hambar dan sebagaimya."


"Betul Nona, mereka memastikan orang-orang ini tak akan lolos. Kepala chef juga sudah langsung turun sekarang menghadapi mereka, saya rasa Anda harus melihatnya juga segera." Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Tuan Armando, pengacau sudah datang ke restoranku, mereka membuat sedang membuat keributan sekarang. Orangku sedang menahannya."


"Saya akan segera ke sana Nona. Tahan mereka... Juan dan timnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan." Tuan Armando dengan cepat merespon permintaanku.


Aku berjalan keluar dan melihat kepala chefku sudah melipat tangannya di depan dada menghadap sebuah meja. Di depannya ada empat orang laki-laki yang nampaknya di suruh membuat keributan.


"Makanan ini hambar dan basi chef, kau mencoba membunuh kami dengan makanan basi?!" Seorang laki-laki membuat keributan dengan suara besar di tengah makan siang itu.


"Apa yang kurang, coba katakan lagi, semua tamu di restoran ini tidak mengeluh dengan soupku dan pastaku, dan restoran ini menerapkan standar quality yang ketat, kau bilang itu hambar, itu berasal dari satu panci yang sama dan belum ada yang kembali, dan pasta itu masih mengeluarkan uap hangatnya kau bilang itu basi, mungkin lidahmu yang basi stronzo, mau kugosok dengan cairan pencuci piring di belakang?!" Kepala chef itu bicara dengan logat selatan yang khas. Semua tamu yang sedang makan siang karena memang restoran kami sedang penuh bisa mendengarkannya. Giliran aku yang bicara dan menenangkan situasi.


"Mohon maaf tamu-tamu sekalian. Kami memang sedang menghadapi banyak serangan dari kasus kami dengan keluarga Gianni. Seperti yang Anda tahu kami sedang terjerat hutang loan sharking dengan mereka. Semua site yang mengulas kami bintang kami di bombardir dengan rate rendah, diberikan komen buruk dan kalian melihat mereka bahkan berusaha mengirim mafioso rendahan kesini dan membuat keributan. Saya minta maaf sudah membuat makan siang Anda terganggu." Aku menjelaskan kondisinya kepada tamuku.


"Nona jangan menyerah kepada Gianni keparat itu! Aku membaca berita apa yang terjadi padamu, tenang saja, kami sudah terus kembali ke sini bahkan jauh sebelum kau disini, mungkin saat Ibumu yang berdiri di kasir. Dan kami akan terus kembali. Gianni itu memang b*angsat!" Seorang tamu tiba-tiba bicara dan memberiku semangat dengan suara keras dan bisa didengar oleh yang lain.


"Benar Nona, kau harus kuat menghadapi mafioso itu! Kau mendapat bantuan kami. Kami akan membuat komentar positif untukmu di ulasanmu."


Dukungan beberapa orang lainnya membuatku berbesar hati.


"Terima kasih semuanya, terima kasih. Kami akan terus membuat makanan enak, terima kasih." Tepuk tangan mengema untukku. Dan empat orang itu sekarang tak berguna dan akan kembali menjadi senjataku.


"Aku tak akan menurut padamu."


"Tak menurut? Kau yakin?" Juan tersenyum dan duduk depan orang itu. "Kau mau berhadapan langsung dengan Tuan Fabricio Bova, Nona ini adalah kekasihnya. Jika aku sampai menelepon Luca Zigaretti tangan kanannya Tuan Bova kau tahu apa yang terjadi. Atau kita keluar dan aku akan menghajar kalian ditempat parkir? Kalian hanya disuruh, mau mengorbankan nyawa kalian di sini?!" Mereka tak berani bicara lagi sekarang.


"Luca?"


"Benar sekali, boss langsung kami adalah Luca Zigaretti." Sekali Juan membawa nama bossnya empat orang cecunguk itu terlihat ketakutan.


Luca Zigaretti? Siapa itu, nampaknya satu kali Juan menyebutkan namanya orang-orang itu langsung ketakutan. Pasti ada sesuatu dengan orang itu yang membuat namanya begitu ditakuti.


"Ikut aku?" Juan mengetukkan jarinya di meja menatap lurus orang itu. Sedetik kemudian dia beranjak dari mejanya diikuti oleh tiga orang yang lain.


"Bagus, keputusan yang pintar." Aku menghela napas lega. Satu krisis terlalui ketika Juan bisa memaksa empat orang itu ke ruangan belakang sekarang. Dan tidak menganggu tamu-tamuku yang sedang makan.


Ini bukan kantor, aku tak punya banyak ruangan restoran ini, jadi mereka menahannya di sebuah ruangan kecil yang biasa dipakai para pekerja restoran untuk beristirahat. Mereka akan disana sampai Tuan Armando datang.


Tapi kemudian dia juga datang dengan seseorang yang lain. Pria dengan wajah dingin dan terlihat tidak sabaran, dengan belas jahitan di mukanya, pria mungkin seumur dengan Bova, beserta empat orang bawahannya yang lain.


Inikah Luca Zigaretti? Orang yang dikatakan tangan kanan Bova. Orang yang dibayar untuk mengerjakan pekerjaan kotor.


"Nona, saya Luca, senang bertemu Anda. Tuan Bova secara khusus mengatakan saya harus mendahulukan Anda jika ada kejadian apapun, cecunguk tak tahu diri ini biarkan kami yang mengurus."


"Nona, ini urusan laki-laki. Agak sedikit berdarah-darah pergilah ke depan. Anda tak perlu melihat apa yang akan kami lakukan..." Sekarang Tuan Armando pun mengusirku.


"Begitu?" Aku dan Hilda yang melihat itu jadi berpandangan berdua.


"Iya." Dia masih mencoba tersenyum.


"Baiklah, asal jangan kalian melakukan pembunuhan disini." Tuan Armando tertawa.


"Tidak, jika aku membunuh pun mereka akan melemparkannya ke sungai dengan batu pemberat, tidak akan ada pembunuhan disini. Benar kan Tuan Luca." Luca tersenyum kecil.


"Benar Nona, aku yang akan dibunuh Tuan Bova jika berani membuat kekacauan di tempatmu."


Aku merinding, ini memang bukan urusan kami. Aku akan pergi menjauh dari sini.


"Ayo Hilda." Aku menarik tangan Hilda tua yang benggong melihat gerombolan laki-laki yang akan saling mengancam ini.


"Mereka akan menghajar orang Nona?"


"Aku tak ingin tahu Hilda, anggap saja penjahatnya sudah ditangan polisi."


Berurusan dengan mafia, harus dihadapi dengan mafia juga. Nampaknya aku ditangan orang yang benar saat ini.