
"Kau gila! Menepi! Kau mau membuat kita terbunuh!" Monica berteriak padaku karena aku masih terpaku melihatnya. Sejauh apa aku sudah dikalahkan Bova sialan ini.
"Kau bilang apa tadi?!" Bagaimana bisa hanya dalam tiga minggu, kemarin dia bilang dia tak tertarik pada Bova yang sama ban*gsatnya denganku. "Kenapa bisa..."
"Seperti kau tak pernah terlibat hubungan sesaat saja, kenapa kaget begitu, kau mau membunuh kita!? Jalan! Kau mau jalan atau kita ditabrak orang ditengah jalan begini?!" Dia berteriak karena aku masih berhenti di tengah jalanan lenggang itu.
Aku menenangkan diri dan menjalankan mobil. Masih tidak bisa menerima apa yang aku dengar tadi, ... Bova itu tahu bagaimana membuat wanita jatuh. Dia benar-benar lawan yang sepadan.
"Jadi dia mengatakan itu saat kau setuju..." Aku tak dapat mengatakan ‘tidur dengannya’ kata-kata itu membuat hatiku panas.
"Iya, aku harusnya tak melakukannya, tapi dia terlalu menggoda Guilio, astaga kenapa aku mengatakan ini padamu, mungkin seperti kau melihat gadis yang cantik, sialnya pikiranku terlalu panas saat itu. Tapi dia luar biasa... Astaga, apa yang aku pikirkan." Dia menutup mukanya, malu menceritakannya pada ku, sementara aku ingin benar-benar memukul seseorang melihat reaksinya. Aku mengertakkan gigiku dan meremas setir kuat-kuat untuk mengendalikan emosiku didepannya.
"Sekarang aku lari bertekad menghindarinya, bertekad tak membiarkan diriku terpikat padanya, bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya,setelah semua itu,bagaimana aku harus menanggung keinginanku untuk menyentuhnya lagi tanpa mencintainya, tapi dia malah mengejarku sekarang dan bilang dia ingin punya hubungan yang sebenarnya. Aku binggung Guilio, menurutmu apa yang harus kulakukan. Apa aku harus mencobanya...." Seakan semua belum cukup dia terus menyiramkan bensin diatas kepalaku.
"Dia tidak bisa dipercaya. Jangan percaya padanya." Aku langsung membalasnya dengan cepat.
"Benarkah? Sepertinya dia tulus." Jika dia benar-benar serius bukannya itu adalah sebuah... keajaiban bagiku.” Dia tersenyum membayangkan laki-laki itu. Sialan! Sialan! Mati saja kau Bova!
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau menakutkan..."
"Guilio, dia tampan sekali. Kau tahu dia bahkan bilang dia tidak akan menyentuhku lagi, dia sampai berani bersumpah untuk itu, memberiku bunga, mengajakku liburan, bukankah itu tanda dia serius...Dari mana kau tahu dia tidak serius. Kelihatannya dia serius." Aku memandangnya dengan sengit saat Monica langsung membantahku. Jadi Bova mengajaknya liburan! Aku akan menculik Monica jika dia setuju! Cukup sekali itu terjadi! Tak akan terjadi lagi!
Monica diam, aku tahu dia tidak ingin mempercayai kata-kataku. Dia wanita, sudah terlalu lama sendiri sejak Raoul sialan itu pergi, menghadapi pria langka seperti Bova jelas jarang ada didepannya itu dia jatuh bukan sebuah hal yang mengherankan.
"Entahlah, kita lihat saja nanti. Apa dia bersedia datang... Aku akan datang ke ladang Lucas bersamanya minggu depan. Kau tahu yang manis, dia bilang hanya ingin mengajakku makan malam dan nonton. Guilio, rasanya seperti kembali ke masa masih berusia awal 20-an." Dia tertawa kecil, aku diam memendam kekesalanku, tak akan kubiarkan hal itu terjadi.
"Guilio? Kau kenapa sebenarnya? Kau sedang ada masalah?" Dia meneliti wajahku yang muram.
"Tidak."
"Kau yakin? Kau bisa ceritakan apapun padaku?" Menceritakannya padanya bahwa aku ingin membunuh Bova. Ohh dia akan histeris dan ganti membunuhku!
"Tidak, tidak ada apapun."
"Hmm... baiklah. Jika ada apapun kau bisa bicara padaku. Kau tahu itu."
"Iya." Aku menghela napas panjang untuk menenangkan diriku sendiri. "Sudahlah, apa merk yang kau inginkan untuk anggurmu?" Kita ganti topik pembicaraan saja sekarang.
"Aku jadi memikirkannya, ...entahlah tapi kurasa nama variety anggurnya dan nama keluarga. Biasanya namanya seperti itu bukan. Aku ingin tetap mengenalkan farm luas ini juga. Ini menyenangkan Guilio,..." Dia tersenyum padaku, bicara tentang pertaniannya selalu membuatnya bersemangat. Andai aku yang mendapatkan lahan Lucas itu untuknya. Tapi tidak Bova yang beruntung mendapatkannya.
"Tentu saja punya harapan baru itu selalu menyenangkan."
Syukurlah, jika dia terus bicara tentang Bova aku tak yakin bisa mengendalikan kemarahanku lagi, salah-salah aku mengacaukan segalanya.