
Aku membelalak ketika dia benar-benar berbaring di ranjangku tanpa bertanya lagi, aku yang baru selesai memakai bajuku jadi bertanya-tanya apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
Aku bertanya apa yang akan terjadi sekarang. Target yang tidur denganku ini cukup memusingkan, sekarang dia tidur disampingku semalaman, bagaimana aku bisa tidur.
"Nathan, kau tidak bisa tidur disini. Aku tak terbiasa tidur dengan orang lain disampingku. Bagaimana jika yang lain tahu...." Aku protes, menyentuhnya dan menarik lengannya agar bangkit lagi. Tapi dia menarik tanganku, merangkulku dan menyebabkan aku jatuh menimpanya yang sedang berbaring. Sekarang aku di pelukannya lagi.
"Nathan...apa yang..."
"Aku tidak terbiasa meninggalkan wanita sendiri. Membuatku merasa buruk. Apa kau berpikir aku memaksamu tadi..." Pertanyaannya membuatku merasa seperti aku dihargai. Aku menatap matanya, dia benar aku akan menangis sendiri setelah dia pergi.
"Kau barusan mengancamku tadi, sekarang tiba-tiba kau..."
"Kau benar. Aku hanya berharap kau mengatakan siapa dirimu tadi...."
"Aku sudah mengatakannya..."
"Benarkah." Sekarang dia tersenyum sambil memegang daguku. Sementara jantungku berdebar antara ketakutan dan tak mengerti apa yang diinginkannya. "Kalau begitu, baiklah, aku percaya kau hanya sedang patah hati, aku tetap disampingmu malam mengobati patah hatimu, jika aku meninggalkanmu begitu saja bukankah berarti aku hanya mengambil keuntungan darimu..." Aku berdebar menatap matanya sekarang. Pelukan ini rasanya begitu nyaman. Tapi mungkin dibelakang itu dia hanya ingin mendapatkan pengakuan dariku.
"Kita hanya teman, kau tak perlu bersikap begitu..."
"Sikapku ke teman memang begini, jangan heran, aku bukan Tyson-mu itu ...." Aku terdiam menatapnya saat dia membawa Tyson yang kusebutkan, aku bertaruh entah bagaimana dia bisa mengecek latar belakamg orang yang kusebutkan. Apa yang diinginkannya. Dia mencurigaiku dan mengambil keuntungan tadi tapi sekarang memperlakukan aku seperti ini, apa untungnya dia melakukan ini.
"Nathan, kau berlebihan..." Sekarang dia memainkan rambutku, sementara dia tetap merangkul pinggangku, menatapku seperti memujaku.
"Aku berlebihan?" Dia tertawa kecil. "Kalau begitu kau akan terbiasa nanti. Tidurlah sekarang..." Dia melepasku kemudian. Aku dengan bodoh merasa kehilangan.
"Nathan... Kau tidak bisa tidur disini. Aku benar-benar tak bisa tidur.. " Aku mengiba sekarang, sudah dua kali belajar dia tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Menyentuh lengannya, mengoyangkannya lagi. Dia berbalik...merangkul pinggangku lagi.
"Natalie sayang, jika kau cerewet lagi, akan kucium kau. Jadi cobalah tidur, jika yang tadi belum cukup, kau bisa bilang padaku? sekali lagi kau mencoba mengusirku, aku akan menganggap kau perlu aku membuatmu kelelahan ... Mengerti." Aku diam tak berani protes lagi.
Aku tahu dia tertidur begitu saja kemudian. Tinggal aku yang tak bisa tidur karenanya, memikirkan apa yang terjadi, kenapa sikapnya jadi begitu. Karena dia ingin mendapatkanku, setengahnya aku merasa dia membalasku, setengahnya aku merasa entah bagaimana dia tulus. Bagaimana bisa aku berakhir begini.
💚💚💜💜💚💚
Aku terbangun kemudian. Dia tak ada lagi disampingku. Aku teringat semalam, aku lolos tapi aku membayar harganya...
Kututup mukaku dengan bantal. Aku kacau sekarang. Apa yang harus kulakukan. Bagaimana caraku muncul didepannya sekarang, satu-satunya jalan aku harus berakting sebagai gadis yang putus cinta? Tapi aku berharap dia sudah pergi sekarang.
Sudah jam 9, jam dua mungkin aku baru tertidur semalam. Kantor baru mulai sejam lagi di LA, kami berada di wilayah waktu berbeda, aku memeriksa emailku apakah ada laporan yang kuinginkan. Ternyata belum ada ...
Tapi ada pesan dari rahasia bossku. Sebuah email permintaan agar aku meneleponnya. Aku tak berani meneleponnya disini, bagaimana jika kamar ini dipasang penyadap.
Aku turun ke bawah, tak bisa bersembunyi terus.
"Pagi Nona. Tuan Nathan belum pergi begitu lama. Dia bilang akan kembali sore. Kau ingin dibikinkan kopi atau teh Nona?"
"Ohh Baiklah, kopi saja..." Kurasa aku akan pergi keluar saja menelepon di luar sekalian jalan-jalan. Aku membeli sedikit pakaian.
"Ohh baiklah..."
Sebuah pesan datang padaku kemudian di ponsel.
'Sore kita akan makan malam... Jalan-jalanlah. Kau disini untuk liburan."
Baik sekali. Ini caraku memperlakukan teman, aku teringat kata-katanya sekarang dan merinding karena itu.
"Semua orang pergi? Hanya ada aku disini?"
"Iya Nona." Ohh mereka semua pergi? Benarkah? Atau ada orang yang masih mengawasiku. Aku tak percaya pada mereka sepenuhnya. Tak masalah sebenarnya. Aku tak bertemu siapapun disini, tak ada masalah jika mereka mengikutiku.