
Makan malam bagi orang Italia adalah sebuah rekreasi sekaligus perayaan, jika kau membandingkan orang Italia dengan orang London, dari lima detik pertama kau sudah tahu, lima orang Italia cukup untuk membuat gerombolan percakapan terasa 10 orang.
Italian tak mencampur makanan dalam satu piring, sistem buffee tidak berjalan dan tak valid dikepala kami. Kami menjalankan makan malam dengan aturan khusus, antipasto(makanan pembuka), primo(makanan utama pertama biasanya pasta), secondo (makanan utama protein), dan dolce(penutup).
Sebuah menu antipasto yang biasanya terdiri dari kombinasi platter salad dengan minyak hanya minyak zaitun dan balsamic vinegar, buah zaitun, artichoke, salmon, calamari, cure meat(daging olahan misal bacon, sosis), olahan keju.
Sosis kami terkenal di wilayah ini, selalu ada yang memesan, dan beredar di swalayan lokal, pemilik resepnya adalah Ibu tentu saja yang diwariskan dari Ibunya lagi. Dia selalu menerima pujian untuk ini. Dia menikmati waktu memasaknya.
Koki yang sudah puluhan tahun bekerja dengan arahan Ibu, jika sudah urusan memasak, Ibu adalah jagonya.
Dan soal mengobrol dengan gadis dan wanita diseberang meja sana ada ahlinya. Aku melirik penampilannya dengan hanya jeans dan kaos pas badan menyebabkan gadis-gadis memerah pipinya. Sudah terlalu sering aku melihat ini, jadi aku mengabaikannya dan mengobrol dengan tamuku yang lain, sementara menu selanjutnya dikeluarkan dan percakapan terus berlangsung dengan meriah sampai malam. Dentingan gelas anggur berjalan selama makan malam berlangsung.
Semua tamu sudah kembali, lihatlah gayanya membuat salam perpisahan dengan wanita itu, dia bahkan memberikan mereka ciuman pipi. Ciuman pipi adalah salam yang cukup umum di antara lokal Italian, dengan saling menempelkan pipi tentu saja, bukan bibir ke pipi.
"Perlu kubantu..." Aku sedikit membantu para pelayan membersihkan meja.
"Tak usah, pergilah. Gadis-gadis itu tak menunggumu?"
"Apa maksudmu?" Dia melihat padaku.
"Kau tidak mengedipkan mata dan minta nomor kamar tadi ke seseorang diantara mereka tadi atau tidak adakah yang kau sukai?" Aku melihatnya seperti dia salah tempat disini. Kenapa dia malah membantuku membereskan meja?
"Monica..." Sekarang dia menatapku tak percaya, sambil menaikkan tangannya ke udara sambil mengelengkan kepalanya.
"Apa? Ada yang salah? Aku sering melihatmu melakukannya dengan mudah." Aku ingin tertawa lagi. Entah ide dia melarikan diri dari pacarnya itu terdengar sangat lucu sekarang.
"Aku kesini menghindari pacarku..."
"Lalu?"
"Aku perlu menjauh dari semua wanita sekarang." Ahh ini menarik, kenapa malah dia harus menjauh dari semua wanita?
"Bukankah kau hanya harus menemukan yang cocok, kenapa kau harus menghindarinya?"
"Entahlah kurasa aku menjadi kebal dan sudah tak punya perasaan terhadap wanita, aku tak tahu mana yang cocok denganku, kenapa aku selalu takut dengan kata komitmen. Padahal aku tak punya keluarga yang baik-baik saja. Tapi kenapa selama ini aku tak menemukan seseorang yang cocok denganku."
"Hmm.... " Aku baru mendengar metode begitu. "Begitukah. Jadi maksudmu kau hanya ingin puasa berpacaran dan mendekati wanita? Lalu nanti baru memulai lagi." Aku menyimpulkan apa yang kudengar.
"Kira-kira begitu." Itu sedikit tak biasa untuk ukuran seorang Guilio. Tapi baiklah, mungkin sedikit berpuasa bisa membuatnya merasakan getar-getar cinta yang diinginkannya lagi. "Bagaimana menurutmu."
"Hmm... entahlah. Kurasa yang melemparkan dirinya sendiri itu selalu ada, aku malah penasaran apa kau bisa menahan itu." Aku meringis lebar. "Tadi benar gadis itu tak membisikkan nomor kamarnya?"
"Dia mengatakannya." Aku tertawa ternyata benar yang kuduga. "Kau jangan mempengaruhiku... aku tak akan kesana."
"Ohhh benarkah."
"Ganti topik Monic, bagaimana musim ini, bisnismu bagus." Aku mengangguk, menceritakan bagaimana bantuannya untuk menaruh brosur pariwisataku di jaringan hotelnya ternyata punya dampak yang bagus.
"Aku ingin membeli lahan baru. Tapi aku juga ingin membeli sahamku lagi. Apakah kau perlu uangmu Guilio."
"Tidak...tidak, gunakan keuntunganmu untuk berkembang dulu. Aku juga tak pernah mengambil keuntunganku. Aku sudah sangat senang melihat perkembanganmu tiga tahun ini." Dia selalu jadi teman diskusi yang baik jika sudah bicara bisnis.
"Baiklah... Aku akan melakukannya."
"Bagaimana mantan suamimu dia masih berani menggangumu?" Aku menggeleng.
Diumurku yang ke 29 aku pernah jatuh cinta dan hidup bersama dengan Raoul, tapi ternyata pria itu hanyalah pria parasit, aku menyangka dia romantis, tampan, penuh perhatian, bisa bekerja dengan baik.
Yang dilakukannya ternyata hanya menumpang dan bekerja dengan malas-malasan. Kami bertengkar setahun lebih sejak kebersamaan kami dan belakangan dia datang lagi menggangu dan mencoba memulai kembali. Dan meminta uang...Pria parasit itu, tak tahu malu... Pigrone kata kami. (secara harfiah: tulang pemalas)
"Tidak, setelah kau memberinya bogem mentah dan mengancamnya dia tak pernah datang lagi, ..."
"Sudah kubilang dia bukan orang yang baik. Aku tahu dari pertama melihatnya, tukang membual." Dia memang mengatakan Raoul penuh omong kosong, awalnya aku tak percaya. Tapi akhirnya aku menangis mengakuinya dan dia hanya menghela napas mendengar ceritaku sambil menenangkanku.
"Kau tahu Guilio, setelah berkali-kali gagal, aku juga kadang mengatakan lebih sederhana hidup sendiri kadang, lebih tenang, tapi sedikit percikan cinta itu kadang membuat segalanya sangat indah." Dia tertawa kecil mendengarkanku sambil mengosongkan gelasnya.
"Hmm... entahlah. Aku juga tak tahu. Kau rupanya lebih memilih menjadi biarawati lebih duluan daripadaku."
"Aku hanya ingin hidup sederhana padahal, mengelola pertanian ini, menemani tamu, melihat pekerjaku bisa hidup, melihat anggur menjadi manis, mungkin seorang anak yang memuji pastaku. Tapi tampaknya itu tak semudah kelihatannya." Aku melihat anggur di gelasku dan menengaknya habis.
Kami sama-sama terdiam dan duduk dibawah bulan September, autumn harvest yang sibuk masih akan berlangsung dan menyenangkan. Musim anggur dipanen, pistachio dan almond dan fichi d'India yang hanya tumbuh di Sicily manis telah dipetik.
fichi d'India'
Tapi kadang aku sedikit kesepian. Saat ada Raoul dia bisa mengisi banyak warna ceritaku, tapi kemudian memberiku kenyataan bahwa dia hanya ingin mempermudah hidupnya dengan hanya menyanjungku.
Aku tak menerima Pigrone sialan itu.
"Minum lagi Guilio, kenapa kita berdua terlihat menyedihkan seperti ini." Aku membagi dua anggur di botol itu dan tertawa. "Kau benar-benar tak mau pergi ke kamarnya..."
"Aku tak akan pergi ke kamar gadis itu, aku memilih selibat ditemani anggur..."
"Meno male Guilio! Sono così contento che sei vivo." (Thank God Guilio! Aku sangat senang menemukanmu hidup sekarang!”) Dan dia tertawa atas sindiran terang-teranganku itu.
Jangan salah dalam beberapa hari kedepan aku tak yakin dia bisa bertahan.