The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 29. You Lose Serpenti!



Aku kembali dari Catania dengan perasaan lega dan gembira. Mungkin terlalu melayang sehingga dua jam terakhir di pesawat rasanya campur aduk. Rasanya ingin bisa sekedar menyentuhnya sedikit tapi aku tak punya keberanian, tanpa dia mengatakannya sendiri.


"Jika kau butuh bantuan jangan sungkan meneleponku oke. Walaupun kita belum bisa ." Dia selalu bilang hal semacam itu. Tapi sebenarnya aku tak berani, aku takut dianggap manja dan tergantung padanya. Dia sudah terlalu baik. 


"Terima kasih. Kau sudah melakukan banyak hal untukku."


"Itulah gunanya teman." Dia tersenyum. Aku cuma mengangguk. Ya, ya ...itulah gunanya teman. Bolehkan aku sedikit bersandar denganmu? Mungkin akan menyenangkan tapi aku tak berani menanyakan itu. Lagipula untuk saat ini aku tak bisa terlihat dengannya, berbahaya untuknya.


"Ingat kataku, jangan dengarkan intimidasi apapun. Sekali kau kalah akan intimidasi mereka akan mengendalikan permainan."


"Aku mengerti. Aku akan percaya saja pada arahan pengacaramu."


"Proses pengadilannya tidak akan berlarut-larut, tapi akan tetap dijadikan berita minimal 4-5 bulan lagi karena menyangkut nama Gianni. Urusan pengadilan pengacara yang mengurus, aku akan membantu memonitor, kau fokus ke bisnismu. Kau sedang terkenal kau harus memanfaatkannya."


"Iya aku tahu, jika ada investor aku ingin membuka cabang  baru aku pasti akan menerimanya. Belakangan tiga cabangku punya perkembangan bagus. Kupikir aku sudah punya modal nama jika ingin membuka cabang lainnya."


"Itu pemikiran yang bagus. Pasti ada yang akan tertarik nanti dengan kepopuleran kalian cepat atau lambat kau akan dapat momentumnya."


"Aku bersemangat." Aku tersenyum lebar padanya


"Bagus! Aku tahu kau pasti tak akan membuang kesempatan ini." Ingin rasanya memeluknya lagi dan mengucapkan terima kasih. Tapi jika berbulan-bulan lagi dia tetap baik padaku, mungkin dia yang akan memelukku duluan. Jadilah kekasihku...


Mungkin, entahlah. Yang jelas, tidak akan ada kalimat jadilah sugar baby-ku.


Saat aku sampai di bandara kami berpisah kemudian. Aku dijemput pengawalku yang bertugas kembali.  Beberapa wartawan menunggu untuk hari ini, Tuan Armando sudah mengatur jadwalnya untukku. 


"Apakah para saksi yang lain juga mendapatkan  intimidasi sepertiku Tuan Armando." 


"Tentu saja, tapi siapa yang perduli. Mereka semua kehilangan banyak hal seperti Nona karena Gianni. Aku mengatur sudah kesepakatan pembayaran dari pihak lain untuk mereka, plus kita bisa mendapatkan restorasi aset dan penjadwalan ulang karena tekanan pengadilan dan media. Lagipula dia tidak akan mencoba macam-macam  mengintimidasi saksi ada tuntutannya sendiri." 


Aku bisa tenang di tangan yang tepat. Aku bekerja dengan tenang di restoran setelah kepulanganku, semoga investor yang kuinginkan segera datang.


"Nona, seseorang bernama Silvia Duenas ingin menemuimu." Seorang staff memberitahuku bahwa ada tamu di makan malam itu, seminggu setelah kepulanganku.


"Silvia Duena?" Bukankah itu nama pacar Javier. Kenapa dia bisa muncul disini? 


"Iya Nona, dia mengaku namanya begitu." 


Silvia Duena ini dulunya adalah seorang sekertaris pribadi Javier. Sekarang apalagi yang dia inginkan. 


"Suruh saja dia masuk." Apa dia ingin mencaci makiku sendiri, karena mengambil uang calon suaminya. Kemungkinan besar begitu. Nilai yang kuminta cukup besar, mungkin si cantik ini  tidak rela memberikannya padaku. 


Suara pintu terbuka membuatku melihat ke depan. Si Blonde yang cantik itu melihatku lurus di mataku. Walaupun tepatnya kami hanya satu kali bertemu dan bahkan aku sama sekali tak bicara dengannya. 


"Silvia, sangat kebetulan kau menjumpaiku dari Madrid, ada apa, langsung saja tak usah terlalu panjang?"  Aku malas meladeni gadis muda yang selalu merasa lebih cantik ini.


Dia duduk di depanku. Menyilangkan kakinya dan membuat pose seorang nyonya yang berkuasa. 


"Kau belum puas menggangu kehidupan kami? Kulihat kau cukup makmur disini, kau perlu menguras harta mantan suamimu lagi?" 


Menguras harta mantan suamiku? 


Padahal Javier belum mentransfer satu sen-pun dari nilai yang kami sepakati. 


"Apa maksudmu? Bukankah kau yang selalu membatalkan kesepakatan kami. Kurasa kau bangga usahamu itu berhasil. Lagipula, aku yang berusaha dari nol selama bertahun-tahun untuk membesarkan reputasi restoran itu. Javier tidak pernah menyentuh restoran itu, jika itu dilimpahkan padamu dalam kondisi sangat bagus sekarang, kau harus ingat itu adalah hasil kerja kerasku, jadi tolong jangan terlalu sombong didepanku sekarang." 


"Kau benar-benar ular yang suka berpura-pura." 


"Mulutmu memang manis. Padahal kau yang mendesaknya menyetujui pembagian surat saham 10% plus nilaintunai 20%, kau kira aku tak tahu." 


"Ohhh begitukah?" Well baiklah. Itu kabar yang baru kudengar dan otomatis membuatku tersenyum lebar. "Aku senang mendengarnya, aku benar-benar tak tahu. Aku senang tentu saja, akhirnya dia  melihat hubungan kami 10 tahun ini. Terima kasih sudah membawakanku berita baik ini. Kau benar-benar baik Silvia."


"Ishh...benar-benar sepenti(ular)" Dia yang kesini dan mendesis seperti ular padaku kukira, bukan aku yang berlaku begitu.


"Tak usah terlalu serakah Silvia, sampai kau harus datang kesini menegurku begitu..." 


"Aku tak kesini menegurmu. Aku kesini untuk liburan." Dasar ular yang tak mau kalah.


"Ohh baiklah." Aku masih tersenyum lebar. "Kalau begitu nikmati saja liburanmu, mungkin karana restoranku sekarang dalam pengawasanmu aku hanya titip pesan semoga kau bisa mengembangkanmya lebih bagus lagi. Jika dalam dua tahun nilainya malah turun lebih baik aku menjual sahamku saja. Aku mungkin  bisa membuka sendiri di Madrid cabang restoranku sekarang. Aku akan mengunjungimu sebagai pemegang saham restoran kecilmu, tapi tenang saja, aku tak akan berlama-lama menaruh saham disana. Dalam waktu 2 tahun aku akan menjualnya kembali padamu dengan kenaikannya tentu saja dan kalau turun aku akan mencibirmu nanti ternyata manajemenmu sangat payah... Dengan kata lain kau hanya bisa menikmati uang kekasihmu..." Aku tersenyum senang sekarang.


Kenapa aku sangat suka ide ini.  Aku akan melakukannya dalam beberapa tahun ke depan. Ohh tidak tanggung-tanggung aku akan buka di depan pintu restorannya nanti. Aku akan mengundang Javier.


"Dasar ular!" Dia mendesis marah.  Aku malah tertawa, kenapa sekarang tak begitu menyakitkan lagi rasanya. 


"Kau yang datang ke sini duluan Silvia, padahal aku tak pernah mengusik hubungan kalian. Lain kali kau harus tahu diri. Kau dengar baik-baik  ini, kuberi kau saran, Javier adalah orang yang sangat perhitungan. Saat aku memegang restoran itu dan mengembangkannya reputasinya dan investasinya berkali lipat dia tak pernah cerewet apapun sama sekali tentang pekerjaanku. Dia hanya tahu dia menyerahkan uangnya ke tangan yang benar. Jadi mungkin saat ini dia masih tergila-gila  padamu, cinta membutakan matanya, tapi saat dia melihat kau hanya bisa menghabiskan uangnya satu saat kau akan lihat dia menganti posisimu. Tapi kurasa kau memang cocok menjadi Nyonya rumah saja, yahhh kapasitasmu memang tak besar..." 


Gadis itu mendapatkan balasannya kali ini karena berani datang ke sini. Sekarang aku puas bisa membalasnya.


"Kau tidak punya kualifikasi menilai kualitasku!" Gadis ini terpancing marah. 


"Ohhh begitu, kalau begitu jangan sampai kau membuat restoranku rugi, karena aku masih punya saham disana." Aku langsung tertawa terpingkal-pingkal didepannya. Mukanya merah menahan marah karena tak bisa membalas kata-kataku. 


"Kau sudah selesai?" Dia akhirnya hanya bisa menjawabku itu.


"Harusnya aku yang mengatakan itu, apa kau sudah selesai? Mungkin kau perlu di tunjukkan pintu keluar?"


"Kau pikir kau sudah menang?"


"Menang atau kalah tidak ditentukan oleh orang lain. Tapi kita sendiri. Tapi apa yang kau tanam akan kau tuai cepat atau lambat, pembalasan bukan bagianku Silvia. Aku hanya menerima apa yang terjadi diantara kami, aku mau Javier bahagia karena dia ingin sebuah keluarga lengkap. Aku selesai, bahkan aku tak ingin memperebutkan apapun dengannya di pengadilan. Tapi kau, kau melangkahi semuanya. Wanita tak tahu diri. Sekarang pergi dari sini!"


Aku menunjuk pintu keluar dimukanya sekarang. Dasar ular yang tak tahu dirinya ular. Dia berbalik dan pergi. Suara pintu dihempaskan mengiringi kepergiannya.


Beraninya wanita itu muncul didepanku. Javier harus tahu ini.


"Javier kau di Milan?" Kupikir wanita itu tak sendiri disini.


"Kenapa kau tahu aku di Milan?" Ohh ternyata benar. Wanita itu mengikutinya ke sini. Javier kadang ke Milan untuk urusan bisnis.


"Bilang pada kekasihmu itu sekali lagi dia muncul di depanku dan mencercaku aku akan menyiramnya dengan kopi panas! Dia pikir aku punya urusan dengannya. Urusan kita cukup urusan kita tak usah melibatkan dia, jika kau tak mau membayar apapun padaku tidak usah bayar! Aku tak mau sakit hati dibandingkan dengan wanitamu itu! Dia datang hanya untuk menghinaku dan mengatakan dia menang?!" Aku semburkan semua kekesalanku, wanita ular itu pasti suka bermain 'playing victim' sekarang akan kubalik padanya.


"Aku benar-benar tak tahu dia akan datang ke tempatmu. Sudahlah kau tak usah dengarkan dia, seperti yang kau bilang urusan kita tetap urusan kita." Diam sebentar. "Besok aku mungkin ke tempatmu, bisa kita bicara sebentar."


Ternyata kekasihnya itu tahu Javier akan bicara padaku dan memberikanku sesuai dengan kesepakatan kami sebelumnya. Dan dia tak bisa menerimanya, tak bisa menerima kekalahannya tak bisa mengendalikan Javier.


"Ehm baiklah. Datang saja."


"Kutraktir kau makan malam?" Ternyata teleponku terakhir membuatnya berpikiran lurus lagi dia ingin memperbaiki hubungannya denganku. Setidaknya kami bisa berteman, dia menghargai 10 tahun kami bersama, bukan membuangku dan melupakanku. Sebenarnya itu saja harapanku. Perpisahan baik-baik...


"Iya boleh." Dia menyebutkan sebuah tempat. Sebuah restoran tempat kami sering berkunjung jika kami ke Milan.


"Kalau begitu 7.30 oke."


"Baiklah, kita bertemu besok."