
"Aku tak tahu... aku bukan wanita yang secantik gadis-gadis manjamu itu. Aku tak suka paus..." Guilio tertawa.
"Monica tak ada yang mengatakan kau paus, semalam Papa marah padaku karena terlalu lambat, dia bilang mau melemparkanku ke ubur-ubur penyengat. Paus itu karena membicarakan jadwal melihat paus, dia menudingku dengan garpu mengatakan aku tak becus..." Aku tersenyum kecil. "Kau cantik, aku memujamu, menginginkanmu dibanding siapapun yang pernah kutemui ..."
"Aku setengahnya tak percaya perkataanmu, jangan merayuku seperti itu, mulutmu itu manis sekali..."
"Baiklah, berikan aku waktu untuk membuktikannya padamu." Dia merangkul pinggangku di tengah matahari berkilauan itu. Aku melepaskan diri dengan jantung berdebar...
"Aku tak akan tidur denganmu disini."
"Aku tahu kau akan mengatakan itu... Tapi yang aku cuma mau ciumanmu." Kenapa bastardo absolute ini manis sekali merangkai kata-kata.
"Kau memang perayu ulung. Kau membuatku malu didepan orang tua kita. Semua orang sudah tahu ini..."
"Apa yang bisa kulakukan, kau menolak kuajak pergi. Kau yang membuatku memakai cara ini...Sebenarnya aku minta tolong ke Mamma untuk bicara dengan Zia..."
"Ini memalukan..."
"Iya ini memang memalukan. Aku memang perlu dilempar ke ubur-ubur seperti katamu." Dia tak lepas menatapku, sekarang wajahku panas sendiri dia menatapku seperti itu. Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin melihatnya lagi sekarang...
"Berikan aku kesempatan oke... Maafkan aku baru mengatakannya sekarang. Hidupku terlalu penuh selama ini." Aku diam tak menjawabnya. "Monica, jawab sesuatu?"
"Aku tak tahu apa yang harus kujawab. Tak mengertikah kau." Dia tersenyum.
"Baiklah, aku hanya ingin kesempatan... Untuk bisa bersikap manis padamu. Aku boleh memegang tanganmu oke."
"Seperti kau tak pernah memegang tanganku saja." Aku sudah ingin memarahinya sekarang. "Astaga bagaimana berhadapan dengan Ayah dan Ibumu, aku malu sekali."
"Sebenarnya mereka sudah pindah ke La Palma. Mereka memutuskan memalukan bergabung dengan liburan putra mereka sendiri, terutama malu dengan gerakanku yang lambat.Papa menunjukku dengan " Guilio tertawa keras sekarang, nampaknya lega sudah mengatakan semuanya.
"Kau bilang apa?"
"Ibu mengirimiku pesan, katanya mereka memutuskan pindah ke La Palmas. (Pulau di sebelah Tenerife). Dia menyuruhku mengurus urusanku sendiri dan tak mau bergabung dengan kita. Kita disuruh pulang sendiri juga..."
"Ini memang gara-gara kau." Aku mendorongnya menjauh.
"Jadi kau terjebak bersamaku Cara. Jangan membunuhku oke." Dia mengengam tanganku dan otomatis membuatku risih.
"Menyingkirlah. Kau membuatku risih." Aku benar-benar tak biasa dirayu oleh Guilio. "Kau bisa bersikap biasa saja, jangan merayuku begitu."
"Baik-baik, aku tak akan merayumu. Kadang aku hanya ingin mengatakannya karena aku tak bisa menahannya. Bukan menginginkan sesuatu darimu." Guilio membuatku tak bisa bicara sekarang. "Tapi aku benar-benar lega sudah mengatakannya." Aku tahu dia tidak berbohong walaupun rasanya masih canggung mendengarnya dan tidak percaya karena kami mungkin terlalu lama berteman.
"Itu pausnya, kau mau kulempar..."
"Cara, kenapa kau kejam sekali."
"Lalu apa kau mengancam Bova?" Aku baru terpikir perubahan sikap Bova mungkin ada hubungannya dengannya. Lama dia tidak menjawab.
"Baiklah, aku hanya mengatakan aku tertarik padamu, masalah dia mundur itu pilihanya. Jika dia tidak mundur pun aku bisa mengatakan kami bisa bersaing. Dia memilih punya hubungan baik denganku... Itu yang terjadi." Ternyata Bova sudah tahu duluan dariku.
Sekarang aku ingat kejadiannya. Saat itu aku mengaku tidur dengan Bova. Dan dia hampir membunuh kami, menginjak rem di tengah jalan. Dia membuatku tinggal bersamanya kemudiam hingga larut malam. Kemudian siangnya dia bertemu Bova, aku meninggalkan mereka untuk bicara kemudian sorenya dan saat Bova kembali sore itu , dia menarik pernyataannya akan datang minggu depannya.
Itulah yang terjadi.
"Aku tahu dia menyukaimu, tapi aku lebih menyukaimu."
Aku meringis mendengarnya, rasanya tetap aneh mendengarnya merayuku.
"Sudahlah Guilio." Apa yang bisa kukatakan. Orang bilang semua pria Italia seperti Casanova, stereotype itu berlaku untuk Guilio. Dia mengatakan kata-kata manis seperti minum air.
"Bukan tidak percaya, hanya terasa tidak biasa...Seperti bukan kau. Kau tidak pernah merayuku." Aku tertawa sendiri di sofa itu.
"Kalau begitu biasakan saja." Membiasakan menerima rayuannya. Bagaimana aku bisa?
"Hmm..."
"Maafkan aku jika aku terlambat menyadarinya."
Kami tak bicara kemudian, setidaknya dia tidak mencoba merayuku lagi. Kapal mendekat kembali ke dermaga hotel. Tour selama empat jam itu berakhir. Hari masih sore, ternyata Guilio menyewa mobil untuk kami mengitari pulau itu.
Dari Costa Adeje kami ke Teresitas di Santa Cruz, Pantai dengan panjang garis pantai dua kilometer itu terlihat sangat indah dengan airnya yang tenang.
Dan berakhir dengan makan malam di restoran lokal di Tenerife. Bahasa Italia dan Spanyol punya banyak kemiripan, jadi sedikit banyak kami mengerti satu sama lain di kota ini.
"Bagaimana jika kita menunda ke La Palmas di hari terakhir." Kami sudah duduk makan malam di sebuah restoran kemudian.
"Baiklah, hari terakhir, aku tetap harus bertemu mereka. Aku tak punya muka lagi bertemu Ibumu." Aku membayangkan bagaimana aku harus bertemu dengan Zia.
"Apa yang kau katakan, kau tahu apa yang Ibuku katakan. Kenapa baru sekarang kau menyadarinya. Dia mungkin berharap kau menjadi menantunya sejak lama. Hanya aku yang baru sadar sekarang, kau tempatku kembali." Aku menatapnya dan tersenyum.
"Entahlah Guilio, aku... " Ini tetap terasa lucu.
"Kau masih menginginkannya dan teringat pada Bova bukan. Aku tak pernah menang darinya buatmu." Tiba-tiba dia bicara soal Bova. Padahal aku tak berpikir tentang Bova. Dia marah dan cemburu suaranya berubah saat mengatakan itu.
"Aku tak mengatakan aku memikirkan Bova..."
Dia diam saja kemudian.
"Baiklah, ayo kita pulang. Hari ini kita sudah jalan jalan sepanjang siang dan malam. Kau pasti lelah." Dia mengajakku pulang tapi sebenarnya dia sedang kesal sedang cemburu.
Sepanjang perjalanan itu dia lebih diam. Tidak berusaha bersikap manis seperti sebelumnya. Ternyata saat dia diam begini aku kehilangan godaannya juga. Mengherankan kita tiba-tiba merasa merindukan yang hilang.
Bova itu. Dia berusaha mengenyahkannya dari pikiranku, dia membuatku tinggal sampai larut ditempatnya, makan malam, membelikanku bunga, membelikan eskrim, mengajak nonton mengajak jalan-jalan, datang menemaniku akuisisi lahan bersama Mamma, akhirnya mencoba menjebakku di Canary. Berani menanggung resiko membawa orang tua kamu...
Dia memang berusaha. Aku menghargai usahanya sekarang. Tidak buruk juga
"Ya sudah istirahatlah, kau pasti lelah..." Dia berbalik dan akan pergi. Suara riangnya belum kembali, dia masih menyangka aku memikirkan Bova.
"Guilio apa kau marah pada padaku..." Dia tak jadi pergi.
"Tidak kenapa aku marah padamu Cara Mio." Tidak marah, hanya cemburu. Aku tersenyum padanya.
"Terima kasih Guilio. Hari ini menyenangkan, penuh kejutan, dan banyak hal yang lainnya."
"Tentu saja aku senang kau senang." Dia akhirnya tersenyum sekarang. Aku mendekatinya dan kucium pipinya. Dia melihatku dengan kaget dan mengelus pipinya.
"Ohh ayolah itu hanya ciuman pipi. Kau selalu jadi teman terbaikku." Senyumku menularkan senyum padanya dia terdiam dan berdiri di dana memandangku.
"Sana pergilah, aku tak akan menawarkanmu masuk ke kamarku." Dia tertawa sekarang.
"Kau memang kejam."
"Kau tahu itu dari dulu. Selamat malam Guilio."
"Selamat malam Cara."
Aku menutup pintuku. Apa aku bisa tidur malam ini. Hari ini penuh dengan hal gila.