The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 86. The Miranov Family



POV Nathan Garcia


Kenapa tak ada yang memberitahuku Ayah Kate adalah Andrey Mironov! Dan bibi Kate adalah Natasha Mironov, mereka berdua Agen CIA senior yang khusus menangani Eropa Timur termasuk Rusia. Walaupun dia sekarang sudah pensiun, tapi jelas nama mereka tak pernah dilupakan. Mereka tidak benar-benar pensiun kurasa, dia terlalu mengenal perkerjaannya dengan baik.


Bisa kutebak bahkan Kate sendiri tak tahu Ayahnya agen, bahkan seorang Russian, Daniel Heatherton, itu nama yang terlalu jauh untuk dikenali sebagai orang Rusia. Mereka menyembunyikan ini dari keluarga mereka begitu baik.


Dia mengajar di akademi saat aku masih dalam pelatihan. Dan kami melihatnya seperti master, dia tahu apa yang dia bicarakan. Dia adalah generasi kedua imigrant Rusia, ayah Ibunya adalah native Russian. Dia pernah tinggal di Rusia bersama Pamannya beberapa saat, maka dia memulai menjadi agen khusus karena memang menguasai Rusia karena darahnya dan dia spy yang sangat cerdas, mungkin bisa dikatakan berbakat untuk menggali informasi, mengenal medan, sekaligus menyembunyikan dirinya diantara kerumunan. Dia intel lapangan yang dihormati di CIA.


Bahkan putrinya sendiri tak tahu siapa dia.


"Ayah, apa benar kalian tidak kenal satu sama lain." Kate yang masih penasaran untuk ketiga kalinya bertanya, dia tak percaya kami tak saling mengenal, kurasa setelah kami pulang aku akan diinterogasi lebih jauh. Tapi aku tak bisa membongkar apapun? Itu kode etik tak tertulis.


"Tidak Katya, Ayah tidak mengenalnya. Ayo makanlah? Kau sudah mendapatkan kasus pertamamu?" Dia mengalihkan pembicaraan. Bahkan dia kadang memanggil Kate dengan Katya, khas Rusia.


"Belum, aku baru menentukan anggota tim-ku minggu lalu. Aku baru mendapatkan jabatan itu seminggu yang lalu lalu aku diculik."


"Hmm... baiklah, baguslah kau tidak tugas lapangan lagi. Ayah bisa tenang. Penculikmu itu ditembak m*ati bukan?" Dia kurasa akan mencari keterangan langsung soal keluarga Arthur Kulkov ini.


"Iya dia ditembak mati." Aku yang menjawabnya sekarang.


"Callaway masih berusaha mengancammu, jelas persoalan ini belum berakhir. Kau harus masih sangat berhati-hati..." Dia menghela napas. Memang benar persoalan ini belum selesai, dan Arthur Kulkov, Koyla, tak mungkin mereka menyerah begitu saja. "Sudahlah, kau kembali ke rumah Ayah saat Natal bukan..."


"Iya, tentu saja aku kembali."


"Baiklah..."


Dia menoleh ke arahku.


"Young man, pastikan putriku tetap aman, jangan sampai lengah..." Dia menepuk bahuku. Kami pasti akan bicara nanti berdua.


"Tentu Sir." Aku tak berani mengatakan apapun sebelum kami bicara lebih jauh, kesalahanku membawa Kate dalam bahaya karena melibatkannya dengan Kulkov, sekali lagi putrinya dia mendapatkan Kate dalam bahaya karenaku , dia akàn memasangku sebagai umpan perburuannya secara pribadi tanpa diragukan.


Makan malam berakhir kemudian, dan kami kembali.


"Bisa katakan apa yang terjadi sebenarnya?" Dia menarik tanganku kekamarnya untuk bicara berdua saat kami pulang


"Apa yang terjadi?" Aku tak bisa mengatakan apapun padanya, bagaimana aku bisa membocorkan rahasia keluarga yang Ayahnya jaga sampai sekarang. Aku tak punya hak untuk itu.


"Nathan sayang... Kau pasti mengenal Ayahku bukan."


"Aku tak mengenalnya Kate. Mungkin Ayahmu tak menyukaiku membahayakanmu sehingga dia bersikap seperti itu." Aku harus punya penjelasanku sendiri tentu saja.


"Sayang kau harus belajar berbohong lebih baik..."


"Aku tak berbohong." Aku menarik tangannya dan membuatnya jatuh dalam pelukanku. Meminta dia melupakan pertanyaannya saja jika bisa.


Aku berbohong demi kebaikan sayang. Bahkan Ayah dan Bibimu juga seumur hidupmu. Tapi nampaknya Sir Andrey tak keberatan tentang hubungan kami asal aku menjaga putrinya?


"Benarkah? Kenapa aku tak percaya sedikitpun." Dia membuatku tersenyum kecil.


"Ayahmu tampaknya tak keberatan soal kita walaupun aku mendapatkan peringatan karena melibatkanmu." Aku mencoba secara halus mengalihkan pembicaraan.


"Jangan terlalu yakin..." Kate tertawa menanggapi perkataanku.


"Aku akan mengusahakannya jika begitu." Aku menciumnya kecil, dia membuatku gemas saat duduk di pangkuanku begini. Memeluk pinggang rampingnya membuatku menginginkannya... Mata-mata cantik ini begitu mempesona, aku membiarkannya mendekat karena terpesona pada kepintarannya, sekarang aku tahu darimana itu berasal.


"Kau segan pada Ayahku sayang, kenapa begitu?" Dia tak mempan dialihkan. Dia mendorongku masih penasaran soal hubunganku dan Ayahnya, sedangkan Sir Andrey tak akan keberatan membu*nuhku jika aku membocorkan rahasianya selama puluhan tahun.


"Ayahmu punya aura menyeramkan, lagipula dia akan jadi Ayah mertuaku, bagaimana mungkin aku bersikap sembarangan padanya." Itu jawaban terbaikku. Maaf sayang kau tak akan mendapatkan apapun dariku.


"Aku masih belum percaya padamu..." Dia berkata tak percaya padaku tapi dia menciumku. Aku membalasnya, tapi dia menarik dirinya lagi sehingga membuatku penasaran...tapi dia dalam pangkuanku bagaimana dia bisa lari, lehernya menjadi bulan-bulananku kemudian aku tahu dia menyukai godaan itu.


"Nathan... kau sedang mengalihkan pembicaraan bukan." Bahkan jika dia menyadari apa yang aku lakukan, dia tak akan lolos. Dia memegang wajahku pura-pura tidak menyukai sensasinya, tapi dari napasnya sendiri dan reaksi tubuhnya dia tak bisa berbohong.


"Tidak..." Aku menyukai saat dia berusaha keras membuatku tetap fokus pada pembicaraan tapi aku memilih menggodanya. Aku membuat tanganku memijat punggungnya, dia menyukai dipijat, sekarang dia tersenyum dan memejamkan matanya lupa akan perkataannya sebelumnya. Dan kesempatanku menggodanya lagi dan membuatnya menger*ang saat bibirku menyentuh lehernya, sementara pelan-pelan tanganku membuka kanc*ing blousenya.


"Kapan kau... " Dia tersentak saat aku menyasar dadanya, dan tak sadar aku sudah menyelesaikan membuka kancingnya, sementara bukaan penutup da*danya ternyata ada didepan, aku suka kepraktisan ini. "Mafioso si*alan..." Dia mengumpat dan memegang kepalaku, tapi antara membiarkanku atau menolak apa yang aku lakukan pada tubuhnya tampaknya sebuah siksaan. "Kau sialan...Nath." Aku menggitnya kecil dan menghasilnya erang*an yang kusukai, campuran siks*aan dan godaan ini sangat menyenangkan.


Aku sudah cukup menggodanya. Aku mengangkat tubuhnya membantingnya di bednya yang empuk. Menahan tangannya dibelakang kepalanya. Aku suka melihatnya menyerah... dan mencium bibirnya kembali.


"Kau memang menyebalkan...Kita belum selesai bicara."


"Katakan saja kau menyukainya sayang." Sekarang dia tople*ss dan aku membiarkannya membuka kan*cing kemejaku sebagai kompensasinya. Aku menjangkau bagian bawahnya... Tak perlu lama untuk menyelesaikan semuanya dan membuat kulit kami bersentuhan tanpa terhalang.


"Aku tak mengenalnya..."


"Kau tak bisa mengatakan itu padaku ..." Dia mencoba melepaskan diri dariku, melepas pelukanku dan mencoba menjauh dariku tapi dia tak tahu dia membuat permainan berbahaya yang tak dapat dimenangkannya. Aku menangkap pingg*angnya dan membuatnya dibawahku walaupun dia mencoba melawanku... Dia tak akan bisa menang dengan ini.


"Sayang jangan membuat permainan yang tak bisa kau menangkan." Aku tersenyum pada kekasihku yang mengemaskan ini.


"Katakan sesuatu soal Ayahku?" Dia mencoba lolos dari bawahku, ... Dan aku dengan senang hati meladeni permainannya itu.


"Kau sudah ba*sah sayang..." Aku sedikit menyentuhnya, seperti yang kuinginkan dia sudah siap. "... menyerahlah, kita selesaikan ini."


"Kau penjahat bangs*at..." Dia berpura-pura marah sambil mencoba lolos dari himpitanku. Tapi dia akan belajar tak ada gunanya mencoba, aku malah senang dia melawanku, ini permainan yang sangat menyenangkan.


"Kau s*ex*y..." Kedua tangannya sudah terkunci dan menunggu waktunya dia kumas*uki.


"Lepaskan aku..." Dia putus asa karena aku menguncinya lagipula dia tak serius soal melarikan diri dariku.


"Melepaskanmu?" Aku mendorong diriku padanya tapi cuma sedikit, aku hanya mengodanya, aku menciumnya lagi tapi tak membiarkan diriku menguasainya sepenuhnya hanya sedikit dan melepaskannya kemudian. Napasnya langsung berubah, gumanan tertahannya mengatakan dia ingin lebih.


"Sialan kau..." Nampaknya dia menyumpa*hiku karena tak meneruskan terlalu jauh. Bukan karena aku menyentuhnya ...


"Bicara yang sopan sayang..."


"Aku akan membunuhmu karena mempermainkanku."


"Kemampuanmu belum cukup, mulailah berlatih, sudah berapa lama kau meninggalkan latihanmu, angka-angka di rekeningmu nampaknya sudah terlalu banyak bukan..." Aku sengaja menyik*sanya begini dan membuatnya memohon untuk apapun yang diinginkannya.



"Nathan, please ..." Akhirnya aku berhasil membuat dia memohon. Aku melepaskan tangannya, berganti menahan tubuhnya dan mengabulkan apa yang diinginkannya. Eran*gan puasnya dan pelukannya membuatku memeluknya erat.


"Hmm...kau memohon untuk apa sayang. Katakan padaku..."


"Nathan, jika kau tidak melakukannya akan kubu*nuh kau..." Ancamannya membuatku tertawa.


"Kau mencintaiku sayang, bagaimana kau bisa membunuhku. Jangan terlalu kejam..." Dia menggigit pundakku sebagai gantinya tapi aku suka rasa sakitnya membantuku mengontrol diriku sesaat setelah aku memasu*kinya.


"Nath..." Aku menyukai reaksinya terhadap gerakanku selanjutnya dan eran*gan tak terkontrolnya itu. Aku hampir tak bisa menahan diriku terhadap permainan ini. Ketika akhirnya tubuhnya mengej*ang dibawahku aku tak bisa menahan diriku ikut meledak p*uas diatasnya.


Itu luar biasa. Kami berpandangan dan tertawa kecil, menyadari permainan bodoh yang kami lakukan...


"Apakah gigi*tanku sakit..." sekarang dia melihatku, membuatku menariknya kembali ke pelukanku.


"Lihat hasilnya sendiri, gadis nakal." Aku menunjuk tanda yang dibuatnya, masih sedikit bertanda merah tapi tak luka.


"Itu hanya sedikit jahil. Tak apa bukan, kau melakukannya..." Dia tertawa kecil dan aku berharap dia melupakan pertanyaannya.


"I love you." Aku mencium keningnya.


"Kau tak akan mengatakan apapun bukan?" Dia masih memandangku dengan penasaran. Aku merapikan rambut lembutnya yang menghilang dari hadapanku beberapa hari yang lalu.


"Kau tahu, aku dan Ayahmu, dua orang pria yang mencintaimu dengan cara yang berbeda melakukan semuanya untuk kebahagianmu. Kenapa kau harus bertanya, cukup percaya saja kami akan ada disampingmu."


Sekarang dia diam mendengar kata-kataku. Dia tahu yang aku katakan adalah kebenaran.


"Jadi apa yang harus kulakukan."


"Cukup percaya saja, kami akan selalu menginginkan yang terbaik untukmu."


"Hmm... Baiklah."


"Dan kembalilah latihan. Disini banyak sparing partner berpengalaman."


"Kau benar juga. Aku akan latihan lagi."


Untuk saat ini dia tak bertanya lagi. Tapi Sir Andrey tak akan begitu mudah menyerah dengan pertanyaannya. Aku harus menghadapi pertanyaan detailnya segera. Karena dia tak akan menunggu lama untuk mengumpulkan informasi siapa yang menggangu putrinya.


Sebuah pesan masuk ke ponselku.


"Allora Ristorante. 3pm, tomorrow. Mironov." Sebuah pesan yang mengharuskan aku bertemu langsung dengannya besok langsung datang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=