The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 29. Don't Run From Me 1



Aku bersembunyi ke area pohon zaitun, ada manager bagian ini bersamaku, sedikit lagi panen sudah ditangani semua, panen terakhir ini buahnya sudah kebanyakan masak, sebagai informasi kau tak bisa memakan olive mentah, rasanya pahit,  jangan tergoda untuk memetik dan memakan olive mentahentah itu warnanya masih hijau atau sudah ungu kehitaman, kau akan menyesalinya. Untuk menjadikannya bisa dimakan perlu direndam air garam setidaknya sebulan.



Beberapa pohon tampaknya akan diganti dan kami akan merubahnya menjadi beberapa kerajinan, cutting board ,  spatula dan sendok sup besar, ada pekerjaan untuk para pekerja dimusim dingin ini. Kayu olive termasuk  kayu keras, makanya sangat disukai sebagai cutting board.


Seseorang datang menumpang gator utility vehicle yang sering pekerja gunakan untuk membawa pupuk dan segala macam bahan pertanian. Bahkan menarik kendaraan tour untuk tamu. Kenapa dia bisa sampai ke ujung sini, bagian olive ini merupakan bagian terjauh dari pertanian. Bagian terakhir yang dipanen, bisa memakan waktu  10 menit berjalan dengan kendaraan itu jika tahu jalannya. Apa dia tidak takut tersesat disamping bukit ini.



“Kenapa kau  kesini?” Aku bertanya langsung saat dia turun. Aku tidak  dalam mode cantik, memakai jeans dan kemeja pertanian,boot kerja, ini jamku mengecek pertanian sebelum aku berganti pakaian dan mampir ke restoran di makan malam.


“Tak apa, melihatmu bekerja saja. Apa yang kalian sedang lakukan...”


“Mengecek panen terakhir, ini section terakhir, beberapa pohon akan ditebang disini.” Baiklah dia juga pemilik pertanian ini, terserah kemana dia akan pergi. Lagipula laki-laki biasanya tak tersesat.


“Ini bagian terujung?” Dia melihat kami sudah  disisi bukit.


“Iya, jarang turis bisa tersesat disini,...” Aku menyindirnya terdampar sejauh ini.  Dia cuma tersenyum. “Ini Marcello, manager perkebunan olive.”


“Tuan Bova, senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda.”


“Kau melakukan pekerjaan tepat waktu tampaknya, senang bisa melihat pertanian ini berjalan baik.” Dia mengobrol dengan Marcello sebentar. Investor yang  tahu bagaimana memyemangati pekerjanya.


“Tentu Tuan, pertanian ini adalah harapan kami juga.”


“Baiklah, kerjakan seperti rencanamu Marcello. Ayo kita kembali Tuan Bova...” Sekarang aku naik ke  kendaraan yang dia bawa.


“Kau cepat belajar, sudah pernah mengendarai ini...”


“Kau tak  kekota? Guilio mungkin baru bisa bergabung besok dengan kita, legal juga akan bertemu dengan  kita besok siang.”


“Tidak, bagaimana jika aku menemanimu ke acaramu...” Aku tersenyum padanya.


“Fabian...Aku boleh bicara terus terang,...” Dia melihat ke arahku sebelum kembali  ke jalan yang di lewatinya.


“Bicaralah, tak ada yang melarangmu bicara.”


“Aku tidak ingin  jatuh ke pelukanmu pekan ini. Lebih baik kau mencari  gadis lain...” Dia tertawa kecil akan perkataanku.


“Baiklah jadi benar kau sengaja menghindariku. Kau  tak menelepon  sekalipun, hanya menelepon untuk bicara bisnis, kau menyalahkanku...”


“Hmmm... mungkin benar aku menghindarimu. Maafkan  aku,  seperti katamu kita hanya teman. Kau tak tersinggung bukan.” Dia diam saja sekarang. Berpikir apa yang  kukatakan...


Kami mencapai rumah utama, karena aku ingin bersiap pergi bersama Ibu saja.


“Bisa kita bicara sebentar?” Dia berkata sesuatu sebelum kami turun.


“Bicara apa?”


“Sebentar saja,...” Apa yang dia inginkan aku sudah mengatakan semuanya didepannya.


“Baiklah, ke kantor saja.” Aku sedikit takut bicara berdua dengannya, bagaimana jika dia mencoba menciumku, mengatakan kata-kata manis. Walaupun aku tahu dia bukan orang yang memaksakan kehendak, tapi justru itu lebih berbahaya.