The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 55. Ryohei Matsumoto 10



"Setsuko, kau benar-benar membuatku khawatir. Sebenarnya ada apa denganmu? Aku akan tetap menemuimu jika kau tidak kau katakan kau ada masalah apa. Biar kulihat masalah yang kuhadapi apa!"


"Hisao-san adalah danna-ku sekarang..." Diam disana. Mungkin dia tak percaya apa yang kukatakan. Itu semacam tidak mungkin dipikirannya.


"Hisao-san apa?" Dan Derrick-san merasa perlu memastikan untuk kedua kalinya.


"Dia danna-ku."


"Kenapa bisa..."


"Bukan danna dengan hubungan pribadi. Aku hanya semacam pendamping..." Aku akhirnya bercerita semuanya dari tiba-tiba Yamada-san memintaku sampai hubungan kami yang sekarang. Dan kenapa aku menangis... Aku cerita panjang lebar, bahkan mengenai perasaanku, mengenai kekecewaanku, putus cinta dari danna yang kuharapkan. Semuanya....


Dia menghela napas panjang mendengar semua yang kukatakan.


"Astaga, Setsuko. Apa yang bisa kukatakan soal ini..."


"Tidak, terima kasih, kau baik sekali mau mendengarku. Aku tak bisa kau tolong... Tapi aku sangat senang kau mau mendengarku dan khawatir padaku, itu sudah cukup menghibur...." Aku merasa bisa tertawa sekarang.


"Setsuko, kau masih muda. Masih banyak waktu. Hisao-san tak pernah cerita padaku. Entahlah tapi kurasa jika dia mengatakan menyukai seseorang dia benar-benar menyukainya. Dia loyal ke kekasihnya. Mungkin tidak sepenuhnya buruk."


"Hmm...aku bukan Aoki."


"Aku tahu kau bukan Aoki, tapi mungkin kau hanya perlu lebih melihat sisi baiknya. Dia tak sepenuhnya buruk bukan. Anggap saja sebuah kado yang tak terlalu kau sukai. Sebenarnya Hisao-san itu baik, kau akan tahu jika kau lebih melihat kebaikannya..."


"Aku tak tahu Derrick-san..."


"Tapi jika dia berlaku kasar padamu. Telepon aku, aku akan memarahinya untukmu. Jangan kuatir, begini-begini dia pernah berhutang nyawa padaku. Jika aku tak muncul di perkelahian itu, dia sudah tinggal nama. Aku ada di belakangmu, anggaplah aku ini keluargamu sekarang." Derrick-san benar-benar perduli padaku. Aku sekarang terharu.


"Aku merasa lebih baik setelah bicara padamu." Aku tertawa kecil.


"Baik-baiklah disana. Nanti jika aku ke Kyoto kita akan bicara."


"Terima kasih Paman." Tiba-tiba aku merasa aku perlu menerima pengakuannya sebagai keluarga. Dia tertawa mendengar panggilanku.


"Baiklah, jaga dirimu." Telepon itu selesai. Kenapa bicara dengan Derrick-san selalu membuatku merasa lebih baik. Dia selalu punya cara untuk menyemangati orang.


Sampai acara selesai, acaraku berlangsung lebih cepat sebelum tengah malam hari ini aku sudah bisa mengantar tamu dan bersiap pulang ternyata.


"Setsuko-san, jangan pulang dulu. Seseorang ingin menemuimu..." Seorang pegawai ochaya terburu-buru menyusulku saat aku hampir keluar dari pintu.


"Siapa?"


"Aku tak tahu, dia menunggu di ruangan pribadi." Jangan bilang Ryohei-san dia tak mungkin mencari masalahnya sendiri.


Siapa lagi yang ingin menemuiku. Apa ada orang lain yang punya perasaan khusus padaku. Aku membayangkan kemungkinan tergila yang bisa aku bayangkan.


Aku membuka pintu geser dan berlutut memberi hormat sambil menunduk.


"Tak usah bersikap begitu sopan padaku." Suara ini. Hisao-san.


"Hisao-san...kenapa kau bisa ada disini." Tapi pagi dia masih ada di Tokyo.


"Kenapa? Apa aku tak boleh ada disini?" Dia benar-benar membuatku emosi setiap kali bicara dengannya.


"Saya tidak berkata begitu."


"Jika kau ingin marah, jangan pura-pura tersenyum. Aku bosan melihat topengmu itu." Dia minum sambil menunjukku.


Aku benar-benar ingin melemparnya dengan gelas teh sekarang. Datang kesini dia cuma mengajakku bertengkar.


Bagaimana jika kulempar saja dia! Ide itu sangat menarik sekarang! Melihat kebaikannya?! Apa yang bisa kulihat!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hai gengs


Jangan lupa gift,vote dan komen yaaa


Makasih semuanya