The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 16. Two Business Partner 1



Fabian menginap di cottage kami tentu saja, sembari dia mengurus pembelian lahan itu, dan pekerjaannya sendiri karena setelah sarapan sampai malam dia tidak pernah ada di pertanian. Pagi kedua ini aku berkesempatan mengenalkannya pada Ibu.


“Mamma... ini Fabricio Bova, dia yang membantu kita mendapatkan lahan  itu. Tuan Bova, ini ibuku Anamaria Minetti.”


“Zia (bibi), kehormatan bertemu denganmu.” Dia berdiri menyalami Ibuku, sementara Ibuku mencium pipinya.


“Siapa Fabricio...Bova?” Ibu mengulangi namanya.


“Kau bisa memanggilku Fabian Zia. “


“Ahh Fabian, itu lebih mudah. Terima kasih kau  sudah membantu kami, membantu Monica. Dan kau tampan sekali, astaga, Ibumu pasti diberkati.” Fabian tertawa lepas mendengar pujian terang-terangan Mamma.


“Zia, kau juga diberkati mempunyai anak seperti Monica dan masakanmu perfecto. “ Tentu saja tangan semua orang  italia ikut berbicara jika mereka memuji masakan seseorang. Ibu selalu menerima pujian terhadap resepnya dengan senyum lebar. “Bibi,  mari duduk...”


“Kau punya bisnis disekitar sini juga.”


“Ah, iya Bibi, aku ada beberapa investasi restoran dan pub, bukan disini tapi di kota Catania.” Catania  berjarak sekitar 45 menit perjalanan, tak terlalu jauh dari kami, sekaligus  adalah kota provinsi kami.


“Ohhh rupanya kau punya  banyak usaha. Terima kasih sudah membantu kami mendapatkan tanah Lucas. Monica bercerita kepadaku dia sama sekali tak berniat menjualnya kepada kami. Sungguh terlalu, dia hanya mempermainkan kami.”


“Ahh tenang saja  Bibi, saat pembukaan restoranmu yang baru, dia akan kuundang.”


“Tentu saja. Terima kasih untuk itu Fabian, Bibi tidak akan menganggumu, selamat sarapan oke.”


“Terimakasih Zia.” Ibu meninggalkan kami.


“Ibumu ramah  sekali.” Aku tersenyum pada Fabian.


“Kau tak bisa istirahat heh, bukannya panen sudah  selesai?”


“Sudah  selesai, kami sedang pruning(membersihkan ranting), olive masih belum selesai, perternakan masih berjalan, dan tetap ada banyak pekerjaan sebelum winter pokok anggur dan olive dormant  di Desember dan Januari. Dan kami tetap menanam sayuran tertentu. Ada area rumah  kaca luas di sini. Kontrak supplierku kesupermarket lokal  harus dipenuhi.”


“Ahh begitu rupanya, tadinya kupikir mau mengajakmu jalan-jalan ke Catania akhir pekan ini...” Jalan-jalan bersamanya. Astaga, apa Don Juan ingin mengodaku sekarang.


“Pekerjaanku masih banyak Fabian . Terima kasih. Kutinggalkan kau ...”


“Oke, sampai jumpa nanti sore.”


Aku meninggalkannya dengan senyum kecil. Dia ingin mengajakku berjalan-jalan ke kota. Itu menggoda,... tapi jatuh ke godaan Don Juan seperti Fabian terlalu berbahaya, dia tidak tinggal di sini, bukan orang pulau, tidak mungkin memulai dengannya. Jangan memikirkannya Monica... Dia dan Guilio sama berbahayanya.


Aku harus menghela napas panjang. Lebih  baik menyibukkan diri bekerja.


“Monica!” Aku mendengar suara yang  kukenal saat ada di café restaurant. Guilio, dia sudah datang. Rambutnya acak-acakan ditiup angin, kau bisa bayangkan dengan penampilan seenaknya saja dengan jaket kulit dan t-shirt  dia bisa membuat para wanita satu restoran ini melihatnya ketika datang,  Casanova ini punya  pesona tak tertandingi.


“Guilio, kapan kau sampai ke sini.” Dia duduk denganku di bar. “Kau ingin minum.”


“Hmm tidak, tapi cannoli tu terlihat enak ... kau sudah mendapatkan lahanmu? Sebelum aku ke Hongkong jika ini  belum selesai rasanya tidak tenang. Aku harus meminta Bianca  membantumu menentukan winery plantnya.” Dia langsung duduk didepanku di bar.



Canoli