
“Kau bercanda!” Dan dia marah karena aku menyandingkannya dengan Joana lagi. Aku menghela napas panjang sekarang.
“Luca, aku akan pergi seperti biasa, tapi aku tidak bisa menjadi pendampingmu, aku sudah harus menemani Guilio."
"Ahh sayang sekali. Begini saja, jika kau bisa nanti disana aku minta bantuanmu menemaniku bicara dengan beberapa distributor besar. Kau orang yang sempurna untuk diperkenalkan kepada mereka."
"Aku juga distributor tapi ekspor, ..."Guilio menyambar lagi. Ya Tuhan apa sebenarnya masalahnya.
"Tuan Guilio, kami tentu saja tak bisa menyaingi keluarga Berutti, pasar kami kebanyakan untuk lokal dan regional."
"Winery yang akan dibangun disini nanti standartnya untuk ekspor, mungkin dia tak akan memakai jalur distributor yang kau tawarkan." Bukannya Guilio ini terlalu berlebihan sekarang. Kenapa dia kejam sekali menanggapi Luca. Jika aku tak memakai jalur distribusinya pun dia tak usah berlebihan seperti itu.
"Begini saja Luca, Guilio nanti pasti sibuk, aku akan mencari waktu bisa bicara dengan teman-teman distributor kita seperti biasa. Jangan kuatir."
"Terima kasih banyak jika begitu Monica. Aku pergi dulu jika begitu. Aku bersama seorang tamu kesini untuk makan malam."
"Terima kasih Luca ..."
Aku melirik ke Guilio, dia menatapku dengan sengit sekarang.
"Kau bisa tidak begitu ketus dengan tamuku, apa masalahmu sebenarnya."
"Kau tidak akan mendampinginya, jika tahun depan kau masih mau menjual anggur jual saja ke adikku, dia akan beri kau harga yang pantas juga."
"Aku sudah lama menjual ke Luca sejak jaman Ayahku, kau jangan terlalu pedas ke rekan bisnisku. Kau membuatku terlihat jelek. Dia menbawa tamu ke restoran, aku juga berteman dengannya. Kenapa kau begitu kasar ke rekan bisnisku. Lagipula disana kau berdiri di ujung ruangan saja gadis-gadis akan mengerumunimu. Apa yang kau takutkan sehingga sepanjang waktu aku harus mendampingimu..."
"Tidak boleh, kau tetap disampingku. Sudah kubilang aku tidak ingin terlibat dengan gadis manapun."
"Kenapa kau jadi pemaksa dan otoriter sekali, biasanya kau tak pernah mengajakku kemanapun. Kau memang menyusahkan sejak kasus selibatmu ini. Luca itu baik hati, kau kenapa harus menghalangi aku dekat dengannya, aku sudah di tinggalkan Bova sedang kesal kenapa aku tak boleh dekat dengannya. Aku sudah setuju menemanimu ke Canary..." Dia hanya meringis menanggapiku.
"Pokoknya kau pergi denganku dan tetap denganku. Apa bagusnya Luca itu."
"Kau sangat menyebalkan. Semua orang kau bilang jelek, jadi yang bagus itu harus bagaimana dimatamu." Dia tersenyum lebar. "Senyummu itu jelek sekali. Dasar teman tidak punya perasaan."
Sekarang dia malah tertawa.
"Apa yang lucu?!" Aku mendelik padanya.
"Melihatmu marah-marah."
"Proyeksiku jelek, kau menginterupsi jadwal kencanku, Bova melarikan diri, apa yang tidak membuatku marah hari ini." Aku menyemburkan emosiku pada Guilio yang hanya melipat tangannya sambil tersenyum lebar.
"Setidaknya aku masih ada disini, mau pergi nonton film? Kau sedang suntuk bukan, ayo kita pergi nonton film ke bioskop di kota."
Aku melihatnya dengan kesal.
"Ayo nonton! Aku mau makan yang banyak..."
"Apapun yang kau inginkan Cara Mio(sayangku),..."
"Aku bukan cara(sayang)mu , awas kau katakan didepan orang lain, sejak kapan kau jadi pacarku. Merusak pasaranku mendapat pria tampan saja."
Dia tersenyum lebar seakan kekesalanku adalah kesenangan baginya.