The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 26. Palermo 2



POV Bova


Vanilla tertidur di bangku pesawat. Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk, ada yang salah denganku kurasa. Kenapa aku merasa ingin merapikan rambutnya dan merindukan memeluknya lagi. Wangi vanilla itu beredar disekelilingku dan membuatku berpikir bagaimana jika aku menciumnya wangi itu di tengkuknya bercampur dengan bau tubuhnya.


Sial! Pikiranku kemana-mana sekarang.


Aku berharap dia menyentuhku entah bagaimana. Memegang tanganku saja mungkin aku akan menyukai rasanya. Tapi dia tak memberi kesempatan itu, memegang lenganku saja tidak. Dia tak memberi kesempatan apapun untukku. Memasang pertahanan setinggi-tingginya dengan kata teman kami.


Haruskah aku mengejarnya? Tapi dia sudah mengangapku jelek, aku sudah mengatakan bukan aku tak bisa merubahnya, tapi dia sudah mematok harga mati soal tak menerima prinsipku. Dia tak bisa menerima hubungan tanpa ikatan. Harusnya kupaksa saja dia menandatangani kontrak. Tapi tak bisa dia akan membenciku sebagai gantinya.


Atau harus kucoba saja berjalan bersamanya sebagai kekasih. Apa dia bersedia, atau dia langsung menolakku.


Rambutnya menutupi pipinya, aku merapikan sedikit. Dan kepalanya sekarang bersandar di bahuku. Aku tersenyum.


Manis... jangan bersedih lagi Vanilla. Aku tersenyum saat dia kelihatan nyaman menyender padaku.


Dia bergerak dan sadar, membuka matanya melihatku, sadar dengan posisinya sendiri.


"Maaf."


"Tak apa." Aku ingin memeluknya jika dia tahu yang sebenarnya.


"Apa kita sampai." Dia sudah meluruskan lagi posisi duduknya.


"Iya kita sudah sampai sebentar lagi kurasa, dalam sekitar dua puluh menit kurasa. Minumlah..." Aku memberinya air mineral yang dibagikan saat dia tertidur. "Kau lapar, ada pastry dan pasta dalam kemasan aluminum foil."


"Hmm...terima kasih." Kubukakan untuknya. Dia makan dengan cepat, tampaknya dia lapar.


"Kau lapar? Nanti kita makan dulu, perjalanan cukup jauh, mungkin sejam lebih."


"Kau tak mengejar makan malam dirumah, Ibumu pasti ingin kau makan dirumah bersama yang lain. Ini sudah cukup." Dia pengertian dan memikirkan Ibuku. Sangat berbeda dengan Sophia yang manja dan ingin selalu dituruti, bahkan dia menjadi Drama Queen akhirnya, aku tak punya toleransi soal drama queen itu adalah masalah yang harus dituntaskan sebelum menjadi besar.


Tapi mungkin karena Eliza sudah berpengalaman, dia sering di posisi mementingkan keluarga. Dia sudah menjalani banyak hal sehingga tahu bagaimana menempatkan diri lebih baik. Dan tidak egois....


"Baiklah terserah padamu. Yang penting harusnya kita ikut makan malam keluarga. Ibumu pasti ingin kita makan bersama mereka. Tak boleh terlalu kenyang, pasti dia sudah menyiapkan banyak makanan dan kita harus menghabiskannya."


Ternyata begini jika punya partner dewasa. Rasanya melengkapi bukan membuat beban. Mungkin selama ini aku yang salah tidak menemukan orang yang benar. Partner yang baik harusnya melengkapi, mendukung, dan tidak membuatmu merasa terbeban.


"Jangan makan terlalu cepat, kita masih lama, kau bepotan. Tak ada yang mengejarmu." Aku membersihkan saus pasta yang terlalu melebar. Dia melihatku melakukannya dengan tertegun.


"Biar aku... saja..." Dia ingin mengambil sapu tanganku, tapi aku memegang tangannya.


"Diam sedikit Vanilla." Dia selalu berusaha menolak apapun yang aku lakukan. "Nah, selesai, makanlah lagi." Aku tersenyum padanya. Dia melihatku dengan muka sedikit memerah. Aku senang dia terpesona.


Tak bisa disangkal kami sebenarnya tertarik satu sama lain. Meruntuhkan temboknya itu perlu perjuangan. Tak apa, mungkin itulah seninya... Aku akan membuatnya merasa dikejar dan dihargai, menunggu dia menyerah dengan sukarela. Sekali dia merasa aku memaksanya karena aku memberinya bantuan dia akan menjauhiku.


"Terima kasih." Dia makan kembali menjauh dari tatapan mataku.


"Kau mau ke Catania melihat Ayahmu nanti?"


"Hmm...apakah kita punya waktu? Minggu kita sudah kembali? Jika tidak tak apa, kata Bibi ayah baik-baik saja, menikmati waktunya disana. Walaupun dia akhirnya tahu berita itu aku sudah meyakinkannya aku bisa menghadapinya."


"Kau wanita, dia tentu berpikir bagaimana kau menghadapi Gianni, begini saja bagaimana jika kita merubah rencana penerbangan ke Milan Senin pagi, Minggu sore kita mengemudi ke sana. Dia akan lebih tenang jika aku bisa membantu menjelaskan padanya."


"Boleh begitu? Apa aku tak merepotkanmu?"


"Boleh. Aku Senin tak ada pekerjaan mendesak..." Dia tampak lega sekarang.


"Bova terima kasih. Kenapa kau baik sekali padaku." Sekarang dia tersenyum dengan manis padaku.


"Aku memang baik. Kau saja selalu berpikir buruk tentangku. Cap ku Don Juan pembunuh berantai, itu yang ada di pikiranmu." Sekarang dia tertawa.


"Baiklah kau Don Juan yang baik." Mendapatkan kepercayaannya adalah segalanya sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=