
Aku ingin pergi tanpa sarapan pagi-pagi sekali dan menghindari bertemu Nathan. Kuharap aku bisa melakukannya.
"Kau sudah mau pergi?" Aku berpikir aku sudah pagi, tapi ternyata masih kurang pagi. Dia bangun pagi sekali dan sudah dalam baju olahraga, sudah selesai jogging dan sudah dengan sarapannya diatas meja padahal masih jam 7 pagi.
T-shirt joggingnya itu mempertegas bentuk dada bidangnya, aku bisa mambayangkan abs-nya, lengannya yang kokoh, bagaimana Amanda bisa menanggung kehilangan kekasih seperti ini. Aku tak habis pikir. Kurang apa orang ini...Well, tapi akhirnya dia menyesal bukan.
"Iya aku harus menembus kemacetan di i-405, butuh satu setengah jam untuk sampai ke pusat kota kukira, ada meeting pagi ini. Aku akan sarapan di kantor. Aku pergi dulu Nathan..."
"Kau tak sarapan, kopi dulu? Ini sandwich ini bawalah." Aku mengambil sandwich mengiurkan itu. Dia memang baik hati bukan. Pacar yang begini baik dibuang begitu saja oleh Amanda, saat dia menginginkannya lagi jelas sudah terlambat.
"Ini saja, aku akan beli kopi di drive tru ke kantor saja."
Aku melambai sambil tersenyum. Yang kulakukan sekarang adalah berusaha menghindarinya mati-matian. Cepatlah tertangkap, siapapun itu... dan aku bisa kembali ke rumahku lagi.
"Baiklah, see you."
Aku keluar rumah dengan napas lega. Aku membayanģkan mungkin aku bisa tinggal di rumah salah seorang teman, tapi siapa aku tak punya teman dekat dengan proteksi seperti itu, salah-salah aku malah meninggalkan mereka dalam bahaya. Aku mengurungkan niatku.
Ponselku berbunyi kemudian. Nomor yang kukenal, Tyson, aku hampir lupa dia bekerja di LA juga sekarang.
"Tyson?" Ah ya ada seseorang teman yang sedang bekerja disini.
"Kudengar kau mendapatkan masalah?" Apa kau baik-baik saja.
"Iya, cuma sedikit masalah dengan seorang gadis manja..." Aku menjelaskan kejadian yang menimpaku.
"Rupanya begitu. Kau mau bertemu? Makan malam?" Terakhir dia meneleponku mungkin tiga bulan yang lalu, sudah selama itu. Tapi sekarang dia tetap menelepon saat aku terkena sedikit masalah. Nampaknya dia tak jadi meminta bantuan apapun di LA.
"Kau sedang senggang rupanya?"
"Case yang tidak terlalu sulit sebenarnya buktinya sudah jelas, jadi ya bisa dibilang aku tak terlalu sibuk. Kupikir tadinya aku akan sedikit butuh bantuanmu, tapi ternyata tidak."
"Hmm pantas saja kau melupakanku, kau hanya datang saat perlu bantuan."
"Baiklah. Kita bertemu sore ini..." Kami berjanji bertemu kemudian di sebuah shopping mall di Westfield. Aku dengan cepat menyetujuinya, teman lama yang mengenalku, seseorang tempatku bisa berbicara.
Aku tak sabar menanti sore, kali ini akhir pekanku lebih baik dengan seorang teman well teman yang sangat dekat...
"Aku akan pergi bertemu teman sore ini, setelah kau mengantarku ke sebuah restoran kalian boleh pulang."
"Nona, kau yakin itu aman? Kami bisa mengawalmu dan temanmu kemanapun." Pengawal yang ditugaskan menemaniku memastikan lagi tugasnya.
"Aman, tak usah merepotkan kalian. Aku tak akan kembali ke rumah Sir Nathan, mungkin akan menginap bersama teman, rumahnya dijamin aman, aku tak akan kembali ke rumahku, polisi masih memasang police line." Dengan perkataan itu aku harap mereka mengerti tidak mengganggu wilayah pribadiku dengan temanku ini.
"Ohhh baiklah, tapi kami akan laporan ke Tuan Sean dulu nantu."
"Oke."
Siang berlalu dan sore datang. Aku membereskan pekerjaan dan bersemangat. Sean meneleponku.
"Sean, ada apa?"
"Kau meninggalkan pengawalanmu hari ini. Kau yakin ini aman, kau bisa membuat mereka mengawalmu kemanapun sampai ke tempat temanmu."
"Sean, kau berlebihan okay. Aku akan baik-baik saja. Jangan kuatir. Kami tidak akan pergi ke sebuah tempat yang jauh. Masih public area di LA. Apa kalian sudah menemukan sesuatu?"
"Mereka bukan hitman profesional seperti yang kita takutkan, polisi LA melacak beberapa pesan yang ditinggalkan di ponsel orang itu, kami mencurigai dua kelompok, kami akan memastikan. Tapi indentitas orang yang satunya sudah diketahui.
"Ini tidak akan terlalu sulit..."
"Sean, kalian tak akan menghukumnya sendiri bukan, serahkan saja kepada polisi. Aku tak tahu bagaimana kalian bekerja tapi memburunya sendiri kurasa berlebihan." Sean langsung tertawa.
"Natalie, kami hanya mempercepat proses penyelidikan. tenang saja, kami tak akan melakukan hal-hal gila yang tak perlu lagipula kasusmu sudah masuk ke polisi."
"Ohh syukurlah kupikir kalian akan membuat masalah dengan mengirim tukang pukul sendiri."
"Tidak tentu saja tidak tapi jika kau nanti ingin menampar sendiri otak yang memgirim pembunuh itu. Itu akan di faselitasi."