
"Kalian ini, cari kamar sana." Yuki akhirnya menyindir Aoki dan Hisao, karena Aoki menempelinya seperti anak remaja yang kasmaran, tanpa memperdulikan ada teman yang lain yang ada di samping dan melihat mereka.
"Tidak bisa, malam ini aku ada kunjungan bisnis. Aku tak tahu kapan, nanti jika ada tamu kubawa ke tempatmu untuk minum." Tampaknya dia memberikan janji palsu. Itu dikatakan tanpa melihat dengan benar ke arah Aoki.
"Kau sudah lama tak ke tempatku, apa kau punya gadis baru. Hisao-san tega melupakanku." Dia memeluk dan merayunya tanpa tahu tempat.
"Aoki, aku sibuk...." Sekarang wajah Hisao kaku. Rupanya dia terganggu juga. Dan Aoki langsung cemberut.
Dia kembali duduk disampingku, kami semua diam sekarang.
"Aoki, kau mau makan sesuatu?" Aku hanya mencoba mencairkan suasana. Gadis ini membekukan suasana tempat ini. Sebenarnya jika tadi tidak terlalu memaksa mungkin suasananya akan biasa saja. Sekarang Hisao menjadi sumber perhatian negatif karena kelakuan gadis ini.
"Tidak, aku harus bersiap ke jamuan malam. Waktunya akan terlalu padat Setsuko-san. Kita harus pergi sekarang. Kami sudah selesai." Tapi ternyata Hisao tak keberatan menambah buruk suasana.
Dia mungkin sudah selesai dengan Aoki jika begini, mungkin ingin menuruti nasihat Kakeknya. Entahlah...
"Ohh ya kami juga akan pergi." Yuki mengajak Satomi berdiri, nampaknya dia tak begitu menyukai Aoki.
"Baiklah, ayo kita bubar." Hikaru dan Sato ikut-ikutan berdiri. Aku harus berdiri juga dan Aoki juga berdiri.
"Baiklah, semuanya. Sampai berjumpa lagi nanti." Kami semua saling melambai dan mengucapkan salam. Aoki juga begitu, walaupun mukanya masih jelek.
"Kami pergi dulu Aoki-san."
"Kapan kau akan datang Hisao-san."
"Aku tak tahu, aku masih sangat sibuk. Tak usah menungguku. Aku pergi." Hisao berkata dengan pendek. Gadis itu tampak terpukul, aku jadi kasihan padanya.
"Aku pergi dulu Aoki." Tapi aku juga tak bisa menolongnya karena harus menyusul Hisao yang sudah melangkahkan kakinya duluan.
"Hisao-san, ..." Aku menjejeri langkahnya. "Tak apa gadismu ditinggalkan begitu."
"Dia bukan gadisku. Kau tak usah perduli padanya." Aku ikut merasa patah hati, seperti merasa Tuan Tan yang meninggalkanku.
"Hmm... kasihan."
"Kenapa kau malah yang kasihan padanya."
"Entah tampaknya dia benar-benar menyukaimu."
"Benarkah."Hisao mendengus kasar dan tertawa.
Kenapa dia bersikap kasar begitu. Bukannya dulu dia membanggakan gadisnya itu. Aku jadi tertarik untuk bertanya lebih lanjut.
"Dulu aku mabuk membelikannya champagne tower itu, sampai beritanya menyebar. Yang membelikannya bukan aku saja ternyata, group teman-temannya itu beberapa kali mendapat champagne tower. Tapi jika kupikir-pikir lagi, dia memang menjebakku. Dia tidak senaif itu."
Jika penjualan begitu pasti ada jebakan ego laki-laki tak bisa dipungkiri, minuman juga salah satu faktornya. Mereka yang berada di bisnis itu pasti tahu bagaimana menjalankan triknya.
Aku diam saja, tidak akan mengomentarinya lagi. Itu urusan pribadinya. Bicara soal patah hati, aku teringat ke Tuan Tan. Sedang dimana dia sekarang. Kapan aku bisa melihatnya lagi. Apa selanjutnya dia akan menghindariku juga.
"Apa Tuan Tan akan ke Jepang dalam waktu dekat?" Dia melihatku yang melamun melihat ke luar jendela mobil.
"Tuan Tan?"
"Hmm... Dia akan ke Hongkong lagi?"
"Kenapa kau tak meneleponnya sendiri, aku bukan bossnya, bossnya Pamanku di Hongkong sana." Meneleponnya, aku tak punya keberanian. Dia jelas-jelas mengatakan agar aku menganggapnya Paman.
"Lupakan pertanyaanku." Kata-kataku membuat Hisao menatapku.
"Apa dia menolakmu?" Tebakannya yang 100% benar itu tak kuhiraukan. Memang kemungkinannya kecil dia menyukaiku. Andai aku bisa... Aku membayangkan menyentuh kulitnya. Paman itu punya tubuh yang sangat keren.
Aku memimpikannya. Aku sangat menyukainya, tapi belum apa-apa dia menyuruhku memanggilnya Paman.
"Kasihan sekali." Hisao tertawa karena aku mendiamkannya. "Seleramu memang aneh."
"Jangan mengurus selera orang lain." Seleraku adalah urusanku. Dia sendiri seleranya gadis lo*li.
"Kau tak boleh pacaran. Buat apa kau mengharapkannya."
"Bukan urusanmu." Dia tertawa mendengar jawabanku. "Kau tidak tersinggung aku bicara begini?" Aku baru sadar sekarang aku bicara seenaknya tadi. Apa dia akan marah.
"Tidak."
"Benarkah?"
"Aku lebih tersinggung jika kau memasang senyum sopanmu itu padaku, sudah kukatakan berkali-kali. Tapi itu juga berarti jika aku tak suka aku juga akan mengatakannya terang-terangan."
"Hmm, cukup adil."
Dia tidak menjawabku sekarang. Sementara sinar matahari sudah terbenam di ujung sana. Aku sedikit merasa mengantuk, malam masih panjang, tapi Minggu besok aku punya cuti.
Cuti yang dibayar oleh Hisao. Mungkin dia tidak terlalu buruk sebenarnya.