
POV Bova
Ibu sudah sampai ke Milan, akan ada keluarga baru didepan kami. Keluarga yang berisi Ayah, Ibu dan anak. Aku menerimanya dengan mengingatkan diriku harus lebih perhatian ke keluarga.
Kami mencapai kesepakatan. Ayah akan tinggal bersama kami, Eliza yang sekarang bertindak sebagai Ibu keluarga itu tak bisa membiarkan Ayahnya sendiri, jadi sekarang dia bersedia menerima pengaturan Eliza untuk tinggal bersama kami dan akan menjadi Kakek yang bisa bermain dengan cucunya segera.
Mama jangan ditanya betapa senangnya dia. Dia memperlalukan Eliza sebagai putri tersayangnya, pagi-pagi dia sudah bangun membuatkan kami sarapan dan selalu menyediakan yang bisa dimakan Eliza, buah-buahan, roti manis, dan yougurt, di kulkas banyak sekali stok eskrim susu buah yang disukai Eliza, makanan yang sangat aneh, walaupun sekali lagi kata Mama dan Marriane wanita hamil memang punya kesukaan bermacam-macam yang kadang agak aneh. Nampaknya benar pagi dia mual parah, malam dia lebih bisa makan walaupun kadang dia juga memuntahkan makanannya.
Tapi juga dia sekarang jadi pemalas, aku tak pernah melihat dia semalas ini. Pagi-pagi dia masih bergelung di tempat tidur, walaupun aku sudah rapi dan akan pergi bekerja, biasanya dia pasti sudah siap lebih dahulu.
“Sayang, aku pergi dulu okay, aku pulang jam 6 kukira.” Aku duduk di bed dan kurapikan rambutnya yang berantakan, dia membuka mata dan memejamkannya lagi.
“Aku malas bangun, kenapa aku jadi semalas ini.” Dan dia pun sedikit heran dengan dirinya sendiri.
“Bayinya ingin kau beristirahat, tak apa, jangan dipaksakan, kata dokter keadaan akan membaik di bulan ke 4, turuti tubuhmu.”
“Aku malu jadi wanita pemalas.” Sekarang dia membenamkan wajahnya ke bantal, aku jadi tertawa.
“Ini karena bayinya sayang, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri, nikmati waktumu, tak ada yang menyalahkan wanita hamil.” Dia membuka bantalnya dan melihat kepadaku.
“Benarkah kau tidak melihatku seperti wanita pemalas?”
“Tidak, nanti sore mau jalan-jalan?”
“Tidak, kau terlalu banyak menawariku jalan-jalan.”
“Asal kau senang Vanilla.”
“Aku bahagia Oven. Apa yang bisa membuatku tidak bahagia, kau memperlakukanku seperti Ratu, kau memberiku mimpiku dan menerimanya juga sebagai mimpimu. Bagaimana aku tak bahagia.”
“Apa mimpimu Vanilla?”
“Keluarga yang berbahagia.” Aku tersenyum.
“Kau tahu memiliki anak itu tanggung jawab tambahan, kita harus mengusahakan banyak hal.”
“Aku tahu, tapi aku punya Nenek yang sangat perhatian, Kakek yang penuh kasih sayang, Marriane yang siap membantu. Dan Ayah anakku yang selalu berusaha memberikan yang terbaik, apalagi yang kutakutkan. Sayang, walaupun kau sebelumnya memiliki Ayah yang tidak sempurna, setiap orang punya pilihannya sendiri, kau punya pilihan untuk membuat kami semua bahagia, kau sudah melakukannya sekarang...”
“Dan aku memiliki partner yang sempurna...” Dia tertawa.
“Katamu kau masih mau tidur, kenapa kau bangun?”
“Nanti Zia akan memarahiku karena bangun selalu siang.”
“Mama sudah tahu, dia malah mengatakan kau memang harus beristirahat. Kembalilah tidur...”
“Tak apa, hari ini aku mau menemui supplier baru, aku bersemangat untuk bekerja hari ini.”
Dia bangun dan merapikan diri, ikut turun bersamaku. Aku mengelengkan kepalaku, terserah padanya saja.
“Eliza sayang, kau kenapa bangun sepagi ini, kau mau bekerja pagi? Ada partner yang minta bertemu?” Mama langsung menyapanya, ada Paman juga di bawah sedang sarapan. Mama memang perhatian sekali padanya, ini akan jadi cucu pertamanya, lagipula Eliza satu-satunya menantunya. Dia sudah menganggap Eliza putrinya kukira setelah sekian tahun dia mengkhawatirkanku benar-benar berakhir tanpa pendamping sekarang kekhawatirannya hilang tambahannya dia mendapat cucu.
“Aku mau memeriksa supplier baru Zia, hari ini kiriman pertama mereka, aku mau pastikan kualitas pasokan mereka.”
“Chef kepalamu tak bisa melakukannya?”
“Aku yang membayarnya, chef kepalaku tinggal melaporkan padaku jika tak sesuai. Aku punya alasan jika ingin berdebat dengannya jika dia melanggar apa yang aku minta.”
“Kami harus menjaga kualitas pasokan, bahan baku yang baik menentukan kualitas masakannya. Dan sayangnya aku tidak terlatih untuk ini, dulu yang melakukannya adalah istriku, setelah itu putri keduaku atau kepala chef.” Zio menjelaskan kepada Mama.
“Kalau begitu kau harus sarapan sedikit, apa kau masih mual.”
“Hari ini rasanya lebih baik Zia. Tidak semual kemarin...”
“Itu tandanya kau sudah bisa makan, nanti kau akan selalu merasa lapar....”
“Aku akan membulat seperti balon.” Semua orang tertawa.
“Mama tersayang, nanti kubantu kau mengempeskannya kembali.” Aku bercanda! Pikiranku melayang kemana-mana, sudah lama dia tidak merasakan oven, karena dokter menyarankan kami menahan diri di trimester pertama ini, harusnya ini sudah memasuki trimester kedua, tapi Eliza melihatku dengan sebal dan memukul lenganku.
“Apa maksudmu? Yang kau lakukan hanyalah membuatku gendut!” Pembicaraan absurd ini tak dapat diterimanya.
“Kau yang memintanya...” Aku melihat ke Mama dan Zio yang menggelengkan kepala mereka mendengar pembicaraan kami.
Pembicaraan aneh yang menyenangkan. Akan ada sebuah keluarga tiga generasi disini. Kakek dan Nenek, Ayah dan Ibu , Anak. Rumah ini akan lengkap dan penuh cinta.