The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 98. Chianti 1



POV Nathan.


Aku sudah melamarnya secara pribadi. Itu melegakan, dia menerimanya dengan manis, aku bahkan belum membeli cincin tapi dia menerimanya.


"Kau terlihat gembira sekali." Mom memperhatikan raut wajahku saat aku mengantarkannya ke bandara untuk kembali ke Chicago. "Sesuatu nampannya terjadi?" Aku tertawa. Ibuku paling tahu jika aku sedang gembira.


"Ayo beritahu ada apa denganmu?" Dia menepuk bahuku dan membuat pandangan menyelidik padaku.


"Aku melamar Kate secara pribadi semalam, padahal aku belum punya cincin lamaran, tapi dia menerimanya jadi aku memberikan dia liontin keluarga yang ibu titipkan padaku saat pernikahanku dengan Amanda..." Aku akhirnya mengakuinya pada Ibu tentu saja aku bahagia mendengar dia bahkan menerimaku tanpa sebuah cincin yang harusnya kuberikan padanya.


"Ahhh... benarkah. Pantas saja kau begitu gembira. Selamat sayang..."


"Aku menunggu menunggu Ibu bertemu dengannya sebenarnya, kemarin Ibu menyetujuinya, aku tak bisa menahan diri mengatakannya karena dia sudah tinggal bersamaku beberapa saat ini. Bahka aku belum punya cincin lamaran Mom, ...."


"Tampaknya daripada Amanda kau lebih nyaman dengannya Ibu lihat."


"Iya semuanya lebih bisa dibicarakan terbuka. Dia bukan orang yang pecemburu. Dia mempercayaiku seperti aku memperayainya. Mungkin karena dengan Amanda bidang perkerjaan kami berbeda jauh. Jadi semua pembicaraan lebih mudah dipahami." Mom mengangguk. Dia berpikir sebentar. Lalu bicara lagi.


"Bagaimana jika kita percepat saja, Mom and Dad akan ke Italia untuk tahun baru sekaligus kau melamar di depan keluarganya. Kau belum memberinya cincin pertunangan bukan, sekarang kau hanya harus menemukan cincinnya segera dan menelepon orang tuanya untuk mengatur acara kejutan ini..." Aku sekarang terkejut.


"Kau ingin begitu Mom? Mom punya waktu di tahun baru?"


"Tentu saja, Mom tahun baru ini tak berencana kemanapun sebenarnya, kita percepat semuanya jika kalian berdua sudah sepakat untuk menikah. Tapi kau harus menelepon orang tuanya dulu untuk merencanakannya sebagai pesta kejutan."


"Pesta kejutan..." Kelihatannya akan menjadi kejutan manis untuk Kate. "Baiklah aku akan menelepon Ayahnya segera, kita mengundang mereka makan malam private bukan begitu Mom."


"Iya, Mom akan menemukan restoran di Chianti segera. Kau perlu memberi Mom alamat lengkap wineyard mereka. Agar kita mencari tak terlalu jauh. Oke, segera kita bicarakan tanggal pernikahan kalian setelah itu."


"Aku akan melakukannya segera Mom."


Aku tak sabar untuk menantikan moment tahun baru sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=$$\=\=\=\=\=\=\=\=


POV Kate


"Aku akan menyusul tanggal 28, tapi aku akan disana sampai tanggal 6, tapi aku harus ke Milan tanggal 4 setelah tahun baru karena perkerjaan. Sementara kau harus pulang tanggal 3." Nathan sekarang mengantarku ke bandara. Tak sabar untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu, tapi juga akan berpisah dari Nathan untuk sementara.


"Hmm baiklah, ..."


"Bersenang-senanglah disana oke. Kebun anggur yang kau impikan ada didepan matamu..." Iya aku tak sabar berada di hamparan kebun anggur di udara mediterania. Sayang aku pergi saat musim dingin, di musim ini tinggal pokok anggur, daun-daunnya mungkin telah gugur, panen anggur pasti telah selesai.


"Aneh bukan, ternyata Ibuku punya mimpi yang sama. Dia juga menyukai pertanian sama sepertiku. Dulu aku ingat dia sering menceritakan padaku wineryard. Kurasa dari sana aku punya mimpi ingin punya wineyard sendiri."


"Dia Ibumu...Tentu saja kalian punya kesamaan." Kami sampai ke gerbang keberangkatan.


"Jangan membatalkan jadwalmu oke, kau harus datang." Aku ingin dia kesana bertemu dengan Mom. l


"Aku pasti datang. Pergilah." Dia mencium keningku sebagai tanda perpisahan sementara aku memeluknya erat. Aku akan merindukannya sekarang.


"Bye ..." Aku melampai padanya dan masuk ke antrian pemeriksaan masuk bandara dengan hati gembira.


Chianti aku segera datang, walaupun aku harus melewati perjalanan selama 11 jam dulu dari NY ke Florence, setelah itu satu setengah jam lagi ke tempat Ibu.





Ayah dan Ibu melambai padaku. Perhatianku tertuju pada Ibu. Dia nampak tersenyum lebar melihat kedatanganku. Dia masih terlihat cantik di umurnya yang sudah pertengahan 50 tahun. Semoga mereka tetap sehat lebih lama lagi untuk meƱebus waktu mereka yang hilang. Aku sedih membayangkan Ibu dihukum kakek karena berkali-kali mencoba lari bersama Ayah. Sementara aku bersalah karena berusaha menghindarinya karena aku tak tahu cerita mereka sebenarnya.


"Mom..." Aku berjalan ke depannya dan berlari memeluknya sambil membawa koperku. Begitu pula dia menyongsongku.


"Katya sayang..." Sesaat dia hanya terisak saat memelukku. "Aku sangat merindukanmu..." Dan kami bertangisan dengan puas sekarang. Memeluk erat sama lain dengan Ayah yang memeluk kami berdua. Dua orang wanita yang sangat dicintainya.


"Maafkan aku pernah mengacuhkanmu Mom. Aku juga sebenarnya merindukanmu, tapi aku ..."


"Tak apa, sudah tak apa. Ibu mengerti... Semuanya saat itu sulit dijelaskan, kau tak bersalah pada Ibu. Nasib kami yang terlalu buruk, kami membuatmu merasa ditinggalkan."


"Tidak, kalian sangat hebat masih tetap berusaha bersama setelah semuanya. Aku bangga pada kalian, tapi kalian akan bersama sekarang tak akan dipisahkan lagi. Jangan tinggalkan Dad lagi, lihatlah sekarang dia terlihat begitu bahagia." Mom dan Dad tertawa kecil menanggapi perkataanku.


"Kemarin kau menangis waktu aku meninggalkan NY, sekarang kau bilang jangan tinggalkan Mom. Apa yang kau mau sebenarnya." Ayah merangkulku dan menyentuh hidungmu yang memerah karena habis menangis haru.


"Itu hanya terbawa perasaan Dad. Ayah yang terlalu emosional menanggapiku." Ayah tertawa.


"Kalian tahu penerbangan ini lama sekali, untung aku bisa melewatinya dari NY, beberapa bulan sebelumnya aku terbang dari LA ke Catania."


"Ohhh kau ke Catania?"


"Mengunjungi pernikahan teman di awal musim panas lalu, dia punya wineyard juga tapi sangat besar, sekaligus dengan pengolahan anggur, olive oil dan hotelnya. Tapi sekarang aku mau ke rumahmu Ibu, aku perlu tempat tidur yang datar sekarang, sebelum berkeliling ke kebun anggurmu. Kau tahu aku selalu memimpikan punya wineyard sendiri Mom, ternyata kau punya... Ternyata kita punya mimpi yang sama." Aku selalu ingin mengatakan ini padanya saat bertemu.


"Tentu saja. Kau putriku, kita punya banyak kesamaan."


Kami mengemudi ke tempat Ibu kemudian. Ayah yang membawa mobil sementara aku dan Ibu mengobrol dengan ribut di belakang. Aku bisa memeluknya seperti masa remajaku dulu. Dad rela menjadi sopir kami sekarang tanpa mengeluh.


"Kau sekarang punya tunangan, sebentar lagi akan menikah. Ibu meninggalkanmu di umur 15 sekarang bertemu denganmu kau akan menikah." Ibu membelai rambutku sementara kami bercerita, rasanya seperti ditembakkan ke masa lalu saat kami masih bersama dengan bahagia.


"Belum Mom, dia baru melamar secara pribadi, kami belum membuat rencana berikutnya. Masih banyak yang perlu disiapkan kurasa."


"Benarkah... Kurasa jika dia sudah bersedia datang kesini tak akan lama lagi. Ayahmu bilang dia orang yang bisa dipercaya menjagamu. Dan kau sudah bertemu Ibu Mertuamu bukan?" Ibu bertanya lagi soal Nathan.


"Iya Mom, dia sangat ramah. Kurasa aku beruntung mendapatkan Ibu mertua seramah itu."


"Itu sangat bagus, apa dia tinggal di NY juga?" Mommy tersenyum melihatku yang bercerita dengan senang sekarang.


"Tidak dia tinggal di Chicago."


"Mom dan Dad akan bersamamu jika nanti kau mempersiapkan pernikahan. Kami berhutang banyak waktu bersamamu."


"Terima kasih Mom." Aku memeluk dan mencium pipinya sekarang. Bersyukur kami masih diberikan waktu seperti ini.


Rasanya bagai mimpi, menghabiskan waktu di Natal ini bersama Mom dan Dad lagi. Dengan hiasan natal meriah, perkebunan anggur di musim dingin dengan pemandangan luar biasa. Bibi dan keluarganya ikut menemani kami di Chianti beberapa hari kemudian. Suasana rumah Mom ramai sekali, banyak makanan terutama karena mereka senang sekali memasak bahkan Ayah juga memasak membantu Ibu. Sementara aku dan dua sepupuku harus menghabiskan apa yang mereka sediakan.