
"Monica,...kejutan kau meneleponku secepat ini." Suara baritonnya terdengar merdu di telingaku.
"Aku baru mendapat kesepakatan, Guilio setuju, dapatkan tanahnya untukku, dan kita akan duduk membahas penyertaan modal, syarat-syarat kemitraan akhir minggu depan duduk bersama dengan Guilio." Aku meneleponnya segera setelah Guilio setuju.
"Aku gembira ini berhasil. Baik aku akan bekerja mendapatkan tanahnya segera. Tunggu kabar baik dariku. Dan akhir pekan aku pastikan aku ada disana bertemu Guilio."
"Semangkin cepat kau mendapatkan tanahnya, semangkin cepat aku bisa memulai pekerjaan pre-rekonstruksi."
"Baiklah. Aku akan mengaturnya segera. Jika aku sudah ada di tempatmu."
Aku sedang bersemangat sekarang. Ibupun ikut gembira kami akan punya winery sendiri.
"Mom, antara kita berdua saja dulu oke. Lucas itu perlu dihajar. Dia memberiku janji palsu, jika dia tahu kita mengatur membeli melalui orang lain dia akan sangat berhati-hati."
"Sebenarnya aku sudah tak percaya saat kau bilang dia bersedia menjualnya padamu. Dari dulu dia selalu iri pada kita. Bagaimana mungkin dia bersedia menjualnya pada kita."
"Dia bicara manis sekali Ibu, kau harusnya dengar sendiri apa yang dikatakannya."
"Kau tahu kenapa dia menjual tanahnya. Dia ingin pindah ke kota, membeli rumah disana, kabarnya anak perempuannya menikah dengan bossnya sendiri. Dan dia merasa hidupnya sudah terjamin sekarang. Dia merasa dia tak usah bekerja mengurus pertanian lagi, dan anak laki-lakinya ingin berbisnis kafe di kota tidak ingin meneruskan pertanian..."
"Hmm... mungkin hasil penjualan tanahnya memang cukup untuk pensiun Ibu. Tak bisa disalahkan."
"Tidak salah memang, aku juga tak mengatakan apapun, tapi aku sakit hati, istrinya Lucas menyinggungmu di pertemuan kemarin. Aku lebih bangga padamu ribuan kali yang membuat uangmu sendiri."
"Sudahlah Ibu, mungkin dia hanya terlalu berbahagia. Nanti bayangkan saja saat dia tahu sebenarnya tanahnya kita yang membeli. Dia akan dapat kejutannya..."
"Tentu saja Ibu, Ayah pasti bahagia. Dan Ibu bisa pamer Ibu." Kami tertawa bersama."Apa Ibu ingin pensiun Ibu?" Aku tetap bertanya walaupun aku tahu dia menikmati pekerjaannya setiap hari. Hanya agar dia merasa diperhatikan. Ayah sudah tak ada hanya aku yang bisa menjaganya sekarang.
"Apa yang kau katakan heh? Ibu terkenal sebagai pemilik restoran di sini, dipuji karena masakan Ibu setiap hari, cuci mata dengan pria-pria tampan setiap hari, pensiun, kau pasti bercanda." Aku Tertawa dan memeluknya sekarang.
"Aku hanya ingin Ibu bahagia... Apapun yang Ibu inginkan aku akan berusaha memenuhinya." Ayah sudah bertahun-tahun tak ada, di awal kehilangan Ayah aku tahu dia sangat terpukul, pertanian ini jadi terbengkalai. Bagaimana aku tak kembali menemaninya. Tak mungkin aku mengajaknya ke Milan, hatinya disini. Tapi disaat yang sama dia juga kehilangan Ayah. Aku harap tamu-tamu ini dan keberadaanku disini bisa mengisi hatinya yang kesepian sejak ditinggalkan Ayah.
"Putriku, yang Ibu inginkan melihatmu bahagia. Tak ada yang lain..."
"Aku bahagia Ibu. Jangan khawatir padaku." Dia melihatku dan menggengam tanganku.
"Jika yang pertama gagal, akan ada yang lain Monica. Jangan mengatakan semua laki-laki sama dengan Raoul, asal kau tak menutup dirimu, kau akan menemukan seseorang."
"Tidak Ibu, jika aku percaya menemukan seseorang pada saatnya, aku akan mengikuti suara hatiku."
"Ibu selalu berdoa untuk kebahagianmu."
"Dan aku selalu menginginkan Ibuku bahagia dan tersenyum."
"Kita akan menjadi pemilik winery, bagaimana Ibu tak bahagia. Restoran kita dan penginapan akan tambah luas. Akan ada banyak tamu yang membuat kita sibuk, apa lagi yang Ibu minta..."
Selama Ibuku bahagia, apalagi yang kuminta. Biarlah Tuhan yang memberi sisanya.