
Sisa malam itu kami menghabiskan makan malam kami tanpa pertengkaran. Tanpa harus merasa marah satu sama lainnya untuk pertama kalinya.
"Kenapa kau berubah. Kenapa kau meneleponku kemarin dan mengajakku makan malam." Sebuah pertanyaan saat kami kembali ke mobil setelahnya.
"Apa yang berubah?"
"Kupikir kau akan masih marah padaku dan menyalahkanku soal Ryohei. Kupikir kemudian kau akan bersikap seperti kau yang sebelumnya. Memasang muka ramahmu agar aku tak tersinggung." Ternyata dia penasaran.
"Aku mungkin mendengarkan sudut pandang dari orang lain. Sebelumnya ku pikir kau hanya marah padaku karena rivalitas dengan Ryohei."
Dia diam mendengar jawabanku.
"Apa terlihat begitu? Siapa yang memberimu sudut pandang yang lain? Apa yang dikatakannya tentangku."
"Temanku Mio, setelah kedatanganmu yang hanya lima menit itu, dia bilang kau sebenarnya hanya merindukanku, dia malah bilang kau sangat manis..." Dia tersenyum padaku sekarang.
"Aku harus mengatakan terima kasih kepada Mio jika ke Gion." Dan tertawa kecil kemudian walaupun pandangannya tetap ke jalan. Dia tak mengakuinya secara langsung. Tapi dia ingin berterima kasih ke Mio. Kurasa itu cara dia mengatakan semua yang dikatakan Mio benar.
Aku juga tak bisa mengatakan apapun soal itu.
Sesampainya dirumah kurasa aku lebih merasa berdebar lagi. Ada hal yang belum jelas dari semua ini. Perjalanan pendek dari Hotel di Nishinjuku ke Minato yang hanya dua puluh menit tidak cukup bagiku untuk menyiapkan diri. Menyiapkan mentalku untuk menghadapinya hanya berdua saja.
"Kalian bisa kembali." Dia mengatakan perintah mengakhiri tugas untuk para pengawalnya.
"Baik Tuan." Dan aku masuk ke dalam, setelah membuka sepatuku dengan cepat.
"Setsuko, aku ingin bicara." Dan aku tak akan bisa menghindari pembicaraan ini sekarang. "Ikut aku,..." Dia menangkap tanganku, jikapun aku ingin lari karena gugup aku tak akan bisa sekarang.
Dia tidak bicara dan membawaku ke sebuah ruangan di lantai dua. Aku tak tahu itu ruangan apa, tapi setelah dia menyalakan lampunya aku sadar ini kamarnya.
"Kenapa kita disini." Apa dia ingin melakukan sesuatu. Secepat itu? Apa harus secepat itu. Pikiranku langsung mengarah ke hal terburuk.
"Aku hanya ingin bicara denganmu." Dia tersenyum kecil. "Ini hanya kamarku."
"Bicara apa..." Suaraku mungkin terlalu kecil untuk didengarkan.
"Apa Ryohei-san masih menemuimu?" Dia berdiri didepanku. Sementara rasanya lututku lemas.
"Tidak. Jangan membuat masalah dengannya. Kau tak perlu berkelahi karena aku."
"Aku tak mengatakan aku akan berkelahi. Yang aku ingin tanya, apa kau ... percaya pada yang perkataan Mio." Aku menatapnya, dia hanya berdiri didepanku, bahkan tak berani menyentuhku kurasa dia mungkin sama berdebarnya denganku.
Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan. Bahkan tak berani memandangnya kemudian. Tak disangka dia merengkuh tubuhku dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku memang merindukanmu, aku naik kereta cepat terakhir ke Kyoto malam itu untuk menemuimu. Saat itu kurasa aku sudah gila. Aku bahkan tak punya pekerjaan di Kyoto jika kau ingin tahu, ..."
Entah apa yang kulakukan kemudian. Aku membalas pelukannya.
"Harusnya kulempar saja kau saat kau datang." Dia tertawa.
"100% aku akan menerima lemparanmu dan aku akan membalasmu dengan menciummu lagi disana. Aku sangat cemburu memikirkan kau tersipu didepan Ryohei sialan itu." Aku sekarang yang tertawa dalam pelukannya, pengakuan ini rasanya sangat lucu dan memaksa. Tapi entah kenapa aku menyukainya.